JOGJA - Festival Film Kampung dan Festival Foto Kota Jogja tahun 2024 kembali diselenggarakan oleh Pemkot Jogja. Sebagai pengembangan ekosistem digital dan mengangkat potensi kampung, peserta wajib mengeksplore unsur pariwisata, kuliner, arsitektur dan kebudayaan hanya di area Kota Jogja.
"Berdasarkan pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, kesalahan peserta kebanyakan di demografi. Lokasi pembuatan film yang bukan di Kota Jogja merupakan kesalahan yang krusial," ujar perwakilan juri penyelenggara festival, Bima Adhitya, Minggu (17/3/2024)
Bima menyarankan pada saat pengambilan lokasi, solusi paling sederhana adalah menggunakan Google maps. Semisal berada di perbatasan daerah lain, Google maps akan membaca titik lokasi tersebut apakah masih wilayah kota Jogja atau bukan.
"Selama itu (lokasi) masuk wilayah kota Jogja maka masuk dalam penilaian, tapi kalau di luar kota Jogja biasanya 1-3 detik kami akan skip (penilaian film),"
Peserta kategori umum, artinya bisa berasal dari mana saja tidak harus warga Kota Jogja. Tapi, Bima menegaskan yang perlu di explorssi adalah semua unsur pariwisata, kuliner, arsitektur dan kebudayaan di area Kota Jogja.
"Pengumpulan karya sampai 15 mei dan tanggal 16 sudah mulai penjurian. Insyaallah akan kita pamerkan seperti tahun lalu di rooftop pasar Prawirotaman," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Dinas Kominfosan, Kota Jogja Edy Sugiharto menambahkan kedua festival tersebut telah menginjak tahun yang ketiga. Setiap tahun grafik animo masyarakat dan peserta selalu meningkat, lanjutnya.
"Tahun 2022 dan 2023 cukup naik grafiknya. Tahun kemarin karya yang masuk 1200. Untuk karya video 43 karya," ujarnya.
Pada tahun ini, panitia penyelanggara kedua festival tersebut memilih plaform reels sebagai wadah mengunggah karya masing-masing peserta. Hal tersebut dinilai karena reels merupakan platform yang tepat dan digemari oleh anak muda.
"Semua boleh ikut (kirim karya) yang tidak boleh adalah dewan juri," kelakarnya.
Festival tersebut terselenggara sebagai komitmen dari Pemkot Jogja dalam hal ini Diskominfo untuk optimalisasi wifi publik. Artinya masyarakat bisa lebih mengembangkan ekosistem digital terlebih mengangkat potensi berbasis kampung.
"Jangan sampai secara hasil foto bagus tetapi ternyata bukan di Kota Jogja. Sebagai contoh kemarin foto masjid Mataram tetapi malah masuknya area Bantul. Nah semoga tidak terjadi lagi," pungkasnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin