JOGJA - Dinas Perhubungan (Dishub) DIY memprediksi sebanyak 8,7 juta orang bakal mudik ke wilayah DIY pada momentum lebaran idul fitri tahun 2024.
Jumlah itu lebih sedikit dibandingkan survey dari Kementerian Perhubungan sebanyak 11,7 juta pemudik. Kamera analitik bakal dimanfaatkan untuk mengurai kepadatan lalu lintas yang mungkin terjadi di Jogjakarta.
Plh Kepala Dishub DIY Sumariyoto mengatakan, prediksi 8,7 juta ini berdasar basic data tahun sebelumnya. Rata-rata kenaikannya sekitar 6 persen, secara tren perjalanan orang.
Sementara angka yang didapat dari Kemenhub sebanyak 11,7 juta pemudik masuk DIY berdasar survey dengan beberapa faktor pendukung lainnya.
"Kalau saya boleh memilih memang lebih akurat berdasar survey. Kami nggak melakukan kajian hanya analisis kasar sjaa berbasis data tanpa mempertimbangkan faktor-faktor yang lain," katanya Rabu (20/3).
Oyot sapaan akrabnya itu menjelaskan jumlah pemudik meningkat sekitar 6 persen berdasar perhitungannya disebabkan beberapa faktor.
Paling menonjol karena kemudahan akses seiring dibangunnya infrastruktur, disusul jalur tol fungsional Jogja-Solo yang secara bertahap dibuka.
"Jadi sebetulnya akan lebih banyak orang cenderung menggunakan kendaraan pribadi terutama dari pintu timur paling banyak. Dengan tol juga lebih cepat, kalau pakai publik transportasi kereta kalau nggak cepat-cepar kehabisan, pesawat juga relatif lebih mahal," ujarnya.
Praktis, Oyot menyebut bagi pemudik yang hanya melintasi Jogja disarankan melewati jalur alternatif. Hal tersebut untuk mengantisipasi kepadatan lalu lintas di wilayah atau pusat Jogja.
"Upaya yang kami lakukan tetap mengarahkan yang tidak masuk Jogja, bisa melalui jalur alternatif yang direkomendasikan," jelasnya.
Oyot mencontohkan untuk pemudik dari arah timur bisa melalui Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Kemudian pemudik dari arah barat, bisa melewati Glagah.
"Jadi upaya kita itu. Kita nggak mungkin ngelarang orang gak boleh masuk," jelasnya.
Pun fungsional tol Jogja-Solo di Klaten, Jawa Tengah atau exit tol diyakini akan menjadi tantangan nantinya.
Berdasar pengalaman sebelumnya, penyebaran para pemudik mereka menggunakan jalur alterantif.
"Ya yang saya khawatirkan justru dia (pemudik) memilih jalur alternatif yang kurang familier, kalau yang terjadi bebrapa waktu lalu dia milih Klaten arah Maniserenggo, kemudian keluarnya di Cangkringan, Ini saya juga khwatir biasanya di situ lalu lintasnya galian C," terangnya.
Pun antisipasi lain dilakukan Dishub DIY, dengan membuka dua posko rencananya di pintu timur disekitar Prambanan dan selatan sekitar Piyungan yang akan diaktifkan H-7 dan H+7 lebaran ini.
"Kendaraan lalu lintas barang dibatasi, kita kendalikan angkutan barang yang memperlambat lalu lintas kita batasi," sambungnya.
Selain itu upaya lain juga akan memaksimalkan kekuatan SDM yang dimiliki ditambah kabupaten/kota dan jajaran untuk melakukan pantauan terutama pada ruas jalan ekstrem menuju objek wisata.
Pihaknya juga melakukan perhitungan kendaraan bermotor menggunakan kamera analitik.
"Antisipasinya untuk bisa mengurai kemacetan di Jogja, bagi masyarakat yang melintas sebaiknya tidak lewat Jogja kami pasang rambu supaya lewat jalur alternatif. Jalur alternatif ada banyak, cuma yang utama 4 dari utara, barat, selatan dan timur," imbuhnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad