Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ada Balungan, Daging Diduga Terpapar Antraks Menyebar Hingga Klaten Jawa Tengah, Rekomendasi Lalu Lintas Hewan Harus Dibatasi

Winda Atika Ira Puspita • Kamis, 14 Maret 2024 | 02:51 WIB
SIGAP: Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten Jawa Tengah Widiyanti usai Rapat Koordinasi Penanggulangan Antraks di DIY di Kantor DPKP DIY Rabu sore (13/3).
SIGAP: Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten Jawa Tengah Widiyanti usai Rapat Koordinasi Penanggulangan Antraks di DIY di Kantor DPKP DIY Rabu sore (13/3).

JOGJA - Sebaran daging kambing atau sapi yang diduga terpapar antraks tak hanya menyebar di dua kabupaten yakni Sleman dan Gunungkidul.

Ternyata, daging itu menyebar hingga wilayah Klaten Jawa Tengah. Penanggulangan pun dilakukan lintas wilayah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Klaten Jawa Tengah Widiyanti membenarkan indikasi tersebut.

Daging yang sempat dibawa ke Klaten merupakan anak dari si pemilik ternak yang ada di Kalinongko Kidul, Gayamharjo Prambanan, Sleman.

"Memang ada balungan daging tapi balungan sudah dimasak dimakan oleh keluarga. Kemudian kami mendapat info itu kami segera melakukan investigasi di lapangan," katanya usai Rapat Koordinasi Penanggulangan Antraks di DIY di Kantor DPKP DIY Rabu sore (13/3).

Widiyanti menjelaskan kemudian pada 12 Maret pihaknya melakukan penguburan pemusnahan daging yang masih ada di freezer kulkas milik keluarga tersebut.

Pun daging hingga kulkasnya dilakukan penguburan sesuai SOP.

Selain itu juga dilakukan pengambilan sampel baik swab di kulkas, swab daging serta pengambilan sampel darah si anggota keluarga yang mengkonsumsi daging yang sudah dimasak.

"Kita sambil menunggu karena untuk anggora keluarga sejak dia makan setelah dia mendapatkan (daging) tanggal 14 Februari, kurang 5 hari dia sudah masak. Kemudian sampai saat ini kita cek ke lokasi tidak mengalami perubahan kesehatan apapun tidak ada gejala tidak ada diare," ujarnya.

Pun dari informasi yang didapat, wilayah Gantiwarno Klaten itu lokasinya berdekatan dengan kasus yang ada di dua lokasi Sleman dan Gunungkidul.

Hanya berjarak sekitar 200 meteran dan berbatasan dengan sungai.

Sehingga diintruksikan kepada camat setempat untuk menghimbau masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sungai.

Menurut informasi yang didapat, ada bangkai yang terbuang di sekitar sungai tersebut.

"Terlepas benar atau tidak dalam rangka antisipasi kita harus menekankan kepada masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apapun di wilayah sungai itu. Mbuh guyang ternak atau mencari pakan apapun pokoknya dihimbau tidak beraktifitas disana, minimal satu bulan sejak kasus terakhir," jelasnya.

Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates drh Hendra Wibawa mengatakan, sejauh ini dari sampel ternak, tanah, pakan, yang diambil yang terkonfirmasi positif berada di dua pemilik.

Satu pemilik di Kalinongko Kidul, Gayamharjo Prambanan, Sleman serta satu pemilik lagi di Kayoman, Serut, Gedangsari, Gunungkidul.

Dua kabupaten ini hanya berjarak radius tidak lebih dari 200-an meter.

Adapun ternak yang terkonfirmasi positif hanya satu yakni sapi milik S warga Kayoman Serut Gedangsari Gunungkidul.

"Kemudian lainnya adalah tanah. Artinya disitu mungkin dulu pernah terjadi (antraks) karena sifatnya antraks dia sporanya bertahan di tanah. Ditemlat Pak WG itu tanah untuk menyembelih terkonfrmasi positif (antraks)," bebernya.

Dia tak bisa menganalisa pasti penyebab awal antraks muncul di daerah awal kasus yakni Sleman.

Memang karena infeksi bakteri antraks, namun tak mengetahui pasti asal mulanya.

Padahal, daerah tersebut dianggap belum ada riwayat sebelumnya.

"Biasanya penyebab awal kita agak susah mengidentifikasi tetapi penyebaran itu faktor risikonya mungkin dari rumput yang tercemar spora," ujarnya.

Dengan begitu, rekomendasinya lalu lintas hewan harus dibatasi tidak boleh keluar antardusun.

Namun, dimungkinkan cakupannya bisa lebih luas tergantung dari peredaran daging yang dibagikan atau sampai sejauh mana ternak itu digaduh atau dipindahkan.

"Kalau kita mau menetapkan zonasi itu yang harus ditangani sejauh mana yang tertular yang ada potensi disitu ada spora antraks. Jadi di Kalinongko Kidul, di Kayoman yang pasti masuk zona merah yang harus cepa-cepat tertangani kasusnya. Hewan cepat-cepat dikasih antibiotik, kemudian di daerah sekitarnya akan kita lakukan vaksinasi supaya tidak menyebar diberikan kekebalan," jelasnya.

Kepala DPKP DIY Hery Sulistio Hermawan menambahkan, pihaknya berkolaborasi melakukan langkah dalam penanggulangan antraks di DIY agar tidak semakin meluas.

Termasuk akan mengintevrensi kebutuhan seperti pengobatan antibiotik, pemberian vitamin, kemudian pencegahan ada vaksinasi serta disinfektan

"Termasuk menyepakati harus dilakukan zonasi, artinya dengan zonasi kita membuat kalasifikasi daerah-daerah yang memang merah harus ditangani serius, daerah yang kuning harus diantisipasi jangan sampai meluas ke sana. Daerah hijau daerah-daerah yang aman," katanya.

Meski tak berstatus kejadian luar biasa (KLB) walaupun melihat cakupan, ternak, hingga suspek sudah bisa dikatakan KLB, menurutnya, pada prinsipnya seluruh stakeholder dan lintas sektor sudah bekerja bersama melakukan penanganan dan penanggulangan.

"Tinggal keseriusan kita bersama-sama melakukan penanggulangan, artinya memang semua harus bergerak bersama-sama," tambahnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#Sleman #Gunungkidul #klaten #antraks #daging kambing