RADAR JOGJA - Ada yang berbeda dari pelaksanaan tradisi kebudayaan Garebeg Syawal 1445 Hijriah yang digelar oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Kamis (11/4).
Tradisi Garebeg dari hasil bumi gunungan yang biasanya jadi rebutan masyarakat, kini hanya dibagi-bagikan ke warga yang menyaksikan oleh pihak Keraton.
Tradisi budaya itu disaksikan ratusan masyarakat yang antusias menunggu puncak dari pegelaran itu yakni berebut hasil bumi dari gunungan yang diarak itu.
Setidaknya, lima gunungan hasil bumi di arak-arak ke dalam pelataran Masjid Gedhe Kauman dengan dipikul masing-masing 20 orang mengenakan baju berwarna merah lengkap dengan blankon yang dikenakan di kepala.
Gunungan hasil bumi itu dipercaya masyarakat dapat membawa ke berkahan bagi orang yang berhasil mendapatkannya.
Kahartakan Keraton Yogyakarta KMT Sarihartokodipuro mengakui, masyarakat tidak diperbolehkan untuk rebutan gunungan seperti tradisi-tradisi grebeg Syawal sebelumnya.
Menurutnya, hal itu agar semua berjalan dengan baik dan diperoleh oleh semua warga yang datang menyaksikan.
"Pembagian dibantu dari TNI/Polr, Pambudaya dan keamanan, dan Alhamdulillah berjalan lancar," ujar KMT Sarihartokodipuro.
Konsep pembagian pada tradisi Garebeg Syawal itu, seperti di era kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono VIII dan dilaksanakan kembali ke era sekarang.
KMT Sarihartokodipuro menjelaskan, jika dilaksanakan dengan berebut banyak warga yang berdesak-desakan jatuh dan lain sebagainya yang membahayakan keselamatan.
"Dikembalikan seperti semula dengan pertimbangan tidak ada kejadian-kejadian yang seperti itu, dan semua masyarakat tadi juga mendapatkan hasil bumi dari gunungan itu," ucapnya.
Tak hanya itu, kata KMT Sarihartokodipuro, pada tradisi grebeg-grebeg sebelumnya, banyak masyarakat yang kehilangan dompet, terluka bahkan hingga pingsan.
KMT Sarihartokodipuro memastikan proses pembagian hasil bumi dari gunungan itu akan terlaksana pada tradisi-tradisi garebeg selanjutnya.
Menurutnya, dengan membagikan langsung ke masyarakat dapat lebih tertib, lebih aman dan memiliki nilai manfaat yang sangat besar.
Editor : Heru Pratomo