Selain fakta sejarahnya yang unik, Tamansari juga terkenal dengan berbagai mitos yang beredar di masyarakat Yogyakarta.
Tamansari dibangun pada tahun 1785 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I dan dibantu oleh Raden Rangga Prawirasentika dan Bupati Kiai Tumenggung Mangoendipoero.
Taman Sari dulunya merupakan danau luas dengan parit yang menghubungkannya dengan keraton.
Taman Sari difungsikan sebagai pesanggrahan dan tempat pemandian para putri dan selir raja.
Salah satu mitos yang terkenal adalah tentang lorong bawah tanah Tamansari yang konon tembus hingga ke pantai selatan.
Ada dua lorong di Taman Sari, yaitu Urung-urung Timur dan Urung-urung Sumur Gumuling.
Urung-urung Timur menghubungkan Pulo Panembung dan Pulo Kenanga dengan panjang 45 meter.
Sedangkan Urung-urung Sumur Gumuling memiliki panjang 39 meter dan di ujungnya terdapat mata air bernama Sumur Gumuling yang dikelilingi lima anak tangga dan masjid bawah tanah.
Konon, lorong Sumur Gumuling ini dulunya lebih panjang dan tembus hingga pantai selatan, namun ditutup pada tahun 1972.
Mitos lainnya menyebutkan bahwa Sumur Gumuling adalah tempat pertemuan Sultan Yogyakarta dengan Ratu Pantai Selatan, Nyi Roro Kidul.
Selain itu mitos lain yang ada di Taman Sari Yogyakarta yaitu, terdapat sepuluh bangunan kuno peninggalan Sultan yang jarang dikunjungi wisatawan.
Bangunan-bangunan ini menyimpan berbagai mitos menarik. Salah satu ruangan yang terkenal adalah ruang sekertaris Sultan yang dipercaya dapat mendatangkan kesuksesan.
Pada bagian bangunan lain terdapat sumur tua berisi koin yang konon dapat mengabulkan hajat, termasuk jodoh.
Di samping sumur, terdapat dapur yang diyakini dapat membuat pengunjungnya pintar memasak.