Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Prosesi Kuthomoro dan Sadranan Dalem di Makam Raja Raja Mataram Kotagede

Agung Dwi Prakoso • Senin, 26 Februari 2024 | 23:30 WIB
Abdi dalem Keraton Jogja berjalan membawa ubo rampe menuju Makam Hasto Renggo untuk Hajad Dalem  Kuthomoro, sebelumnya sudah digelar di kompleks Makam Raja-Raja Mataram Kotagede, Senin (26/2/2024).
Abdi dalem Keraton Jogja berjalan membawa ubo rampe menuju Makam Hasto Renggo untuk Hajad Dalem Kuthomoro, sebelumnya sudah digelar di kompleks Makam Raja-Raja Mataram Kotagede, Senin (26/2/2024).

JOGJA - Keraton Ngayogyakarta selenggarakan agenda  Kuthomoro dan Sadranan Ndalem atau Ziarah Raja Mataram di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Kotagede, Senin (26/2/2024). Acara tersebut serentak dilakukan di tiga lokasi yaitu Makam Raja Raja Imogiri, Kotagede dan Hasto Renggo.

"Acara hari ini adalah lanjutan dari acara kemarin yaitu Kuthomoro. Kuthomoro adalah proses penerimaan uborampe ziarah dari utusan Kraton Ngayogyakarta," ujar Abdi Dalem Tepas Puroloyo Kotagede, Ngabdul Rahmanto, Senin (26/2/2024). 

Setelah uborampe diterima dari pihak abdi dalem Makam Raja Raja Kotagede, acara dilanjutkan prosesi ziarah atau sadranan. Sadranan tersebut bertujuan untuk mengirim doa untuk arwah leluhur para pendiri kerajaan Mataram. 

"Kalau disini diantaranya ada Ki Ageng Mataram, Kanjeng Panembahan Senopati, Sinuwun Prabu Hanyakrawati, Sri Sultan Hamengku Buwono kedua serta seluruh kerabat yang ada di pesarean ini," jelasnya. 

Acara dimulai dari penyiapan ubo rampe di depan masjid Gede Mataram Kotagede. Selanjutnya, para abdi dalem melakukan kirab dari depan masjid sampai di dalam kompleks masjid. 

"Sesampainya di masjid kita lakukan dzikir tahlil dan doa. Setelah itu kita lakukan tabur bunga," tuturnya. 

Acara tabur bunga di lakukan di dua komplek makam yang berdekatan yaitu di kompleks Makam Raja-Raja Mataram dan Hasto Renggo. Hasto Renggo merupakan pemakaman dari Putra Sultan Hamengku Buwono (HB) VII, Pangeran Juminah. 

Sementara itu, Pangarso Tepas Puroloyo Kotagede, KRT Hastono Negoro menambahkan agenda Kuthomoro dan Sadranan Ndalem merupakan agenda dari Sri Sultan Hamengku Bawano Ka 10 untuk menziarahi leluhurnya lewat utusan yaitu para abdi dalem. Hasto Renggo didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. 

"Pasarean ini diperuntukan untuk putra wayah dalem dari HB 1 sampai HB 10 boleh dimakamkan disini," jelasnya. 

Artinya, Hasto Renggo tersebut tempat pemakaman yang hanya boleh diperuntukan anak dan cucu Raja Keraton Ngayogyakarta. Salah satunya adalah Pangeran Juminah. 

"Posisi makamnya ada di tajuk. Tajuk adalah bangunan yang berada di atas, sedangkan poro wayah (cucu) berada di bawah," jelasnya. 

"Kalau selain wayah tidak diperkenankan, kecuali atas ijin Ngarso Dalem," imbuhnya. 

Ia menyampaikan bahwa acara tersebut dilakukan rutin setiap bulan ruwah menjelang bulan Ramadan. Peserta ziarah merupakan abdi dalem dari Keraton Ngayogyakarta dan Keraton Surakarta (Solo). 

"Karena ada hubungan baik antara Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta dan Abdi Dalem Keraton Surakarta sehingga abdi dalem Keraton Surakarta juga ikut nyengkuyung," jelasnya. 

Dalam acara tersebut, ubo rampe (perlengkapan) ritual langsung diberikan dari Keraton Ngayogyakarta. Ubo rampe tersebut diantaranya bunga-bungaan dan wewangian seperti menyan. 

"Kita tinggal menyampaikan hajat dalem, kalau yang di Senopaten diwakili oleh KRT Hastono Kusumo kalau di Hasto Renggo adalah saya yang mewakili Ngarso Dalem caos Sekar (tabur bunga) di sini," tandasnya. 

"Ubo rampe yang khusus itu cuma menyan yang lain daripada yang lain. Menyannya itu dibungkus dengan kertas di bentuk sedemikian rupa dan di kasih minyak langsung dari Keraton," imbuhnya. 

Dari pantauan Radar Jogja, peserta acara ziarah yang terdiri dari abdi dalem Keraton Ngayogyakarta dan Keraton Surakarta menggunakan model Surjan atau pakaian yang berbeda. Dari Keraton Ngayogyakarta mereka mengenakan Pranakan lengkap dengan Samir dan keberadaan mondholan yang menjadi ciri khas udeng/blangkon Yogyakarta. Sementara itu, abdi dalem Keraton Surakarta menggunakan Surjan berwarna hitam lengkap dengan blangkon dan samirnya, perbedaan terdapat di blangkon abdi dalem Keraton Surakarta yang tidak ada mondholanya.

 

Dalam perjalanan dari Kompleks Makam Raja Raja Mataram Kotagede menuju Hasto Renggo, para abdi dalem kompak mendengungkan puji pujian yaitu shalawat nabi sambil berjalan kaki tanpa alas.  Letak dua makam tersebut berdekatan dengan jarak kurang lebih 500 meter. (oso)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Kota Jogja #Keraton Ngayogyakarta #Abdi Dalem #kotagede