RADAR JOGJA - Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ melakukan antisipasi kemungkinan terjadi kecelakaan lalu lintas di jalur ekstrem menuju objek wisata semasa libur Lebaran. Setidaknya banner berisi informasi peringatan gunakan gigi rendah dipasang di tiga jalur wisata yang ekstrem dilalui kendaraan berdimensi besar atau bus pariwisata.
Plh Kepala Dishub DIJ Sumariyoto mengatakan, banner berisi informasi peringatan bagi pengguna jalan, utamanya driver bus pariwisata dipasang di tiga jalur wisata ekstrem. Yakni menuju Watu Goyang (Bantul), desa wisata Nglanggeran ke utara yang merupakan turunan panjang menikung (Gunungkidul), dan sekitar jalur wisata hutan pinus Pengger kemudian turun ke Imogiri (Bantul).
"Di titik itu saya pasang banner informasi gunakan gigi rendah sekarang. Harus mulai dari titik banner itu ada, gunakan gigi rendah," kata Oyot, sapaan akrabnya. Dia menjelaskan pihaknya juga melakukan pantauan secara rutin, terutama di ruas jalur wisata ekstrem menuju objek wisata.
Menurutnya, sejatinya dengan melihat medan jalan yang ada dan tetap mengutamakan hati-hati, jalan itu sangat aman dilalui. Terutama Bukit Bego. "Cuma masalahnya kalau kendaraan itu berbadan besar dan bebannya berat pada saat turunan panjang, memang agak sulit dikendalikan," ujarnya.
Demikian informasi lain juga dipastikan dipasang di sana terkait memastikan kendaraan yang digunakan layak. Hal ini sebagai salah satu upaya untuk mengedukasi kepada para penumpang. "Kalau memang tidak layak, tidak tahu medan, ya jangan lewat situ, intinya begitu," jelasnya.
Tak kalah penting adalah soal kelayakan bus menjadi penting sebelum dibawa bepergian. Maka transportasi darat seperti bus pariwisata dituntut mampu memberikan perawatan, salah satunya uji kelayakan atau uji kir.
Imbauan selalu disampaikan instansi ini kepada operator bus untuk selalu memperhatikan standar kelayakan kendaraannya. Terutama sebelum bepergian untuk berwisata ke suatu daerah.
"Kami selalu sampaikan, tidak hanya pada saat long weekend, terutama pada pelaku transportasinya ya. Untuk selalu memperhatikan kelayakan kendaraannya," terangnya.
Menurutnya, kelayakan kendaraan terutama bus pariwisata menjadi penting sebab membawa penumpang yang tak sedikit. Terlebih, pengujian kelayakan atau uji kir tanpa dipungut biaya atau gratis.
"Maka sudah dipastikan mereka yang nggak mau uji itu bukan karena keberatan bayarnya. Karena memang kendaraannya potensi tidak lulus," tambahnya.
Dia juga mengimbau kepada masyarakat khususnya penumpang agar memahami ketika hendak memilih bus pariwisata yang resmi. Tidak hanya sekadar mencari yang murah saja.
"Kan kalau dari operator pada susah ya kami beritahukan kepada penumpangnya. Kalau bus ini tidak dilengkapi dengan dokumen yang sah, sehingga penumpang yang ngamuk ke operatornya," sambungnya.
Menurutnya, masyarakat awam disebut bisa memilih atau memetakan bus pariwisata yang resmi dan telah lolos uji kelayakan melalui aplikasi Mitra Darat yang dibangun oleh Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub. (wia/laz)