JOGJA - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY memproyeksikan bahwa panen raya di wilayah DIY akan terjadi pada April dan Mei 2024 mendatang.
Produksi gabah kering giling (GKG) pada panen mendatang diperkirakan mencapai 305.369 ton dengan rincian April 2024 sebesar 103.493 ton dan Mei 2024 sebesar 201.876 ton.
"Produksi beras diperkirakan mencapai 192.993 ton. Dengan rincian April sebesar 65.407 ton dan Mei sebesar 127.586 ton," kata Plt Kepala DPKP DIY Hery Sulistio Hermawan Sabtu (23/3).
Hery menyampaikan, saat ini pun sejatinya sudah terjadi panen di beberapa titik.
Namun, secara jumlah memang belum terlalu banyak.
Disebutnya, panen yang terjadi pada bulan Maret ini hanya di daerah-daerah yang skema pengairannya menggunakan irigasi teknis.
Lalu, di Gunungkidul, yang memang sudah melakukan masa tanam lebih awal.
"Dari luas tanam yang panen sekarang 3.000-an hektar se-DIY, itu masih kecil. Nanti panen raya mulai April, saat ini baru panen di beberapa tempat," terangnya.
Lebih lanjut, Hery merinci jika dilihat secara tren panen bulan April mendatang akan mulai naik dan terus meningkat sampai Mei 2024.
Disebutnya, pada Desember 2023 lalu memang belum banyak terjadi hujan
Sehingga masa tanam baru dilakukan pada Januari dan Februari 2024 yang mengakibatkan panen terjadi di April dan Mei 2024.
Kondisi yang terjadi saat ini diakuinya berbeda dengan 2023 lalu di mana masa tanam sudah dimulai pada Oktober, November, Desember. Sehingga panen bisa terjadi di Februari dan Maret.
"Curah hujan banyak tahun kemarin. Sehingga hasilnya ya yang harusnya panen raya di bulan-bulan Februari Maret mundur April Mei puncaknya," ungkapnya.
Sebelumnya, Dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Oki Wijaya mengungkapkan, sembari menunggu panen raya terjadi penting bagi pemerintah untuk melakukan beberapa skema.
"Pemerintah harus melakukan penanganan dengan strategi komprehensif yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari sektor pertanian, hingga konsumen," pesannya.
Ia mencontohkan, salah satu skema penanganan yang bisa diambil adalah pengembangan teknologi benih padi.
Diakuinya, mengembangkan dan menggunakan varietas padi yang tahan terhadap kondisi ekstrem seperti kekeringan, banjir, dan suhu tinggi penting untuk dilakukan.
"Varietas yang tahan terhadap stress abiotik dan biotik dapat membantu memastikan stabilitas produksi padi, bahkan dalam kondisi iklim yang berubah," paparnya.
Lebih lanjut, Oki juga menyarankan agar pemerintah menggunaan teknologi pertanian canggih.
Termasuk dengan cara memanfaatkan teknologi pertanian modern seperti hidroponik untuk budidaya padi atau penggunaan drone dan sistem informasi geografis (GIS) untuk pemantauan dan manajemen lahan.
"Teknologi tersebut membantu peningkatan efisiensi penggunaan air dan nutrisi serta pengelolaan hama dan penyakit tanaman," tandasnya. (iza)