Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Prosesi Numplak Wajik Awali Garebeg Syawal 1445 Hijriyah yang Diselenggarakan Keraton Jogjakarta

Khairul Ma'arif • Selasa, 9 April 2024 | 04:14 WIB

Abdi dalem menata ubo rampe pelengkap gunungan Garebeg Syawal dalam ritual tumplak wajik di Panti Parede Magangan, Kompleks Keraton Jogja, Senin (8/4).
Abdi dalem menata ubo rampe pelengkap gunungan Garebeg Syawal dalam ritual tumplak wajik di Panti Parede Magangan, Kompleks Keraton Jogja, Senin (8/4).
Abdi dalem menata ubo rampe pelengkap gunungan Garebeg Syawal dalam ritual tumplak wajik di Panti Parede Magangan, Kompleks Keraton Jogja, Senin (8/4).
Abdi dalem menata ubo rampe pelengkap gunungan Garebeg Syawal dalam ritual tumplak wajik di Panti Parede Magangan, Kompleks Keraton Jogja, Senin (8/4).

 

 

JOGJA - Keraton Jogjakarta akan menggelar Garebeg Syawal 1445 Hijriah, pada Kamis (11/4). Prosesi tersebut diawali adanya numplak wajik terlebih dahulu. Numplak wajik dilakukan di Panti Pareden, Kompleks Magangan Keraton Jogjakarta,  Senin (8/4).

Prosesi berlangsung sekitar 60 menit. Diawali dengan doa dari abdi dalem. Sejumlah masyarakat juga ada yang menyaksikan prosesi ini. Lantunan suara gending bersahutan selama prosesi numplak wajik ini. Sejumlah abdi dalem menata tempat numplak wajik terlebih dahulu.

Mandegani Kanca Keparak GKR Condrokirono mengatakan, numplak wajik ini sebagai persiapan untuk Garebeg Syawal. Maknanya untuk keselamatan semuanya. Pelaksanaan kali ini ada beberapa perubahan. Karena ada tambahan ke Dalem Mangkubumen. “Jadi gunungan jumlahnya lima," katanya, Senin (8/4).

Menurutnya, gunungan itu merupakan pemberian raja kepada masyarakatnya. Untuk prosesi tahun ini nanti tidak ada rayahan. Itu lantaran karena pada dasarnya gunungan itu bukan rayahan tetapi dibagi dari raja untuk masyarakatnya. Meski begitu, nanti masyarakat tetap bisa hadir untuk menyaksikan. "Jadi nanti dibagi kami kembalikan seperti dulu lagi," tuturnya.

Terdapat penyesuaian pelaksanaan Garebeg Sawal tahun ini. Keraton Jogjakarta akan menyediakan lima jenis gunungan, yakni dua Gunungan Kakung, satu Gunungan Estri, satu Gunungan Gepak, satu Gunungan Darat, dan satu Gunungan Pawuhan.

Gunungan yang telah diinapkan semalam di Bangsal Pancaniti, Kamandungan Lor, akan dibawa oleh Narakarya (kanca abang) melalui Regol Brajanala-Sitihinggil Lor-Pagelaran-keluar lewat barat Pagelaran menuju Masjid Gedhe. Selama pelaksanaan Hajad Dalem Garebeg Sawal, kompleks Kamandhungan Kidul, Kemagangan, Kedhaton dan Kamandungan Lor (Keben) akan ditutup bagi masyarakat umum. Ditutupnya Kompleks Kemandungan Lor bagi masyarakat umum karena akan digunakan sebagai lokasi para prajurit beristirahat sekaligus menjaga ketertiban dari prosesi Hajad Dalem. Pada waktu yang sama tengah berlangsung prosesi Ngabekten Kakung di dalam Keraton.

 Baca Juga: Garebeg Syawal, Drone Dilarang Terbang di Atas Keraton

Meski demikian, masyarakat dapat menyaksikan jalannya upacara Garebeg secara langsung di Bangsal Pagelaran dan Halaman Masjid Gedhe Keraton Jogjakarta. Pada pelaksanaan kali ini, masyarakat dapat pula berpartisipasi mendapatkan bagian gunungan di Pelataran Masjid Gedhe dan Pura Pakualaman.

Sementara untuk Kompleks Kepatihan, akan dibagikan sejumlah 50 ubarampe gunungan berwujud rengginang untuk para Aparatur Sipil Negara. Terdapat satu titik tambahan yang menjadi lokasi pembagian ubarampe gunungan, yakni Ndalem Mangkubumen, yang juga akan menerima sejumlah 50 buah.

Ndalem Mangkubumen dulunya merupakan tempat tinggal KGPH Mangkubumi, adik Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Pun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI. “Ndalem ini sebelumnya juga merupakan tempat tinggal Sri Sultan Hamengku Buwono VII sewaktu masih menjadi putra mahkota dengan nama Pangeran Hangabehi,” jelas Penghageng Kawedanan Reksa Suyasa KRT Kusumanegara.

 

Setelah melalui proses kajian, dasar sejarah inilah yang menjadi alasan pembagian pareden di Ndalem Mangkubumen dilakukan kembali saat prosesi Garebeg Sawal pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono X ini. (rul/din).

Editor : Din Miftahudin
#keraton jogjakarta #keraton jogja #Numplak wajik