Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ukiran Kayu Interior Rumah Buatan Warga Bambanglipuro, Bantul Diminati di Eropa, Dihargai Rp 150 Ribu sampai Rp 7 Juta Jarang Diminati di Dalam Negeri

Heru Pratomo • Kamis, 21 Maret 2024 | 14:35 WIB

Gambar hasil ukiran di Nina Craft.Khairul Ma
Gambar hasil ukiran di Nina Craft.Khairul Ma
 

 


RADAR JOGJA - Berawal dari buka usaha di depan rumah hingga sekarang sudah memiliki lahan sendiri untuk tempat produksi. Siapa sangka, seni kerajinan ukiran kayu dari Bantul ini cepat melenggang ke pasar mancanegara.

Mayoritas konsumennya merupakan warga yang menetap di negara-negara benua Eropa. Berdiri sekitar 2017 lalu dan sekarang masih eksis meski sudah dihajar pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu.


Khairul Ma'arif, Bantul


Berbagai ukiran kayu untuk perabot rumah tangga memenuhi ruangan ketika Radar Jogja masuk ke usaha kerajinan yang berada di Jalan Tangkilan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Bantul, Minggu (17/3).

Usaha yang diberi nama Nina Craft itu menghasilkan karya seni ukir yang sudah diakui ke mancanegara. Mayoritas yang dibuat berbagai perkakas interior rumah. Mulai dari bangku, kursi, meja, cermin, dan lainnya.


Setidaknya ada 10 tenaga yang bekerja setiap harinya untuk membuat berbagai hasil kerajinan ukir interior rumah. Terkadang, bahkan pekerjanya ditambahkan menjadi 20 orang ketika pemesanan sedang tinggi-tingginya. Markas dari Ninan Craft penuh dengan berbagai kayu yang sudah diukir. Ada juga kayu yang hendak diukir dan bekas diukir.


Sudut-sudut tempatnya selalu disesaki dengan kayu jati ataupun mahoni. Itu lantaran, kayu tersebut menjadi bahan dasar dalam membuat berbagai ukiran interior rumah.
Namun, kebetulan pada Minggu pekerja di sana sedang libur.

Tidak ada kegiatan ukir-mengukir kayu. Tetapi, ketika memasuki ruangan kasirnya, sekelilingnya disesaki oleh berbagai ukiran. Baik itu cermina, tempat helm, maupun meja yang dibuat dengan limbah kayu ukir.


Meski baru berdiri sejak 2017 lalu dari halaman rumah pemiliknya. Sekarang sudah memiliki gudang sendiri yang dijadikan sebagai tempat produksi. Baru pada 2019 lalu akhirnya berpindah dari halaman rumah.

Berawal dikerjakan sendiri hingga sekarang memiliki 10 tenaga karyawan. "Memang diukir biar kelihatan unik. Inspirasinya mengalir saja bisa seperti ini," ujar seorang pekerja Nina Craft Lisa Novita kepada Radar Jogja, Minggu (17/3).

Baca Juga: Cari Solusi saat Ramadhan Tak Low Season, Para Pelaku Usaha Pariwisata DIY Harus Cari Formulasi agar Terus Bergerak


Ukiran yang paling singkat dibuat adalah wadah permen atau bowl hanya sepekan jadi. Sedangkan yang paling lama membuat meja dari potongan-potongan kayu membutuhkan waktu satu bulan full.

Harga ukiran kayu yang dibuat kisaran Rp 150 ribu hingga yang paling mahal Rp 7 juta. Meja menjadi interior rumah yang paling mahal di Nina Craft dan cermin yang palong murah.


Keahlian para pekerjanya membuat ukiran sudah terasah. Itu lantaran sudah bekerja bertahun-tahun sebagai pengukir kayu untuk dijadikan interior rumah. Nina Craft sejak didirikan pertama kali pada 2017 memang konsumennya dari luar negeri.

Tetapi, kondisinya belum sebanyak seperti sekarang ini. "Pasarnya biasanya ke luar negeri kalau dalam negeri biasanya jarang yang minat. Biasanya ke Eropa," imbuh Novita.


Menurutnya, ukiran kayu ini laris di luar negeri karena konsumennya tidak diperbolehkan menebang pohon oleh negaranya. Oleh karena itu, tidak bisa memproduksi seperti yang dibuat Nina Craft sehingga membelinya dari Bantul. Rata-rata konsumen luar negeri sudah menjadi pelanggan tetap.


Kondisi itu membuat penjualannya tidak memanfaatkan market place yang familiar di Indonesia. Jarang-jarang pembelinya dari dalam negeri palingan antara Jakarta ataupun Jogja itu sendiri.

Namun, jumlah penjualannya sangat minim sekali. "Omzet bersihnya rata-rata sebulan Rp 20-30 juta," tutur Novita. Jumlah pembeliannya dalam sebulan biasanya lebih dari 10 ukiran. (pra)

Editor : Satria Pradika
#Ukiran Kayu Interior #Bambanglipuro #Bantul #Pandemi Covid-19