Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

FKKMK UGM Sebut Teknologi Wolbachia Bisa Turunkan Kasus DBD hingga 70 Persen

Fahmi Fahriza • Senin, 25 Maret 2024 | 15:25 WIB

 

dr Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D  (Direktur Pusat Kedokteran Tropis, FKKMK UGM) 
dr Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D (Direktur Pusat Kedokteran Tropis, FKKMK UGM) 

RADAR JOGJA - Direktur Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM dr Riris Andono Ahmad MPH, Ph.D mengatakan, secara umum efektivitas Wolbachia dalam menekan kasus DBD memang tinggi. Teknologi Wolbachia punya potensi dan pelengkap penanganan DBD karena bisa menurunkan angka kasusnya lebih dari 70 persen.

"Angkanya turun hingga 77 persen. Itu hasil uji klinis di Kota Jogja. Dan itu potensi dari teknologi tersebut bila digunakan," katanya kemarin (24/3).

Ia menjelaskan, teknologi Wolbachia sejatinya sudah lama ada dan yang cukup awal ditemukan oleh peneliti asal Australia. "Sudah lama jadi bahan riset. Diujicobakan pada nyamuk Aedes Aegypti berfungsi sebagai vaksin, karena tidak mampu menularkan virus dengue-nya. Lalu mereka menggandeng UGM untuk kerja sama riset membuktikan dalam skala luas," ungkapnya.

Riris menejelaskan, secara garis besar DBD memiliki siklus, dan salah satunya siklus itu dipengaruhi oleh lingkungan. Misalnya El Nino dan La Nina.

Dikatakan, El Nino menyebabkan suhu yang tinggi dan berdampak pada reproduksi nyamuk yang lebih cepat. Kemudian kemampuan menggigitnya lebih tinggi. Pada sisi populasi siklus itu bisa jadi salah satu penyebab meningkatnya kasus DBD.

"Faktor cuaca dan kebersihan lingkungan itu berpengaruh sangat tinggi terhadap naiknya kasus DBD. Sebagian besar populasi kita itu punya kekebalan. Ketika banyak nyamuknya, kadar imunitasnya sedang rendah dan kasusnya mungkin akan tinggi," tambahnya.

Lebih lanjut Riris memperkirakan, dengan berkurangnya curah hujan maka kasus DBD juga diproyeksikan akan melandai. Namun saat ini yang terjadi, salah satunya siklus hujan yang masih hilang timbul hingga menyebabkan banyak terciptanya genangan air. Dan itu menjadi penyebab lain faktor peningkatan kasus DBD.

Untuk saat ini diakui belum semua wilayah di DIJ disebarkan Wolbachia. Alasannya, teknologi ini hanya cukup efektif disebarkan di lingkungan padat penduduk.

"Tergantung luasan wilayah dan kapasitas penduduknya. Pemerintah resources-nya juga terbatas. Kita pilih yang padat penduduk, karena lebih efektif secara capaian," tandas Riris. (iza/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#UGM #fakultas kedokteran #wolbachia