JOGJA - Dinas Perhubungan (Dishub) DIY menyiapkan strategi manajemen rekayasa lalu lintas sejalan dengan rencana dibukanya sebagian tol fungsional Jogja-Solo pada Idul Fitri mendatang.
Meski exit tol berada di Klaten Jawa Tengah, antisipasi dampak kepadatan tetap akan dilakukan.
Plh Kepala Dishub DIY Sumariyoto mengatakan, dampak dari pembukaan fungsional akan terlihat nanti di exit tol yaitu adanya perlambatan lalu lintas.
Disebabkan karena peningkatan volume kendaraan yang masuk melewati exit tol tersebut. Meski exit tol berada di Klaten, Jawa Tengah, tetap menyiapkan antisipasi.
"Akan kami arahkan kendaraan yang tidak singgah ke Jogja pakai jalur alternatif," katanya Rabu (21/2).
Oyot menjelaskan antisipasi tersebut seperti yang telah dilakukannya saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) lalu. Sejumlah jalur alternatif disiapkan di beberapa pintu masuk DIY. Baik dari sisi barat, timur dan utara.
Dari sisi barat Jogja di simpang menuju ke Pantai Glagah diarahkan mengambil arah kanan melalui Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS).
Kemudian dari arah timur di simpang Gading dari arah Wonosari, Gunungkidul disarankan belok kanan agar kendaraan tidak tertumpuk di Patuk dan Piyungan.
Sementara, dari sisi utara kendaraan juga ambil jalur ke Tempel ke kiri melewati jalur alternatif. Serta dari utara yang mengambil jalur dari Klangon serta di wilayah Kulonprogo.
Meski, berdasar evaluasi sebelumnya bahwa kendaraan yang masuk dan keluar tetap padat dari sisi timur. Namun strategi yang sama itu akan digunakan pada masa lebaran nanti.
"Tetap kita antisipasi, jangan sampai kendaraan terjebak di dalam kota. Makanya kita arahkan ke jalur alternatif bagi yang tidak singgah ke Jogja. Manajemen lalu lintas untuk lebaran juga belum, masih kita desain," ujarnya.
Terpisah, Sekprov DIY Beny Suharsono mengatakan, persiapan pembukaan fungsional tol Jogja-Solo itu sudah dilakukan. Beberapa kali pihaknya telah menggelar rapat koordinasi dengan stakeholder terkait.
"Kami sudah bicara dengan semua kabupaten bagaimana caranya kita bersama-sama antara dinpar, dishub, pu membaca, termasuk pengaturan sistem bangjo. Nggak mungkin, to, mau masuk Jogja yang dari arah barat stop suwe (lama), dowo banget (panjang sekali)," katanya.
Beny menyebut kabupaten kota di wilayah setempat harus memiliki skenario masing-masing untuk mengantisipasi kepadatan arus dampak dari pembukaan fungsional tol pada lebaran mendatang.
Sebab, dengan tol fungsional dibuka diartikan orang masuk ke Jogjakarta akan lebih mudah. Sementara tanpa tol saja diklaim jalan di Jogja sudah stuck.
"Kalau ke Surabaya kan lambatnya dari Surabaya ke Solo, sementara dari Solo sudah dibuka tol fungsional kan aksesnya cepat sekali. Perlu ada rest area di perbatasan masuk Sleman, Gunungkidul, supaya orang masuknya tidak bersamaan," ujarnya.
Dengan dibukanya tol fungsional Jogja-Solo pada lebaran nanti, perlu pengaturan lampu lalu lintas yang tepat agar mampu mengurai kepadatan arus terutama di dalam Kota Jogja.
Hal ini untuk saling mengantisipasi bagaimana mengalirkan orang masuk dengan menata sistem traffic.
"Kemudian kalau orang ke pantai selatan kan biasanya dari barat, bisa nggak dari timur atau tengah. Supaya memecah konsentrasi, makanya jalan ke pantai selatan juga kita pecah sehingga tidak konsentrasi di Jalan Piyungan," tambahnya.
Adapun pada Nataru lalu pengelola tol sudah membuka ruas jalan tersebut sepanjang 13 kilometer mulai dari Kartasura, Sukoharjo sampai Karanganom, Klaten, selama 10 hari.
Pada Lebaran nanti ruas jalan yang dibuka rencananya akan ditambah menjadi 23-25 kilometer dari titik masuk Kartasura. (wia)
Editor : Amin Surachmad