Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Harga Beras Fluktuatif, Pemprov DIY Sediakan Buffer Stock Pastikan Ketersediaan Tercukupi Jelang Ramadan dengan Harga Stabil

Winda Atika Ira Puspita • Minggu, 18 Februari 2024 | 23:10 WIB
NORMAL: Salah satu pedagang beras di Pasar Sleman. Komoditas beras diketahui harganya cukup tinggi sampai saat ini.
NORMAL: Salah satu pedagang beras di Pasar Sleman. Komoditas beras diketahui harganya cukup tinggi sampai saat ini.

JOGJA - Pemprov DIY pastikan ketersediaan stok beras tercukupi menjelang ramadan Maret mendatang.

Meski memang harga beras di tingkat pedagang masih fluktuatif, keterjangkauan pasokan dipastikan aman.

Sekprov DIY Beny Suharsono mengatakan, harga beras saat ini memang masih fluktuatif.

Hal ini disebabkan karena belum semuanya memasuki masa panen.

Panen raya baru akan terjadi bulan Maret mendatang.

"Setelah Desember ditanam ya Maret mungkin akan panen raya sehingga kita bisa menahan (stok beras)," katanya Jumat (16/2).

Beny menjelaskan meski harga tebilang tinggi utamanya beras premium yang sudah menyentuh Rp 18 ribu per kilogram dipastikan ketersediaannya akan mencukupi untuk DIY.

Apalagi, ketika sudah dilaksanakan panen raya nanti, badan usaha milik daerah (BUMD) yang dibentuk pun telah diminta untuk menjaga buffer stock ini agar terjadi kestabilan harga dan ketersediaan menjelang Ramadan.

Sehingga ketersediaan untuk Ramadan nanti diupayakan tercukupi dengan harga yang stabil.

Terlebih, hasil produksi beras DIY diklaim disukai pasar di luar DIY.

"Stoknya cukup cuma kita ingat berasnya DIY itu kan keluar banyak diminati dari daerah luar. Sehingga kalau ini terjadi berarti ada penarikan beras kita keluar, makanya kita bentuk satu BUMD untuk menjaga buffer stock itu," ujarnya.

Adapun, terkait fenomena tingginya harga beras saat ini pemprov mendorong agar segera dilakukan operasi pasar.

Hal ini juga sebagai upaya agar tidak terjadi inflasi daerah. Sementara, jika terjadi inflasi maka daya beli masyarakat akan makin tidak mampu lagi.

"Makanya yang kita dorong mungkin kecepatannya ada operasi pasar. Dalam waktu dekat, supaya stoknya ada. Cuma stoknya kemana itu kan karena sirkulasi pasarnya cepat sekali. Jadi sekarang bagaimana suplai yang dibutuhkan masyarakat itu tersedia di pasar," jelasnya sembari menyebut penghasil beras di DIY terdapat Kabupaten Sleman dan Bantul.

Terpisah, seorang pedagang nasi keliling Waluyati mengeluhkan harga beras yang terus merangkak tinggi.

Ia menjadi salah satu yang terdampak, dari biasanya menjual nasi bungkus sebanyak 40 bungkus saat ini hanya tinggal 20 bungkus.

Pun belum lama ini tak jualan nasi bungkus karena tidak mengantongi untung.

"Mau jualan sega nek ra entek, yo, rugi (mau jualan nasi kalau nggak habis ya rugi)," tandasnya.

Dia biasa menggunakan beras jenis C4 Raja yang saat ini tembus harga Rp 17 ribu per kilo sebelumnya di angka Rp 14 ribu sampai Rp15 ribu per kilo.

Kemudian jenis mentik wangi yang tembus Rp 18 ribu per kilo.

"Biasa beli 5 kilo sekarang 2 kilo. Sekarang kalau bisa beli beras, nanti nggak isa beli lawuh. Takut beli banyak, ora entek ora laku," tambahnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#Pemprov DIY #stok beras #harga beras