RADAR JOGJA - Tradisi tahunan jelang bulan puasa berupa "Ngapem Ruwahan Kampung Ratmakan" kembali digelar kemarin (25/2). Apem, ketan dan kolak dijadikan gunungan besar sebagai simbol saling memaafkan antarsesama manusia dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Festival apem merupakan refleksi dari sebuah proses menuju bulan suci Ramadan yaitu pada saat bulan ruwah atau ruwahan," ujar Penjabat Wali Kota Jogja Singgih Raharjo yang hadir dalam festival dari tradisi menjelang Ramadan ini kemarin (25/2).
Dalam tradisi ruwahan terdapat makanan identik yang wajib dihadirkan saat acara Ngapem Ruwahan Kampung Ratmakan. "akanan yang selalu disediakan kolak, apem dan ketan. Apem merupakan manifestasi dari ampunan yang berasal dari bahasa Arab yaitu afuun," elasnya.
Tradisi ruwahan itu hendaknya tetap diteruskan mengingat nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap aspek dalam acara Ngapem Ruwahan. Selain itu, acara itu merupakan salah satu peringatan awal untuk masyarakat bahwa sebentar lagi telah memasuki bukan Ramadan.
"Mengingat esensi acara itu, sehingga pada saat memasuki bulan Ramadan semoga kita sudah tidak ada dosa karena telah saling memaafkan. Semoga kita bisa melaksanakan bulan Ramadan yang penuh berkah dan pahala," tambahnya.
Ketua Panitia Ngampem Ruwahan Kampung Ratmakan Ahmad Munandirin menambahkan, acara itu untuk mewujudkan Kampung Ratmakan yang kuat damai dan rukun. Selain itu, makna simbolis juga disampaikaan seperti apem, kolak yang juga dari bahasa Arab yaitu khalik berarti Sang Pencipta atau Allah SWT.
"Sedangkan ketan berasal dari kata kemutan yang berarti teringat. Maknanya adalah agar kita selalu ingat dengan Allah SWT," jelasnya.
Ahmad juga menyampaikan, Ngapem Ruwahan Kampung Ratmakan sudah dua kali diselenggarakan. Harapanya bisa terus dilanjutkan untuk menjadi agenda budaya dan menjadi wadah kerukunan antar warga.
Dari pantauan Radar Jogja peserta yang mengikuti acara ini sekitar 200 orang. Mereka melakukan kirab terlebih dahulu dengan membawa tiga gunungan. Gunungan berisi sayur hasil bumi, gunungan ketan, kolak dan apem dan terakhir gunungan oleh-oleh khas Jogja yaitu bakpia.
Peserta mengenakan adat Jawa dan beberapa di antaranya memakai make up badut yang menarik. Selain itu rombongan bregada juga ikut mengiringi arak-arakan gunungan. Di barisan terakhir, ada pertunjukan barongsai yang juga ikut mengiringi arak-arakan. (oso/laz)