Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

BI Checking Jelek, Lulusan Mahasiswa Bisa Sulit Cari Kerja

Gunawan RaJa • Rabu, 20 Maret 2024 | 22:49 WIB
Wing Wiryanto Wiryono
Wing Wiryanto Wiryono

JOGJA - Mahasiswa diminta bijak dalam mengelola keuangan. Kalau sampai bersinggungan dengan pinjaman online (pinjol) harus tertib angsuran. Jangan sampai nama yang masuk dalam daftar BI Checking reputasinya jelek.

BI Checking merupakan Informasi Debitur Individual (IDI) historis yang mencatat lancar atau macetnya pembayaran kredit (kolektibilitas). Banyak perusahaan ketika merekrut calon karyawan, juga karena pertimbangan riwayat BI checking.

Diakui nasabah pinjol di Jogja justru anak-anak muda, dan sebagian besar mahasiswa.

Mereka sudah paham teknologi informasi dan komputer, namun tidak menyadari bahwa hutang pinjol sebenarnya bukan solusi.
"Meski angsurannya ringan, tetapi bebannya berat," kata Pakar Ekonomi Universitas Widya Wiwaha, Wing Wiryanto Wiryono Rabu (20/3/2024).

Misalnya sepatu seharga Rp 100 ribu, dapat diangsur Rp 13 ribu per bulan selama setahun, masih ditambah 'biaya transaksi Rp 5-10 ribu'. Memang sepertinya ringan, tapi kalau yang dibeli adalah laptop, handphone, atau kamera yang di atas Rp 5 juta, tentu lain lagi ceritanya.

"Para mahasiswa tersebut tidak berhitung bahwa angsuran yang tampak ringan, sebenarnya sangat mahal, bahkan lebih mahal daripada biaya atau bunga kartu kredit," ungkapnya.

Lebih parah lagi, mahasiswa memanfaatkan pinjol, pay later dan sejenisnya untuk bergaya hedonisme bukan memenuhi kebutuhan mendesak. Beberapa kampus besar di seluruh Indonesia, ada ratusan mahasiswanya terjerat pinjol.

Problem kian rumit ketika beberapa kampus justru menyarankan mahasiswanya agar memanfaatkan pinjol ketika mengalami kesulitan membayar SPP atau uang kuliah. Padahal, ada bahayanya mahasiswa memakai jasa pinjol, karena namanya otomatis masuk ke daftar BI Checking.

"Kalau ada namanya di sana, kecenderungannya tidak akan diterima sebagai karyawan, karena masih muda saja berani utang, apalagi kalau sudah punya penghasilan nanti," jelasnya.

Komisaris Utama PT AMI (BUMD milik Pemda DIY) menyebut, banyak perusahaan ketika merekrut calon karyawan, tidak hanya melihat ijazah dan transkrip, tetapi juga nama pelamar di BI checking.

"Kalau ada namanya di sana, kecenderungannya tidak akan diterima sebagai karyawan. Masih muda saja berani utang, apalagi kalau sudah punya penghasilan nanti," ucapnya.

Oleh karena itu, sebaiknya jika sangat terpaksa dan memang benar-benar butuh, jangan berhutang. Jangan sampai setelah lulus dan menyelesaikan perguruan tinggi muncul masalah dikemudian hari. (gun)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kerja #BI Checking #sulit #jelek #Cari