JOGJA - Sebagai salah satu upaya menggaungkan secara nasional dan internasional, peringatan Hari Penegakan Kedaulatan Negara (HPKN) bakal digelar di Jakarta tahun 2024.
Peringatan ini baru perdana digelar setelah ditetapkan dalam Keputusuan Presiden (Keppres) Nomor 2/2022 sebagai peringatan atas peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.
Sekprov DIY Beny Suharsono mengatakan, untuk tahun 2024 pemprov mengevaluasi peringatan hari penegakan kedaulatan negara 2 tahun lalu.
Ini tidak sekadar menggeser kegiatan dari Jogja ke Jakarta.
Melainkan, satu bentuk strategi yang harus dimulai oleh Yogyakarta bahwa HPKN tidak hanya milik Jogjakarta tetapi juga milik negara yang waktu itu menyatakan mulai berdaulat.
"Tahun ini kita geser gaungnya ke Jakarta sehingga tanggal 1 Maret akan diiringi bentuk konser yang digaungkan secara nasional bahkan berharap secara internasional bisa dipromosikan," katanya di Kompleks Kepatihan Senin (26/2).
Beny menjelaskan kegiatan yang dulu dikenal sebagai peringatan serangan umum 1 Maret itu tidak hanya milik Jogja, melainkan nasional.
Penggeseran kegiatan peringatan itu pun juga dalam rangka strategi untuk lebih menggaungkan nasionalisme yang disesuaikan dengan kebutuhan kekinian.
Maka, tamu yang akan diundang dalam peringatan bertajuk gelaran orkestra nantinya itu tak hanya dari kalangan pejabat Pemprov DIY.
Tapi, juga kalangan menteri di Indonesia, seluruh gubernur di Indonesia, para duta besar yang ada di Indonesia, OPD terkait, seluruh kompomen serta non governmental organization (NGO) di Jakarta.
"Orkestra seat yang disedikan sekitar 500, satu undangan untuk dua orang mudah-mudahan bisa hadir 1.000 undangan. Kita juga mengundang UMKM kita untuk berpamer diri menunjukkan produk berkualitas kita disemua jajaran dua hri tanggal 1 dan 2 (Maret) di Aula Simpony Kemayoran Jakarta," ujarnya.
Menurutnya, peringatan setiap tahunnya itu akan selalu dievaluasi. Termasuk untuk mengetahui apakah peringatan HPKN akan selalu digelar di ibu kota setiap tahunnya.
Namun demikian, gelaran peringatan di Jakarta pada prinsipnya tidak berarti menggeser kegiatan yang ada di Jogjakarta. Hanya untuk menguatkan bahwa HPKN milik Indonesia.
Terlebih, peristiwa serangan umum 1 Maret itu lokusnya berada di Yogyakarta.
"Tentu tahun depan kebutuhan akan peringatan penegakan seperti apa, dasar evaluasi ini kita kuatkan untuk tahun depan. Sehingga tema yang terus berkembang sesuai tema kebutuhannya. Mnjelaskan kedaulatan tidak lagi cara menjelaskan sejarah pada masa saya bisa dengan cara yang berbeda lagi ke depan," jelasnya.
Pun di Yogyakarta, peringatan HPKN tetap akan dilakukan yang sifatnya rutin seperti ada tirakatan maupun upacara sampai ke level kalurahan.
"Jadi di lokal sendiri kita lakukan hal yang sama. Nanti bisa dimulai," terangnya.
Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Prof Dr Dra Sulistyowati Irianto mengatakan, HPKN penting dikenalkan kepada generasi bangsa di seluruh Indonesia terutama generasi mudanya.
Generasi muda dengan paham kebudayaan mereka akan paham politik hukum, sejarah.
"Karena kebudayaan memberikan cara-cara berfikir, berpengetahuan untuk bisa melangsungkan kehidupannya melaui sistim politik, sistim hukum, sistim ekonomi, sistim teknologi," katanya.
Terlebih dia menyebut, keberadaan Jogjakarta memiliki dasar yang beragam. Mulai dari dasar filosofis bahwa Yogyakarta memiliki konsep yang jelas tentang tahta untuk rakyat.
Konsep hamemayu hayuning bawana adalah ihwal space culture atau ruang budaya sekaligus spiritual culture atau spiritualitas budaya.
Baca Juga: Sediakan 400 Kantong Beras SPHP di Kemantren Jetis, Pemkot Jogja Gelar Pasar Murah
Ini menjadi upaya melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin.
"Jogjakarta itu dengan dasar filosofisnya, sejarahnya serangan 1 maret 1949 adalah salah satu tapi sebelumnya ada Yogyakarta menyatakan bersatu dengan Indonesia yang baru merdeka, agresi militer, Jogja menjadi ibu kota negara," bebernya.
Puns peristiwa sebelumnya pada 22 Desember 1928, Jogjakarta menjadi tempat kongres perempuan pertama.
Lalu secara faktual Yogyakarta menjadi situs kebudayaan Indonesia yang penting, menjadi episentrum intelektual karena banyak orang sekolah di universitas di Yogyakarta.
Kemudian, Jogja menjadi miniatur kebudayaan nasional.
"Artinya ke Indonesiaan ada di sini. Maka Yogyakarta adalah pertahanan budaya yang penting bagi Republik Indonesia. Kalau ada apa-apa dengan Indonesia maka pertahanannya ada disini," tambahnya.
Sementara Pengajar Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Sri Margana menambahkan, HPKN merupakan peristiwa nasional yang selama ini diperingati sebagai serangan umum 1 Maret.
Dan, seolah-olah peringatan peristiwa ini hanya milik masyarakat Jogja saja karena lokus peristiwanya.
Menurutnya, peringatan HPKN seharusnya menjadi inisiatif pemerintah pusat untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat Indonesia bahwa peristiwa itu bukan sekadar peristiwa lokal namun nasional.
Sekaligus, untuk mensosialisakan hari penegakan kedaulatan negara.
"Padahal sebetulnya itu peristiwa nasional dan itu sudah diakui oleh negara," imbuhnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad