JOGJA - Dinas Kebudayaan (Disbud) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) gelar pertunjukan teatrikal perang dengan cerita peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di halaman parkir Mandala Krida Jogja, Jumat (1/3/2024). Puluhan pemeran dengan profesional memainkan peranya, para hadirin yang datang seakan diajak flashback pada epic nya perjuangan rakyat Jogja dalam mengusir Belanda kala itu.
Pagi itu suara dentuman ledakan terjadi di beberapa titik di sekitar halaman parkir Stadion Mandala Krida Jogja. Dari dalam barak-barak kecil kemudian beberapa tentara Belanda dengan posisi was-was dan panik keluar menenteng senapan laras panjang.
Disisi lain, Tentara Indonesia bersiap untuk melakukan serangan kembali ke markas tentara Belanda. Tak berselang lama, ledakan kembali terjadi mengakibatkan suasana pagi itu menjadi lebih mencekam. Suara tembakan, ledakan ditambah dengan kepulan asap dari tong-tong depan barak yang berserakan untuk bersembunyi para tentara Belanda mencuri fokus perhatian para hadirin.
Seperti itulah kiranya gambaran reka adegan fenomena sejarah perjuangan rakyat Jogja dalam mengusir Belanda pada tanggal 1 Maret 1949 dulu. Teatrikal tersebut sengaja diselenggarakan Disbud DIY sebagai peringatan Hari Penegakan Kedaulatan Negara (HPKN) 2024.
"Rangkaian teatrikal tersebut kami selenggarakan setelah upacara bendera di Mandala Krida. Tujuannya adalah untuk mengedukasi para peserta upacara khususnya para generasi muda perihal latar belakang mengapa HPKN diperingati di tanggal 1 Maret," ujar Kepala Seksi Sejarah Disbud DIY, I Gede Adi Atmaja kepada Radar Jogja, Jumat (1/3/2024).
Pihaknya menyampaikan bahwa tragedi Serangan Umum 1 Maret di Jogja sebagai momentum tegaknya kedaulatan Kemerdekaan Indonesia. Selain itu, diadakanya pertunjukan teatrikal tersebut juga bertujuan untuk mensosialisasikan HPKN kepada masyarakat.
"Jadi gaungnya lebih luas untuk bisa dimaknai oleh para generasi muda tentang peristiwa itu," tuturnya.
"Untuk menanamkan semangat rasa cinta kepada tanah air dan rasa nasionalisme," imbuhnya.
Kedepanya, gaung dari HPKN juga masif diperingati di setiap wilayah di seluruh Indonesia. Selama ini mungkin gaung tersebut baru dirasakan di Jogja, sedangkan Provinsi lain belum begitu terlihatt, lanjutnya.
"Ini juga ada dalam amanah Keputusan Presiden Nomor 2 Tahun 2022 tentang HKPN. Sehingga melalui ini kami sajikan dalam bentuk teatrikal," tandasnya.
Gede menilai bahwa cara penyuluhan pertunjukan teatrikal tersebut akan lebih bisa diingat oleh masyarakat dari pada lewat pidato dan sebagainya. Harapanya esensi pertunjukan tersebut dapat selalu teringat dan membekas di setiap pemirsanya, lanjutnya.
"Pertunjukan kurang lebih 25 menit, kita suguhkan dalam bentuk tari dan teater dengan menggaet beberapa komunitas kesenian," jelasnya.
Rangkaian acara adalah upacara bendera di dalam Stadion Mandala Krida. Kemudian setelah selesai, para peserta digiring keluar untuk menyaksikan pertunjukan teatrikal.
"Peserta kurang lebih 80 orang terdiri dari komunitas penggiat sejarah Yogyakarta, Siswa MAN 1 Bantul dan MAN 1 Yogyakarta serta Sanggar Tari Srikandi Adhi Mukti," pungkasnya. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin