JOGJA - Secara umum kenaikan harga beras di Indonesia saat ini dapat dijelaskan melalui beberapa teori ekonomi pertanian.
Teori ekonomi pertanian sendiri turut memperhatikan faktor-faktor produksi, distribusi, dan konsumsi produk pertanian. Temasuk, beras serta interaksi dalam pasar.
Dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Oki Wijaya mengatakan, beberapa aspek meliputi produksi dan ketersediaan yang tidak cukup memenuhi permintaan dapat menyebabkan kenaikan harga.
Faktor-faktor seperti gagal panen dan penurunan luas lahan pertanian juga dapat mempengaruhi keseimbangan ini.
"Jika produksi beras menurun karena alasan cuaca buruk, sementara permintaan tetap tinggi atau meningkat, harga beras akan naik," katanya, Minggu (3/3).
Tak hanya itu, perubahan iklim, bencana alam, dan kondisi geopolitik juga dapat mempengaruhi produksi dan distribusi beras sehingga mempengaruhi harga.
Misalnya, El Nino dapat menyebabkan kekeringan di beberapa wilayah penghasil beras, mengurangi produksi dan meningkatkan harganya.
Menyoroti fenomena yang terjadi saat ini, Oki mengungkapkan, pemerintah harus segera melakukan skema penanganan dengan strategi komprehensif yang melibatkan berbagai pihak.
Itu melibatkan mulai dari sektor pertanian, hingga konsumen.
Ia mencontohkan, salah satu skema penanganan yang bisa diambil adalah pengembangan teknologi benih padi.
Dikatakannya, mengembangkan dan menggunakan varietas padi yang tahan terhadap kondisi ekstrem seperti kekeringan, banjir, dan suhu tinggi penting untuk dilakukan.
"Varietas yang tahan terhadap stress abiotik dan biotik dapat membantu memastikan stabilitas produksi padi, bahkan dalam kondisi iklim yang berubah," paparnya.
Lebih lanjut, Oki menyarankan agar pemerintah menggunaan teknologi pertanian canggih.
Termasuk, dengan cara memanfaatkan teknologi pertanian modern seperti hidroponik untuk budi daya padi atau penggunaan drone dan sistem informasi geografis (GIS) untuk pemantauan dan manajemen lahan.
"Teknologi tersebut membantu peningkatan efisiensi penggunaan air dan nutrisi serta pengelolaan hama dan penyakit tanaman," lanjut Oki, yang juga menjabat sebagai tenaga ahli Bappeda DIY bidang ekonomi pertanian.
Selanjutnya adalah soal manajemen risiko dan asuransi pertanian.
Ia meyakini, mengembangkan produk asuransi pertanian dapat melindungi petani dari kerugian akibat perubahan iklim, seperti kekeringan atau banjir.
Hal tersebut juga dapat memberikan keamanan finansial bagi petani dan mendorong mereka untuk terus bertani meskipun menghadapi risiko iklim yang tinggi.
Sementara itu, skema penanganan dari sisi konsumen juga penting dilakukan. Salah satunya adalah optimalisasi program diversifikasi pangan.
Dijelaskannya, strategi diversifikasi pangan adalah pendekatan dalam mengatasi kenaikan harga beras dan tantangan keamanan pangan.
Terutama, di negara-negara yang bergantung pada beras sebagai sumber karbohidrat utama, seperti Indonesia.
"Diversifikasi pangan tidak saja membantu mengurangi ketergantungan pada satu jenis pangan, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dengan memperluas basis pangan yang tersedia," pesannya. (iza)
Editor : Amin Surachmad