JOGJA - Sinden muda asal Jogja Elisha Orcarus mengaku tertarik untuk melestarikan budaya. Di antaranya, dunia pedalangan.
Dia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terkait hal tersebut. Sebab, menurutnya, dunia wayang itu sangat kompleks.
"Sebenarnya saya masuk dunia pedalangan itu bukan didasari rasa suka. Tapi, rasa ingin tahu dan itu yang selalu buat aku ingin bertahan karena aku belum menemukan jawaban. Jadi, aku semakin lama semakin mendalami karena hal itu karena aku penasaran," jelasnya.
Elisha Orcarus adalah sinden muda yang berkiprah di dunia pertunjukan wayang kulit. Ia dulu sering tampil dalam berbagai pertunjukan wayang bersama Ki Seno Nugroho.
Kecintaanya pada dunia seni dan ketertarikanya pada wayang kulit mengantarkan Elisha Orcarus untuk mengambil kuliah di jurusan pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Di sana, Elisha mempelajari ilmu soal pedalangan dan pewayangan.
Elisha sampai saat ini masih bertahan di dunia peyawangan. Sebab, dia menngaku tidak bisa mempelajari satu hal itu dengan tanggung.
I ingin bertanggung jawab terhadap apa yang pilihnya.
Bagi Elisha, dunia pedalangan adalah suatu hal lain dari pada yang lain. Karena, baginya wayang itu di dunia tidak tertutur.
Menurutnya, kebanyakan dunia ini hanya ada gerak boneka yang lebih ke akrobatik boneka saja.
'Tapi, dalang itu kan kayak semua udah di taruh di si dalang," ucapnya.
Misal seperti pada zaman dahulu dalang juga bisa menjadi tabib atau orang yang dianggap pendeta.
Segala hal sepertinya ada pada diri si dalang. Bahkan, mungkin di mata masyarakat desa zaman dahulu, ludahnya si dalang bisa untuk obat.
"Itu adalah hal yang menarik bagi saya, ya. Karena satu itu adalah teater yang dimiliki sendiri, terus dia juga sangat memikirkan anak buah yang kurang lebih kisaran 40 sampai 50 orang. Dia harus bisa membuat pertunjukan apa yang ia mau. Dan, itu semua hanya dilakukan dengan kode. Memang itu adalah hal yang menarik. Karena mungkin dibelahan dunia yang lain itu gak ada," ucap Elisha.
Elisha mengaku dulu ketika masuk kuliah pedalangan masih sangat minder dengan dunia wayang.
"Sebenarnya aku dulu senangnya nonton, dan penginnya jadi peneliti. Tapi, keadaan membuatku tergiring sampai sekarang. Bahkan, sampai saat ini pun aku jadi mendalang," bebernya.
Elisha mengungkapkan hal yang terus membuatnya bergelut di dunia wayang. Alasannya adalah adanya wajah para penonton wayang.
Sebab, dari awal penelitian sampai sekarang yang selalu didambakannya adalah wajah penonton wayang.
Termasuk ketika Elisha sedang di atas panggung atau ketika bersama mereka.
Menurut Elisha, hal yang membuatnya terkesima adalah wajah-wajah antusias para penonton dan kedalaman pandangan mereka ketika menonton wayang.
Baginya, hal itu sangat berbeda dengan orang-orang yang sedang nonton konser.
Elisha menjelaskan, ketika seseorang sedang nonton konser ibaratnya seperti euforia saja. Tapi, kalau nonton wayang itu ada tingkatan penontonnya.
Misal, ada orang yang menonton karena sangat mendalami lakon sebuah pertunjukan tersebut. Ada lagi karena mereka sangat mencintai sinden-sindennya.
Di sisi lain, Elisha berharap para anak muda zaman sekarang bisa tertarik dengan budaya seperti wayang.
Akan tetapi sebagai seniman, Elisha mengaku tidak bisa membuat para anak muda senang dengan budaya.
Karena baginya, jika anak-anak muda semakin ditarik atau dipaksa maka malah semakin mental.
"Dulu ketika aku ikut Pak Seno, kami memiliki frekuesi atau visi misi yang sama. Yaitu, kami mencoba agar anak muda itu tertarik dulu," katanya.
Bukan tanpa alasan Elisha berkata sepeti itu. Tak masalah ketika anak muda memiliki rasa penasaran dengan wayang meski hanya nonton limbukan atau petilan-petilannya.
Namun, hal itu lambat laun pasti bisa membuat mereka tertarik dengan budaya wayang tersebut.
"Jadi, tidak harus mengerti wayang secara utuh dari awal sampai akhir. Dari petilan-petilan itu membuat penasaran dan lebih mendalami," tegasnya. (ayu)
Editor : Amin Surachmad