RADAR JOGJA - Kasus demam berdarah dengue (DBD) dalam beberapa waktu terakhir mengalami peningkatan di berbagai daerah, termasuk di DIJ. Apa penyebabnya dan bagaimana efektivitas penyebaran nyamuk Wolbachia untuk menangkal penyakit demam berdarah?
Dinas Kesehatan (Dinkes) DIJ mencatat adanya peningkatan kasus DBD di awal tahun 2024 ini. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Setiyo Harini mengatakan, kenaikan angka kasus DBD, antara lain, karena curah hujan dan cuaca yang berubah ubah di awal tahun .
Namun tidak hanya itu. Peningkatan kasus DBD juga bisa terjadi karena masyarakat sudah lupa dan sudah lama kasusnya turun. Oleh karena itu, masyarakat harus kembali diingatkan.
Menurut catatan yang masuk di Dinkes DIJ, sampai Maret ini terhitung cukup signifikan peningkatan kasus DBD. Misal di Kabupaten Kulon Progo tercatat ada 34 kasus, Bantul 76, Kota Joga 45, Sleman 56, dan Gunungkidul 311 kasus.
"Memang dari angka itu ada beberapa kabupaten yang juga menghitung tidak hanya demam berdarah saja tapi juga demam dengue. Itu tidak masuk kategori berdarah tapi juga terhitung. Oleh sebab itu untuk kewaspadaan semua harus dihitung," jelas Rini kepada Radar Jogja (23/3).
Menurutnya, presentasi kenaikan kasus DBD saat ini naik dari tahun 2023. Jika dilihat sampai bulan Maret bisa dihitung dari tahun lalu ada yang dua kali lipat sampai tiga kali peningkatanya.
"Tapi harapan kami dengan adanya peningkatan ini tetap bisa terkendali. Dan itu bisa jadi pemicu semua kalangan untuk disarankan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3 M," ujarnya.
Ia menjelaskan seperti kasus yang terjadi di Kota Jogja dan Kulon Progo. Dari pengelola programnya mengklaim itu masih landai atau terkendali. Sebab, sampai saat ini tidak ada kasus kematian dan masih terkendali atau kasusnya tidak ada keparahan.
Sementara di Kabupaten Sleman dan Gunungkidul yang angka kasusnya lumayan tinggi, tercatat ada dua yang meninggal dunia. Oleh karena itu hal ini patut diwaspadai bersama.
Hujan dan pancaroba menjadi salah satu faktor naiknya kasus DBD. Sebab nyamuk bisa bertelur di tempat-tempat di manapun yang masih ada air. Kemudian belum waktunya menetas sudah kemarau misalnya. Telur bisa menempel di dinding dan ketika kena air telur bisa menetas, sehingga habitat nyamuk bertambah.
"Jadi memang harus diwaspadai. Bukan hanya air yang di bak mandi dan penampungan air yang di dalam rumah. Tapi juga di luar rumah," tutur Rini.
Dengan adanya Wolbachia, berdasarkan riset memang Wolbachia di Kota Jogja bisa menyebabkan DBD turun kasus hingga 77 persen. Dan itu yang sudah dilakukan penelitian-penelitian tahun lalu.
Saat ini di Kota Jogja sudah ada 45 kasus sampai bulan Maret, tapi tidak ada yang parah. Sebab, dari hasil riset sendiri yang dilakukan oleh tim riset UGM, Wolbachia bisa untuk mengurangi tingkat keparahan kasus.
"Selain mungkin keberhasilan itu juga ditentukan oleh kecepatan rujukan, kecepatan penanganan, tata laksana yang ada di rumah sakit yang bisa mencegah kematian dan keparahan," ungkap Rini.
Terkait kasus kematian, Dinkes DIJ belum bisa menjawab. Karena belum adanya audit terkait kasus itu. Tapi secara teori kematian bisa terjadi karena kelambatan penanganan atau pasien mempunyai penyakit lain atau daya tahan tubun pasien yang kurang. "Sebab semua penyakit itu prinsipnya daya tahan tubuh. Kami masih menunggu hasil auditnya," cetus Rini.
Ia juga mengungkapkan saat ini usia yang mendominasi terkena kasus DBD adalah usia produktif. Sebab di usia produktif itu bisa terkena di mana saja seperti di lingkungan rumah ataupun di lingkungan kerja.
"Dulu kan anak-anak di sekolah. Tapi karena sekarang sudah cukup bagus kebersihan sekolah, maka banyak yang usia produktif," katanya.
Dengan kenaikan kasus DBD di awal tahun ini, maka Dinkes DIJ mengimbau dan berharap agar gerakan PSN 3 M Plus bisa dihidupkan lagi. Karena pencegahan DBD kuncinya adalah perilaku hidup sehat.
"Jadi seperti inovasi Wolbachia itu eksen pendukung, vaksin juga pendukung. Yang utama adalah pencegahan. Harus diingatkan juga karena mungkin ada yang lupa. Dan dari sisi pemerintahan, harus dihidupkan kembali kolaborasi antarsektor," tandas Rini. (ayu/laz)
Editor : Satria Pradika