Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tiket Pesawat ke Jogja Mahal, Wisatawan Ogah Datang, Asita dan GIPI Minta Pemerintah Berikan Solusi

Elang Kharisma Dewangga • Senin, 1 April 2024 | 13:00 WIB

 

ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - Mahalnya harga tiket pesawat ke Jogja dikeluhkan banyak kalangan, terutama pelaku industri pawisata di kota ini. Maklum, Jogja sudah dikenal sebagai destinasi utama pariwisata tanah air setelah Bali.

Lalu, apa dampaknya, bagaimana tanggapan Asita, GIPI, konsumen, KPPU, hingga pakar dari Pustral UGM? Berikut laporannya.


Tingginya harga tiket pesawat domestik di Indonesia berdampak domino terhadap kunjungan pariwisata. Di awal-awal mulai naiknya tarif penerbangan di Indonesia sekitar 2020-2021, sempat menjadi gerundelan masyarakat luas.

Tetapi kondisi itu tetap tidak menggoyahkan tarif yang sudah melangit. Malah hingga kini harga tiket pesawat semakin kokoh dan dinormalkan.
Sebagian mungkin ada yang tidak terbebani dengan kondisi ini. Tetapi bukan berarti semua menerima.

Misal dari sektor industri pariwisata yang jelas-jelas sangat terdampak dengan kenaikan harga tiket. Stakeholder pariwisata yang tergabung Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) DIY, sangat mengeluhkan tingginya harga tiket pesawat.


Plt Ketua Asita DIY Edwin Ismedi Himna menegaskan, sudah pasti mahalnya tiket pesawat berdampak pada penurunan kunjungan wisatawan. Khususnya bagi pelancong dari luar Pulau Jawa yang ingin berlibur ke DIY.

Itu lantaran wisatawan di sejumlah daerah di Pulau Jawa memiliki alternatif transportasi. Misalnya kereta api atau bus yang sekarang sudah banyak memanjakan penumpangnya.


"Nah yang jadi masalah besar itu yang dari luar Pulau Jawa," katanya kepada Radar Jogja, kemarin (31/3). Edwin menuturkan, wisatawan luar Jawa sangat terbebani dengan mahalnya harga tiket pesawat. Apalagi sejumlah daerah penerbangannya harus transit, sehingga tidak memperingkas perjalanan.


Menurutnya, penerbangan yang langsung tanpa transit harga tiketnya sudah sangat-sangat mahal hingga tak masuk akal. Dia membeberkan, penerbangan dari Pekanbaru, Riau satu kali jalan ke Jogja harga tiketnya mencapai Rp 1,5 juta untuk satu orang.

 

Kondisi itu membuat wisatawan ogah untuk datang ke Jogja karena mahalnya biaya transportasi. Akibatnya, wisatawan dari Sumatera memilih liburan ke luar negeri. Itu karena harga tiket pesawatnya lebih murah dibanding ke DIJ.


Contoh lain, harga tiket pesawat ke Thailand dari Pekanbaru hanya Rp 700 ribu, ke Malaysia hanya Rp 300 ribu, dan ke Vietnam Rp 1 juta. Sementara untuk ke Jogja harus merogoh kocek sampai Rp 3 juta untuk biaya transportasi pulang-pergi (PP).

Wisatawan lebih memilih ke luar negeri karena dengan budget Rp 3 juta sudah bisa untuk biaya makan dan hotelnya. Sedangkan ke Jogja Rp 3 juta hanya untuk transportasi PP saja dan harus menambah koeck lagi untuk akomodasi selama di Jogja.


"Itu contoh yang riilnya kenapa wisatawan domestik dari Sumatera sangat jauh berkurang ke Jogja," tambah Edwin. Perjalanan darat untuk wisatawan dari luar Pulau Jawa itu memang ada.

Tetapi kondisinya tidak memungkinkan karena waktu tempuhnya yang memakan waktu seharian atau bahkan lebih. Edwin tidak segan mengatakan kondisi ini mengakibatkan sulitnya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan domestik ke DIY.


