Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kenaikan Harga selama Ramadan Sulit Dicegah, Faktor Psikologis Pedagang dan Kebiasaan Masyarakat Cenderung Konsumtif

Gunawan RaJa • Selasa, 12 Maret 2024 | 13:15 WIB
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

JOGJA - Memasuki Ramadan sampai Lebaran, harga-harga kebutuhan langsung melambung. Hal ini terus berulang setiap tahun. Namun fenomena tersebut sulit untuk dicegah, apalagi dikondisikan. Dosen STIE YKPN Jogjakarta Wing Wahyu Winarno MAFIS mengatakan, naiknya harga kebutuhan masyarakat disebabkan sejumlah faktor."Pertama lebih kepada faktor psikologis. Pedagang memang terbiasa menaikkan harga pada saat Ramadan maupun menjelang Lebaran," kata Wing, kemarin (11/3).

Kedua kebiasaan masyarakat selama Ramadan cenderung konsumtif. Pada hari biasa makanan apa adanya, namun pada saat buka puasa maupun sahur menu tersaji lengkap.Ada kolak, camilan dan sebagainya. Jadi dibuat supaya lebih meriah (menu makanan) selama Ramadan. “Ini sulit dicegah, " ujarnya.

Sehingga dari berbagai indikator justru kebutuhan pangan selama Ramadan meningkat. Di dalam hukum ekonomi, kalau permintaan meningkat, persediaan tetap harga naik.Idealnya tetap sederhana seperti biasa, karena puasa itu untuk mengurangi konsumsi yang biasanya. “Bukan malah sebaliknya," terangnya.

Tapi para pedagang sendiri sebenarnya sudah menambah stok. Itu faktor psikologis tadi, bahwa ketika kebutuhan meningkat pedagang juga ingin mendapatkan keuntungan lebih."Ngapain harga diturunkan kalau dinaikkan saja laku," ujarnya.

Pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Jogjakarta ini mengulas kelangkaan komoditas lain seperti beras. Di sejumlah pasar modern. Mengutip pernyataan Presiden Joko Widodo, persoalan kelangkaan terjadi karena jalur distribusi terganggu akibat bencana."Tapi itu di daerah-daerah tertentu. Tidak semua daerah mengalami," ungkapnya.

Terkait dengan kelangkaan beras, ada pendapat bahwa bahan pokok tersebut hilang lantaran habis dipakai untuk kampanye Pilpres maupun Pileg 2024.Tetapi sebetulnya beras yang dibagi itu beras berkualitas rendah. Tapi nyatanya yang kosong termasuk beras yang mahal."Ini ada pertanyaan, apakah (hilangnya beras) karena stok kurang sehingga Bulog impor beras atau ada pedagang melakukan penimbunan," ucapnya.

Menurutnya, Presiden Jokowi juga pernah menyampaikan stok beras di Bulog aman. Pertanyaan lanjutan, kalau stok beras pemerintah aman kenapa tidak operasi pasar (OP). Kalau stok aman kenapa tidak dibagikan kepada masyarakat."Kalau stok ada ya dikeluarin saja, masyarakat khan butuh," jelasnya.

Sekarang stok beras di banyak tempat wilayah Jogja kosong. Pihaknya sendiri mengaku kesulitan mencari beras. Tidak mudah membeli karena banyak toko kehabisan stok."Menjelang pemilu sampai dengan sekarang masih sulit membeli beras kemasan. Kalau curah masih bisa ditemukan," ujarnya. (gun/din)

Editor : Satria Pradika
#beras #ramadan #lebaran