DISCLAIMER: Berita atau artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan menyakiti diri sendiri.
Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan menyakiti diri sendiri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.
Berbagai saluran telah tersedia bagi pembaca untuk menghindari tindakan self harm.
GUNUNGKIDUL - Sedang marak trend self harm di SMPN 2 Saptosari, Gunungkidul. Self harm adalah sebuah tindakan menyakiti diri sendiri untuk menghilangkan rasa frustasi, stres, dan berbagai macam emosi.
Wakil kepala sekolah SMPN 2 Saptosari Mujiono Spd mengatakan kasus self harm dilakukan oleh pelajar putri. Mereka kedapatan melukai diri sendiri dengan cara menyayat tangan dengan silet. Kasus ini terpantau sejak akhir tahun lalu.
"Ada 23 anak melukai diri sendiri dengan silet. Pada bagian pergelangan tangan disayat dengan silet," kata Mujiyono Rabu (6/3/2024).
Sebanyak 23 anak tersebut semuanya berjenis kelamin perempuan. Mereka menjadi korban pengaruh negatif media sosial platform TikTok.
"Faktor kedua (pemicu self harm) karena keluarga," ujarnya.
Dari total 328 siswa SMPN 2 Saptosari, sebanyak 30 persen tidak mendapat pengasuhan langsung dari orang tua. Si anak hanya tinggal bersama dengan nenek, atau kakek.
"Sementara orang tuanya bekerja ke luar kota," jelasnya.
Pihak sekolah pun langsung bergerak cepat melakukan pembinaan. Selain anak, pihak orang tua juga telah dipanggil untuk dicarikan jalan keluar.
"Kami juga berkomunikasi dan konsultasi dengan Puskesmas Saptosari," ungkapnya.
Sementara itu Wakil Ketua DPRD Gunungkidul Heri Nugroho mengaku prihatin dengan munculnya kabar tren self harm di kalangan pelajar.
"Segera kami komunikasikan dengan dinas pendidikan, ini tidak bisa diselepelekan," kata Heri Nugroho.
Mengingat kasusnya terjadi pada pelajar, pihaknya menyoroti kinerja guru Bimbingan Konseling (BK). Jangan sampai guru BK hanya formalitas dan tidak menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.
Terpisah Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gunungkidul Nunuk Setyowati belum bisa dimintai tanggapan terkait dengan trend self harm di dunia pendidikan. (gun)
Editor : Iwa Ikhwanudin