Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sultan HB X Heran Tradisi Brandu Masih Terjadi, Perlunya Literasi, Ternak Mati Jangan Dipotong karena Sayang

Adib Lazwar Irkhami • Jumat, 15 Maret 2024 | 14:25 WIB
Photo
Photo

RADAR JOGJA - Gubernur Hamengku Buwono (HB) X menyayangkan tradisi brandu atau porak kembali terjadi di DIY. Bermula dari warga Sleman yang nekat menyembelih ternak dan membagikan dagingnya yang diduga terpapar antraks kepada anggota keluarga lain.


Sebaran pembagian daging itu melebar di daerah Sleman, Gunungkidul hingga Klaten karna daerah itu memang berdekatan. Brandu sendiri adalah tradisi urunan warga untuk meringankan beban kerugian pemilik yang ternaknya mati. Daging dari ternak itu kemudian dibagi mereka yang urunan.


HB X mendorong masyarakat peternak memiliki literasi tentang antraks yang baik. "Saya herannya di situ. Tadi saya ngasih catatan ke Dinas Kesehatan sama pertanian (DPKP) DIY kenapa selalu berulang," katanya saat ditemui wartawan di Kompleks Kepatihan, kemarin (14/3).


HB X menjelaskan, masyarakat utamanya peternak perlu memiliki literasi yang baik. Sehingga perlu upaya peningkatan literasi serta edukasi dari dinas terkait. Agar tradisi brandu tidak terulang lagi di kemudian hari.


Demikian pula edukasi tentang bahaya penyakit zoonosis itu, yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Meskipun wabah ini kembali terulang, dengan literasi yang baik dari para peternak diharapkan wabah yang sama tak kembali terjadi di kemudian hari.


"Mungkin perlu literasi yang baik kepada masyarakat peternak ya, bagaimana untuk jaga ternak dan jaga dirinya dari kemugkinan antraks tidak terulang. Kan hanya berapa bulan terjadi, sekian bulan terjadi, selalu terulang gitu," ujarnya.


Kasus penyebaran antraks pernah merebak di Kabupaten Gunungkidul pada pertengahan 2023 lalu. Tepatnya di Dusun Jati, Candirejo, Semanu. Kala itu ada 12 ekor ternak mati karena antraks dalam rentang bulan April-Juli.


Pemkab Gunungkidul saat itu menyebut ada 87 warga positif terpapar berdasarkan tes serologi dan satu pasien meninggal usai terjangkit antraks. Hingga ditetapkan menjadi kejadian luar biasa (KLB) antraks.


"Mosok peternak sapi nggak paham kalau sapinya nglentruk, diam saja, lemas, tidak curiga. Kan ndak mungkin, mestinya ya diobati. Tapi jangan mati malah dipotong karena sayang, lha yo piye," tandasnya.


Raja Keraton Jogja ini menyatakan belum memerlukan penetapan status KLB di daerah terpapar antraks itu. Kecuali jika memang ada dasar kasus bekembang, maka bisa dimungkinkan penetapan KLB.


"Kalau ndak (KLB), bisa terlokalisasi kan lebih baik. Tapi masalahnya bukan masalah itunya (KLB), tapi kenapa terulang terus. Mungkin perlu literasi, edukasi," tambahnya.


Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembajun Setyaningastutie menyebut, ada 53 suspek antraks di Kalinongko Kidul, Gayamharjo, Kapanewon Prambanan, Sleman, dan Kayoman, Serut, Gedangsari, Gunungkidul. Serta satu orang dilaporkan meninggal dunia.


Pembajun menjelaskan, 53 suspek antraks itu didapat dari pemeriksaan epidemiologi yakni 23 suspek dengan 16 orang tidak bergejala dan 7 orang bergejala pada 2 Maret 2024. "Sabtu 9 Maret Puskesmas Gedangsari 2 melaporkan 30 warga Kayoman diperiksa, 20 tidak bergejala dan 10 orang bergejala," katanya.


Untuk satu orang yang dilaporkan meninggal dunia, belum bisa dipastikan apakah terpapar antraks atau tidak. Sebab belum dilakukan pengujian terhadap sampel darah atau sampel usap kulit. (wia/laz)

Editor : Satria Pradika
#sultan hb x #Tradisi Brandu #DIY #Kabupaten Sleman #antraks