Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Substansi Ceramah Untung Cahyono saat Jadi Khotib Salat Idul Fitri Tak Masalah, Forumnya yang Tidak Tepat

Adib Lazwar Irkhami • Senin, 15 April 2024 | 14:05 WIB

 

Halili Hasan (Direktur Eksekutif Setara Institute dan dosen Fishipol UNY).
Halili Hasan (Direktur Eksekutif Setara Institute dan dosen Fishipol UNY).

 

RADAR JOGJA - Video viral Untung Cahyono ketika menjadi khotib Idul Fitri 1445 H di Lapangan Tamanan Bantul turut direspons pengamat politik. Salah satunya Direktur Eksekutif Setara Institute dan Dosen Fishipol UNY Halili Hasan
"Substansi yang disampaikan Untung Cahyono menurut saya tidak masalah. Hanya forumnya yang tidak tepat," katanya kemarin (14/4).


Menurutnya, banyak forum lain yang lebih tepat untuk menyampaikan berbagai kritik terhadap pemerintah. Biasa melalui opini media, kuliah tertulis atau voice note di grup-grup WA, vlog, podcast, dan lain sebagainya.


"Sudah selayaknya pesan-pesan umum keagamaan disampaikan di forum-forum keagamaan, termasuk amar makruf nahi munkar," ujarnya.


Dari situ para pemuka agama masih bisa menyampaikan kritik kepada pemerintah sebagai bagian dari nahi munkar. Misal 'pemerintah jangan korupsi dan memberikan peluang bagi kroninya untuk melakukan korupsi. Jangan menyalahgunakan kekuasaan secara melanggar etika, semata-mata untuk kepentingan keluarga dan yang lain'.


"Jadi mimbar ceramah tetap bisa digunakan untuk menyampaikan kritik. Namun perlu pilihan-pilihan narasi yang tepat, mengingat integrasi dan kohesi sosial dalam kebinekaan harus terus dijaga," ucapnya.


Kata Halili, setiap kritikan sebenarnya bisa disampaikan secara terbuka, termasuk di atas mimbar agama sekalipun. "Bayangkan kalau semua harus disampaikan secara personal, itu pasti akan sangat rumit, baik teknis maupun efektivitasnya," jelasnya.


Kalau kemudian umat mengambil sikap atas narasi-narasi politik yang disampaikan oleh pemuka agama, dikatakan, itu pertanda baik. Sebagai warga mereka sudah tak lagi apatis.


"Saya kira tidak perlu filter materi khotbah oleh panitia. Sebab, akan menjadi politis juga kalau panitia diberi ruang untuk melalukan sensor. Kembalikan saja kepada umat. Semua pihak mesti belajar," tegasnya.


Umat belajar dari pemuka agama, termasuk dari khotbah yang disampaikan dalam bentuk kritik. Pemuka agama juga mesti belajar menyampaikan dan menyaring sendiri soal apa yang patut atau tidak patut untuk disampaikan. Serta belajar mengidentifikasi forum yang tepat untuk menyampaikan sesuatu secara tepat pula. (gun/laz)

Editor : Satria Pradika
#ceramah #Dosen Fishipol UNY #Khotib Salat Idul Fitri