Menurutnya, itu tidak hanya berlaku untuk wisatawan sendiri ataupun keluarga. Tetapi juga untuk kunjungan kerja atau corporate yang mengadakan gathering di DIY, mahalnya harga tiket pesawat sangat mempengruhi. Dia menambahkan, mahalnya tiket pesawat menjadi satu indikator kuat menurunnya geliat pariwisata. Itu lantaran tidak sedikit wisatawan yang mengeluhkan mahalnya tiket pesawat.


Contoh wisatawan dari Sulawesi, ketika ke Jogja lebih mahal otomatis akan memilih ke Surabaya karena lebih dekat dan harganya lebih murah. Walaupun sama-sama Pulau Jawa, tetapi jarak tempuhnya lebih dekat. "Jadi itu harga tiket pesawat mahal sebagai hambatan pariwisata Jogja, bahkan menurut saya di luar DIY juga begitu," tuturnya.


Edwin menyebut, pasca pandemi Covid-19 banyak unit pesawat berkurang, sehingga otomatis harga tiketnya melonjak dibanding sebelum pandemi. Padahal, menurutnya, sebelum pandemi, harga tiket pesawat ke Jogja dari Jakarta masih di angka kisaran Rp 300 hingga 400 ribu. Sekarang harga itu sudah sangat langka didapati konsumen, karena kisarannya sudah Rp 800 ribu hingga Rp 900 ribu.


Edwin berharap pemangku kebijakan dapat membantu menurunkan mahalnya harga tiket pesawat. Namun dia menyadari tidak dapat mengetahui secara pasti menurunkannya dari sisi mana. Itu lantaran disadarinya, melangitnya harga tiket pesawat disebabkan oleh banyak faktornya.


Di antaranya karena parking fee-nya dan bahan bakarnya yang tinggi dan lainnya. Menurutnya, pemerintah selalu menggembar-gemborkan kolaborasi, tetapi tidak pernah berkolaborasi dengan BUMN yang notabene sesama pemerintah.


Ia menilai, kolaborasi pemerintah dengan BUMN dapat membantu menurunkan harga tiket pesawat yang mahal sekarang ini. Bukan hal tidak mungkin adanya kolaborasi antarkeduanya dapat menurunkan tarif parking fee pesawat sehingga harga tiket bisa turun dari harga sekarang.

Baca Juga: Pesona Negeri Sayur Sukomakmur Magelang, Jalur Pertanian yang Diminati Wisatawan Tawarkan Lanskap Alam hingga Gagahnya Gunung Sumbing


"Kan selalu pemerintah, dalam hal ini tagline sekarang kan kolaborasi, sesama BUMN-lah yang harusnya kolaborasi. Jangan kemudian pelaku wisatawa diminta kolaborasi," ucapnya. Bahkan, kata Edwin, stakeholder industri pariwisata sudah menurunkan harga paket wisata di saat sejumlah harga melonjak pada 2024 ini.


Sementara itu, Ketua Gabungan Industri Pariwisata (GIPI) DIY Bobby Ardyanto mengatakan, mahalnya tiket pesawat menjadi kontraproduktif dengan program Kemenparekraf. Program itu perihal bangga berwisata di Indonesia.


Menurutnya, keadaan itu memaksa berwisata di Indonesia tetapi akses yaitu tiket pesawatnya masih tinggi. Dia mengungkapkan, itu wajar terjadi ketika supply dan demand-nya itu tidak balance.


Suplai sedikit tetapi permintaan tinggi. Oleh karena itu, hanya bisa ditekan kalau pemerintah melakukan subsidi. Tetapi, saat pemerintah tidak melakukan subsidi maka yang terjadi hukum ekonomi. 


"Nah, ini sebenarnya ada dua hal yang pemerintah bisa lakukan, kecuali subsidi ya regulasi. Bagaimana pemerintah cukup tegas untuk regulasi ambang batas atas seberapa," ujar Bobby.

Namun hal itu tidak dilakukan pemerintah, sehingga mahalnya harga tiket terjadi dan tidak hanya di Jogja. Di daerah lain juga kondisinya sama. (rul/laz)

Editor : Satria Pradika
#Kemenparekraf #GIPI #Pustral UGM #Tiket Pesawat Jogja Mahal #Wisatawan