JOGJA - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY memperpanjang waktu pengosongan 8 depo di Kota Jogja hingga 15 April mendatang.
Sebelumnya, pengosongan dilakukan hingga 3 April, berdasar evaluasi maka diperpanjang.
Hal ini untuk menghadapi libur Lebaran mengantisipasi depo semakin membludak.
Kepala DLHK DIY Kusno Wibowo mengatakan, untuk menghadapi liburan Idul Fitri pihaknya menaruh perhatian khusus dengan kondisi di Kota Jogja.
Terlebih, kondisi 8 depo di Kota Jogja penuh pekan lalu.
Berdasar evaluasi dengan Pemkot Jogja untuk mengantisipasi makin membludak,
pihaknya akan melayani tambahan kuota 1.000 ton pembuangan sampah dari Kota Jogja. Hal ini lantaran skenario pengosongan yang sedang dilakukan kota.
"Memang hari Jumat kemarin (5/4) kita ada evaluasi, bahwa disana (Kota Jogja) memang ada skenario untuk pengosongan depo-depo," katanya kepada Radar Jogja Minggu (7/4).
Kusno menjelaskan, untuk melayani pengosongan depo di Kota Jogja tersebut maka TPST Piyungan disiapkan penambahan kuota pengangkutan khusus sebanyak 1.000 ton.
Dipastikan, untuk menampung hingga 15 April sesuai perhitungannya, Piyungan masih mampu menampung sampah tambahan diluar kuota reguler.
Awalnya kuota untuk pengosongan ini hanya 150 ton sampai 3 April.
"Ternyata juga nggak begitu signifikan, kemudian kita ada kesepakatan untuk pengosongan pak sekda juga sudah menyepakati adanya 1.000 ton untuk pengosongan depo-depo yang ada di kota Jogja. Itung-itungan kami masih mencukupi (kapasitasnya), setelah itu nanti yang sudah tidak maka kemudian desentralisasi secara penuh paska April ini," ujarnya.
Adapun, skenario pengosongan 1.000 ton untuk seluruh depo di Kota Jogja dilakukan dua tahap.
Tahap pertama pengosongan dilakukan sebelum Idul Fitri sampai 9 April dengan kuota tambahan 500 ton. Dan tahap kedua dilakukan setelah Idul Fitri Jumat (12/4) hingga 15 April dengan kuota tambahan 500 ton.
"Sampai sekarang masih berjalan, sampai tanggal 9 (April) masih ada layanan di TPA Piyungannya. Libur layanan tanggal 10, 11 itu memang kami libur layanan," jelasnya.
Dalam upaya pengosongan ini, Kusno menyebut Kota Jogja mengerahkan 30-35 armada pengangkut sampah.
Adapun, dari 8 depo yang ada mengalami kendala beragam.
Mulai dari kapasitas terbesar berada di depo Stadion Mandala Krida, perlu ekstra petugas melakukan pengosongan.
Kemudian depo Katamso, kendala terjadi karena adanya lalu lintas kendaraan yang cukup ramai menghambat kendaraan pengangkut sampah yang hendak keluar masuk.
Sementara depo terletak persis di ruas Jalan Brigjen Katamso.
"Ini yang mungkin untuk ada prioritas termasuk di Pengok pinggir jalan. Mungkin yang prioritas 3 itu dari 8 depo," terangnya.
Penambahan kuota untuk Kota Jogja itu diluar kuota reguler yang ditetapkan 350 ton per hari untuk Sleman, Bantul, dan Kota Jogja.
Selain itu, Sleman dan Bantul disebut juga siap-siap akan mengajukan penambahan kuota untuk mengantisipasi adanya kontraksi sampah paska Lebaran.
"Sleman dan Bantul juga masih minta tambahan kuota. Kemarin suratnya Sleman 104 ton, untuk Bantul 88 ton dan ini kita sepakati nanti paska lebaran," bebernya.
Meski demikian, diharapkan kabupaten dan kota bisa melakukan tata manajemen pengolahan sampah yang lebih baik lagi.
Terlebih, sudah mendekati pengolahan sampah desentralisasi secara penuh paska April mendatang. Konsekuensinya, sudah tida ada lagi pengangkutan sampah ke TPST Piyungan seperti biasanya.
"Karena untuk desentralisasi sudah berjalan paska April ini. Nanti harapannya sampah dikelola untuk kabupaten kota. Ya nanti harapannya sudah selesai di kabupaten kota dan Jogja tambah lebih bersih lagi," harapnya.
Editor : Bahana.