Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Singgih Putuskan Pending Rencana Pembangunan  Pasca Tolak TPS3R Piyungan, Pemprov Minta Bangun Dialog

Agung Dwi Prakoso • Sabtu, 9 Maret 2024 | 16:00 WIB
Penjabat Wali Kota Jogja Singgih Raharjo
Penjabat Wali Kota Jogja Singgih Raharjo

 

RADAR JOGJA - Penjabat Wali Kota Jogja Singgih Raharjo memutuskan untuk pending dulu rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) di Piyungan. Ini menyusul adanya aksi penolakan dari warga Banyakan 3, Kalurahan Sitimulyo, Piyungan, Bantul.


"Kami sangat menyayangkan karena proses itu (pembangunan TPS3R di Piyungan) sudah cukup lama kami lakukan," ujar Singgih Raharjo kepada wartawan di Balai Kota Jogja, kemarin (8/3).


Ia juga menyampaikan pihaknya sudah mendapatkan izin dari Pemprov DIJ untuk menggunakan lahan di Piyungan. Setelah mengantongi izin itu juga telah melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.


"Masyarakat cerita sangat bisa memaklumi dan kita ikutkan dalam proses. Tapi di akhir saat kita akan membangun, (proses) lelang sudah selesai kemudian ada kelompok yang melakukan penolakan, termasuk Pak Lurah yang ada di sana," tuturnya.


Singgih menegaskan Pemkot Jogja ingin menggunakan lahan di Piyungan untuk proses pengolahan sampah dan bukan untuk pembuangan. Pengolahan dengan pembuangan berbeda pengertianya.

Pengolahan itu nanti akan zero residu
"Contoh pada hari itu diolah 40 ton (sampah) ya akan selesai 40 ton. Kalaupun ada residu, sedikit akan kita olah lagi supaya zero residu, sehingga tidak menambah volume sampah di Piyungan," jelasnya.


Nantinya, sampah baru yang dibawa di Piyungan itu akan diolah menjadi produk namanya Refuse Derived Full (RDF). RDF biasa disebut keripik sampah untuk digunakan sebagai bahan bakar di pabrik semen.


"Ini yang perlu kita umumkan untuk seluruh masyarakat karena bayangan TPS3R itu bukan seperti di TPS Piyungan. Takutnya bayangannya seperti itu. Teknologi sekarang sudah maju, sehingga memilih outputnya mau seperti apa. RDF, kompos, briket semua bisa. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir," tandasnya.


Pemkot Jogja optimistis bisa menyelesaikan permasalah sampah di Kota Jogja dengan berbagai skema. Pemkot juga menyatakan siap untuk bisa melaksanakan desentralisasi sampah di Kota Jogja. "Di Piyungan kita pending dulu. Jadi tidak ada masalah kalau belum kontrak," ujarnya.


Ketua Tim Kerja Penanganan Persampahan DLH Kota Jogja Mareta Hexa Sevana menambahkan, tiga TPS3R lainya yaitu di TPS3R Nitikan, Kranon dan Karangmiri sudah dipersiapkan. Progres ketiga TPS3R itu telah mengalami perkembangan.


"Nitikan sedang dipersiapkan lelang untuk pelaksanaan rehabilitasi atapnya. Untuk TPS3R Kranon sudah dimulai pelaksanaan konstruksinya oleh penyedia. Karangmiri juga sudah dimulai pelaksanaan konstruksinya oleh penyedia," katanya.


Sementara itu, Pemprov DIJ meminta Pemkot Jogja untuk membangun dialog intensif dengan pemerintah kalurahan, termasuk masyarakat. Menyusul adanya penolakan dari warga Sitimulyo terkait penggunaan sebagian lahan di TPST Piyungan untuk pengolahan sampah dari Kota Jogja.


Sekprov DIJ Beny Suharsono mengatakan, ketika Kota Jogja akan memanfaatkan lahan di kawasan TPST Piyungan untuk pengolahan sampah, memang harus dialog dengan pemerintah kalurahan serta warga sekitar. Ini bukan soal lahan yang dipakai, namun terkait dampak lingkungan yang mungkin terjadi.


"Itu yang perlu dialog. Dialog itu kan mungkin tidak cukup sekali, harus dijelaskan jernihnya. Karena yang ditakutkan dampak lingkungannya. Kalau ada pabrik pengolahan mangkeh dos pundi, harus dijelaskan," katanya di Komplesk Kepatihan kemarin (8/3).


Beny menjelaskan, kemungkinan terjadi warga belum tersosialisasi dan masih mengkhawatirkan adanya sampah yang dibuang ke sana. Padahal tak ada lagi sampah yang dibuang ke TPST Piyungan hingga akhir April. TPST Piyugan pun ditutup permanen dengan pagar beton mengelilingi dan akan dilakukan penataan.


"Kalau besok kan sampah diproses. Jadi tinggal ngawasi diproses tenan po ora, kalau di sana dibuang (tidak diproses), ya ditolak," ujarnya.


Dengan demikian, Pemkot Jogja memiliki tanggung jawab untuk gencar melakukan dialog di sana. Sebab, yang akan menggunakan lahan dan pengadaan dua modul pemusnah sampah.

"Maka terjadi residu ya, tidak semuanya hilang. Lha residunya itu kan termanfaatkan untuk pertanian," jelasnya. (oso/wia/laz)

Editor : Satria Pradika
#TPS3R #Piyungan #Singgih Raharjo