JOGJA - Pemprov DIY berupaya melakukan elaborasi dengan Polri, khususnya dalam pengembangan program Smart City. Kerja sama itu diimplementasikan salah satunya dalam penyelenggaraan lalu lintas.
Terlebih, jika fungsional tol Jogja-Solo telah dibuka penuh, dibutuhkan penanganan manejemen lalu lintas yang maksimal.
Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X mengatakan, siap berkolaborasi dan berelaborasi dengan Polri terhadap pengembangan smart city ini.
Hal ini sebagai upaya pemprov membangun afiliasi dengan lembaga-lembaga lain termasuk Polri untuk mendukung keberhasilan smart city.
Terlebih, program smart city tersebut sangat luas tidak hanya menghubungkan DIY dengan daerah lain melainkan bahkan mampu menjangkau seluruh dunia.
“Smart city ini dibutuhkan oleh banyak pihak, himpunan-himpunan, kampus, mal, toko dan sebagainya. Pun dari Polri, bagaimana kita bisa membangun kerjasama untuk mengatur penyelenggaraan layanan lalu lintas. Jogja memang bukan kota metropolitan tapi nanti tol sudah selesai, pasti perlu penanganan lebih, agar lalu lintas tidak makin crowded,” katanya di Kompleks Kepatihan Jumat (23/2).
HB X menjelaskan, Jogja Smart Province menjadi salah satu faktor yang membuat Polri tertarik menjadikan DIY sebagai pilot project program Smart City.
Smart City dari Polri ini berbasis Algoritma Road Safety Policy, nantinya untuk menunjang keselamatan di jalan raya.
Melalui smart city yang berintegrasi dengan smart province ini dapat diatur bagaimana keamanan dan kenyamanan lalu lintas.
Hal ini dapat memetakan bagaimana traffic-nya hingga menangani potensi kejahatan.
Apalagi, DIY saat ini sudah memaksimalkan penggunaan IT hingga ke level kalurahan.
"Ini tentu akan memudahkan petugas di lapangan seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas di lapangan," ujarnya.
Raja Keraton itu menyebut, DIY sangat siap untuk saling bersinergi dengan program Polri ini.
Saat ini DIY sedang mengembangkan pemasangan kabel optik hingga ke pelosok kalurahan dalam rangka mendukung kebutuhan koneksi internet.
Hal ini sebagai antisipasi tower BTS yang dapat tumbang karena faktor alam.
“Peristiwa 2010 (erupsi Merapi) banyak menara BTS yang runtuh terbakar, hingga HP tidak berfungsi. Sehingga maunya memudahkan untuk pertolongan jadi tidak bisa. Nah, kami coba cari alternatif dengan kabel optik ini siapa tahu kalau ada bencana, kabel ini tidak rusak, masih ada pilihan untuk pertolongan bisa lebih cepat,” jelasnya.
Dirgakkum Korlantas Polri Brigjen Pol Aan Suhanan mengatakan, pembangunan smart city berbasis Algoritma Road Safety untuk keselamatan di jalan.
Pihaknya telah sepakat bersama pemprov untuk saling mendukung program tersebut.
“Di Yogyakarta ada Smart Province, ini nanti akan berkolaborasi dengan smart city yang berbasis road safety ini. Beliau (HB X) mendukung kolaborasi untuk membangun Jogjakarta yang pintar. Kami akan memanfaatkan ini untuk membangun efisiensi yang sudah ada di Yogyakarta,” bebernya.
Menurutnya, program Polri khususnya Polantas ini memang diinisiasi untuk mendapatkan data terkait dengan kelancaran lalu lintas di Yogyakarta.
Nantinya apabila sudah berjalan, kota-kota lain akan mereplika.
Program ini akan dapat menghitung kapan harus melakukan rekayasa lalu lintas dengan algoritma yang ada.
Misalnya, pembangunan flyover, durasi traffic light, jumlah kendaraan pada ruas-ruas jalan tertentu, dan sebagainya.
Pun juga untuk memetakan keamanan secara keseluruhan dari kepolisian. Dengan banyaknya informasi yang di dapatkan maka bisa berkontribusi untuk mengamankan Yogyakarta.
"Untuk proyeksi tingkat keberhasilan, dengan Ngarsa Dalem yang sudah mendukung kegiatan, Insya Allah bisa kita maksimalkan hasilnya. Yang terpenting kolaborasi, sehingga pemanfaatannya bisa untuk Polri, untuk provinsi dan untuk masyarakat tentunya,” tambahnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad