Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga Beras di Jogjakarta Nangkring Tinggi, Diikuti Telur dan Gula Pasir, Bamer dan Baput Justru Stabil meski Jelang Puasa

Adib Lazwar Irkhami • Rabu, 28 Februari 2024 | 13:30 WIB

 

ELANG KHARISMA/RADAR JOGJA
ELANG KHARISMA/RADAR JOGJA

 

RADAR JOGJA - Harga beras di salah satu pasar tradisional terbesar di Jogja masih bertahan tinggi, mencapai Rp 17 ribu per kilogram. Ini memunculkan efek domino, diikuti kenaikan harga komoditas lain seperti telur dan gula pasir.


Salah seorang pedagang Pasar Beringharjo Mentuk mengatakan, harga beras masih nangkring tinggi. Paling murah Rp 16 ribu jenis C4 atau medium, sebelumya Rp 13 ribu per kg. Tertinggi Rp 17 ribu-Rp 18 ribu per kg jenis premium seperti Mentik Wangi.


"Mundak terus niki (naik terus ini), Rp 16 ribu harga masih sedengan. Tinggi lagi Mentik Wangi Rp 17 ribu, Rp 18 ribu tapi yang biasa dicari sing murah (yang murah)," katanya saat ditemui di kios Pasar Beringharjo kemarin (27/2).


Mentuk menjelaskan, dampaknya omzet penjualan menurun hingga 50 persen. Hal ini karena tak sedikit pelanggannya mengurangi jumlah pembelian dari biasa 10 kg menjadi 5 kg "Regane larang to (harganya mahal kan), persediaan lancar," ujarnya.


Adapun persediaan beras yang dibatasi jenis beras Bulog SPHP. Harganya tergolong lebih terjangkau per 5 kilogram Rp 55 ribu. Namun, distok setiap seminggu satu kali. "Dibatasi pembelian kadang 10 kg, 5 kg. SPHP banyak yang nyari tapi barangnya ada, tapi kalau payu (laku) terus entek (lalu habis)," tandasnya.


Pedagang lain Yani mengaku, harga beras masih tinggi. Jenis beras yang dijual hanya premium mencapai Rp 17 ribu per kg. Harga bahan pangan yang tinggi diikuti komoditas telur dan gula pasir. Per kg telur dibanderol Rp 31 ribu dari sebelumnya Rp 26 ribu. Gula pasir menjadi Rp 17 ribu dari sebelumnya Rp 15 ribu. "Naiknya gula pasir dulu, terus telur," bebernya.


Menurutnya, kenaikan harga telur ayam ini belum dapat dipastikan faktor penyebabnya. Dari pemasok juga tidak mendapatkan informasi itu.


"Sing (nyetor) tak tanya mboten ngerti wong telur nggeh angel le golek hargane wes duwur (pemasok saya tanya nggak tahu, carinya susah harganya sudah mahal). Ayam e mungkin bertelur e dikit (ayamnya mungkin bertelurnya sedikit). Menjelang puasa memang tinggi, pas masuk puasa terus turun," jelasnya.


Imbasnya pun pembelian dari konsumen yang kebanyakan supliyer dan rumah tangga ikut dikurangi jumlahnya. "Mereka nggak berani nando, harapan jangan mahal-mahal, segera bisa turun," tambahnya.
Kendati begitu, beberapa harga sembako yang tinggi itu tak berdampak pada komoditas bawang merah (bamer) dan bawang putih (baput). Harga keduanya justru terbilang stabil, meskipun menjelang puasa.

Baca Juga: Habisi Hi Pass, Red Sparks Catatkan Lima Kemenangan Berturut-Turut, Gia Bombastis Cetak 31 Poin


"Nggak (pengaruh) ini, agak stabil nggak naik, nggak turun. Kalau bwang merah juga tergantung panenan, kalau panenan banyak stok terpenuhi ya nggak naik," kata Endang Mujiwati di Pasar Beringharjo.
Adapun harga bawang merah eceran terendah rata-rata Rp 20 ribu per kg dan tertinggi Rp 32 ribu. Sementara harga bawang putih kating eceran dibanderol Rp 39 ribu dan grosir Rp 38 ribu per kg.


Sekalipun masih musim hujan, tak mempengaruhi pasokan. Pasokan lancar ke Pasar Beringharjo. Pasokannya dari Kulon Progo, Bantul maupun luar DIJ seperti Madura, Sulawesi, Bima. "Walaupun hari besar atau Lebaran, puasa tapi stok atau panen melimpah tetap murah," sebutnya.


Dalam sehari persediaan bawang merah sekitar 2 kuintal dan bawang putih 1 kuintal. Meski menjelang bulan puasa, dia tak melakukan persediaan berlebih. Namub, setiap satu sampai dua hari barang terus berganti yang baru. (wia/laz)

Editor : Satria Pradika
#Kota Jogja #pasar beringharjo #pasar tradisional #harga beras