JOGJA - Tradisi tahunan jelang bulan puasa yaitu Festival Apem 'Ngapem Ruwahan Kampung Ratmakan' Kota Jogja kembali digelar, Minggu (25/2/2024). Apem, Ketan dan Kolak dijadikan gunungan besar sebagai simbol saling memaafkan antar sesama manusia dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Acara tersebut juga dihadiri oleh Penjabat Walikota Jogja, Singgih Raharjo.
"Festival Apem merupakan refleksi dari sebuah proses menuju bulan suci Ramadan yaitu pada saat bulan ruwah atau ruwahan," ujar Penjabat Walikota Jogja, Singgih Raharjo, Minggu (25/2/2024).
Dalam tradisi ruwahan, terdapat makanan identik yang wajib dihadirkan aat acara Ngapem Ruwahan Kampung Ratmakan. Makanan tersebut adala Apem, Kolak dan Ketan yang digunakan sebagai simbol tertentu.
"Makanan yang selalu disediakan Kolak, Apem dan Ketan. Apem merupakan manifestasi dari ampunan yang berasal dari bahasa Arab yaitu Afuun," jelasnya.
Tradisi ruwahan tersebut hendaknya tetap diteruskan mengingat nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap aspek dalam acara Ngapem Ruwahan. Selain itu, acara tersebut merupakan salah satu peringatan awal untuk masyarakat bahwa sebentar lagi tekah memasuki bukan Ramadan.
"Mengingat esensi acara tersebut, sehingga pada saat memasuki bulan Ramadan semoga kita sudah tidak ada dosa karena telah saling memaafkan," tandasnya.
"Semoga kita bisa melaksanakan bulan Ramadan yang penuh berkah dan penuh pahala," imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Acara Ngampem Ruwahan Kampung Ratmakan, Ahmad Munandirin menambahkan acara tersebut juga bertujuan untuk mewujudkan Kampung Ratmakan yang kuat damai dan rukun. Selain itu, makna simbolis juga disampaikaan seperti Apem yang berasal dari bahasa Arab Afuun atau ampunan, Kolak yang berasal dari bahasa Arab yaitu Khalik yang berarti Sang Pencipta atau Allah SWT.
"Sedangkan Ketan berasal dari kata Kemutan yang berarti teringat. Maknanya adalah agar kita selalu ingat dengan Allah SWT," jelasnya.
Ahmad juga menyampaikan bahwa acara Ngapem Ruwahan Kampung Ratmakan sudah dua kali diselenggarakan. Harapanya bisa terus dilanjutkan untuk menjadi agenda budaya dan menjadi wadah kerukunan antar warga, lanjutnya.
"Acara ini diikuti oleh tiga RW (Rukun Warga) Kampung Ratmakan yaitu RW 7, 8 dan 9 serta masyarakat sekitar," pungkasnya.
Dari pantauan Radar Jogja, peserta yang mengikuti acara tersebut kurang kebih 200 orang. Mereka melakukan kirab terlebih dahulu dengan membawa tiga gunungan. Gunungan tersebut berisi sayur hasil bumi, gunungan ketan, kolak dan apem dan terakhir gunungan oleh-oleh khas Jogja yaitu bakpia.
Peserta menggunakan pakaian adat jawa dan beberapa diantaranya memakai make up badut yang menarik. Selain itu rombongan bregodo juga ikut mengiringi arak-arakan gunungan tersebut. Di barisan terakhir, terdapat pertunjukan barongsai yang juga ikut mengiringi arak-arakan. (oso)
Editor : Iwa Ikhwanudin