RADAR JOGJA - Pemprov DIJ memastikan ketersediaan stok beras tercukupi menjelang Ramadan Maret mendatang. Meski memang harga beras di tingkat pedagang masih fluktuatif, keterjangkauan pasokan dipastikan aman.
Sekprov DIJ Beny Suharsono mengakui, harga beras saat ini memang masih fluktuatif. Hal ini disebabkan karena belum semuanya memasuki masa panen. “Panen raya baru akan terjadi Maret mendatang,’’ ujar Beny, kemarin (18/2).
Meski harga terbilang tinggi utamanya beras premium yang sudah menyentuh Rp 18 ribu per kilogram, dipastikan ketersediaan untuk DIJ mencukupi.Apalagi, ketika sudah dilaksanakan panen raya nanti, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang dibentuk pun telah diminta untuk menjaga buffer stock ini agar terjadi kestabilan harga dan ketersediaan.
Terkait fenomena tingginya harga beras saat ini pemprov mendorong segera dilakukan operasi pasar. Hal ini juga sebagai upaya agar tidak terjadi inflasi daerah. Sementara, jika terjadi inflasi maka daya beli masyarakat akan makin tidak mampu lagi. “Jadi sekarang bagaimana suplai yang dibutuhkan masyarakat itu tersedia di pasar," jelasnya.
Di Gunungkidul, beras jenis premium yang sebelumnya Rp 15 ribu sampai Rp 16 ribu kini mencapai 18 ribu per kilogram. Dinas Perdagangan Gunungkidul mencatat harga beras terus meroket baik sebelum Pemilihan Umum (Pemilu) maupun pasca Pemilu 2024. Kenaikan harga mulai dari Rp 500 sampai dengan Rp 1.000.
Kepala Dinas Perdagangan Gunungkidul Kelik Yuniantoro mengatakan, belum adanya tanda-tanda penurunan harga beras baik jenis premium maupun medium di pasaran. "Sebelum Pemilu kemarin, kami melakukan operasi pasar dan harga beras selalu naik mulai dari Rp 500 sampai Rp 1.000," ujar Kelik.
Untuk Pasar Argosari, Bulog rutin mendistribusikan beras ke pedagang sebanyak sembilan ton. Namun begitu, harga selalu menunjukkan kenaikan meskipun ketersediaan tidak pernah berkurang.
Kelik menjelaskan, kenaikan harga beras di Kabupaten Gunungkidul disebabkan permintaan dan persediaan beras yang kurang seimbang.
"Permintaan meningkat, itu salah satu faktor yang menyebabkan kenaikan harga," jelasnya.
Sejak 7 Februari sampai 14 Februari 2024, pihaknya menghentikan sementara operasi pasar. "Kami mulai operasi lagi pasca pemilu, ketersediaan tetap ada namun harga selalu meningkat," ucapnya.
Operasi pasar dilakukan dengan melibatkan Bulog, Dinas Perdagangan, Satgas Pangan yang terdiri dari Jajaran Kodim dan Polres Gunungkidul. (wia/cr6/din)
Editor : Satria Pradika