Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

TPS Unik di Dipoyudan Ngampilan Jogja, Mengusung Tema Sampah, Ada Properti Pendukung Logistik Terbuat dari Daur Ulang Sampah

Winda Atika Ira Puspita • Rabu, 14 Februari 2024 | 23:35 WIB
ISTIMEWA: Tempat Pemungutan Suara (TPS) 14 di Dipoyudan, Ngampilan, Kota Jogja, mengusung tema unik.
ISTIMEWA: Tempat Pemungutan Suara (TPS) 14 di Dipoyudan, Ngampilan, Kota Jogja, mengusung tema unik.

JOGJA - Tempat Pemungutan Suara (TPS) 14 berlokasi di Dipoyudan, Ngampilan, Kota Jogja mengusung tema unik.

Tema sampah diusung dalam properti pendukung logistik pemilu hingga dekorasi TPS yang diplesetkan menjadi Tempat Pemilahan Sampah.

Ketika masuk TPS ini, warga akan menemui tak sedikit properti sampah terpajang di sana. Mulai dari sebuah gerobak sampah berwarna biru, berisi ranting-ranting pohon serta kardus bekas.

Kemudian ada pula botol-botol bekas air minum mineral dan kaleng bekas yang di-display di depan bilik suara.

Uniknya juga, properti pendukung logistik yang didesain dari olahan sampah yakni kotak suara dibuat dari berbahan tutup drum bekas.

Salah satu properti pendukung ini dibuat langsung oleh warga sekitar.

Pun terdapat satu slogan yang diakselerasikan antara permasalahan sampah dengan pemilu di antaranya pada bagian tembok TPS, tertera tulisan Wilayahe Resik, Rejekine Asik dan Pilih Sing Becik, Negarane Apik.

Demikian pula di masing-masing bilik suara tertera tulisan Adem, Ayem, dan Tentrem.

"Sebetulnya kita mengangkatnya isu lingkungan, cuma kita kan kalau lingkungan temanya masih terlalu umum. Kemudian kita lebih kerucutkan terkait masalah sampah. Karena memang sampah di Kota Jogja khususnya baru menjadi isu yang strategis," kata Koordinator Tim Pendukung TPS 14 Dipoyudan, Ngampilan Dimas Arifin Hamsyah di TPS 14.

Dimas menuturkan dengan konsep tersebut memberikan pesan moral kepada masyarakat yang datang menggunakan hak pilihnya.

Sehingga diharapkan bisa sadar akan pentingnya permasalahan sampah di Kota Jogja.

"Setidaknya bisa ikut membantu menyelesaikan permasalahan sampah yang ada di Kota Jogja," ujarnya.

Menurutnya, dengan tema atau konsep tersebut bukanlah sebuah sindiran kepada pemangku kebijakan melainkan ajakan ke masyarakat yang diwujudkan lewat hiasan lampion dan sebagainya yang dibuat warga dari sampah plastik.

Harapannya, ini bisa memicu masyarakat yang lain untuk bisa berpartisipasi dalam kegiatan penanganan sampah.

"Semua properti-properti dibuat oleh warga sendiri, kalau terkait dengan masalah kepemiluannya memang dari KPU tapi properti pendukungnya semua dari warga masyarakat," jelasnya.

Konsep tersebut disiapkan oleh warga khususnya para pemuda sekitar dengan estimasi waktu 2 hari sebelum pemungutan suara.

Sementara petugas KPPS tetap fokus memeprsiapkan teknis pemilu-nya.

"Kita dengan warga masyarakat khususnya pemuda ini yang sama-sama membantu melengkapi menyiapkan beberapa properti pendukungnya. Sehingga teman-teman KPPS bisa lebih konsen kesana (teknis pemilu)," terangnya.

Selain itu, para petugas KPPS di sana juga berkostum sehari-hari atau tanpa seragam. Hal ini menandai keseharian masyarakat di sana.

TPS di kawasan Dipoyudan bukan kali pertamanya mengusung tema yang unik dalam gelaran pemilu lima tahunan itu.

Tema unik telah dihadirkan sejak pemilu 2014 silam, petugas KPPS juga mengenakan kostum unik yakni seragam SD, sementara pada pemilu 2019 mengenakan pakaian bertema wayang.

"Kami berupaya memberikan konsumsi publik yang menarik, bukan hanya secara tampilan namun tetap ada pesan moral," tambahnya.

Sementara itu, di TPS 4 yang berlokasi di SDN Vidya Qasana Jalan Tentara Pelajar No 23 Bumijo, Jetis, Kota Jogja juga unik.

Baca Juga: Butet Kartaredjasa Meyatakan Siapapun Pemenangnya Tidak Ada Masalah, Asalkan Jujur

Para petugas KPPS mengenakan pakaian adat nusantara saat bertugas melayani para pemilih yang menggunakan hak suaranya di Pemilu 2024. 

Ada yang memakai baju adat Maluku, Padang, Jogja, Jawa Tengah, Papua dan juga baju adat Batak.

Ketua KPPS TPS 04 Sugito mengatakan, ide penggunaan pakaian adat itu muncul dengan alasan ingin tampil berbeda saat p
Pemilu kali ini.

Menurutnya, pemilu merupakan gelaran besar yang dianggap perlu disambut meriah. Maka, pada TPS ini menghadirkan suasana berbeda dengan memilih pakaian adat Nusantara untuk mengekspresikan bahwa pemilu adalah persatuan dalam perbedaan.

"Namanya pesta, kemudian kita beragam suku dan budaya makanya kita berekspresi untuk membuat kenangan bahwa kita mencintai seluruh budaya yang ada di Indonesia termasuk adatnya," katanya.

Menurutnya, melalui tema yang diusung kali ini dapat memberikan pesan bahwa pemilu hanya alat untuk memilih pemimpin lima tahun ke depan.

Perbedaan pilihan yang ada, sehingga perlu menghindari untuk tidak sampai memecah belah persatuan.

"Pesan kita supaya lebih mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini dengan berbagai macam suku, adat, bahasa dan lainnya sesuai dengan semboyan kita Bhineka Tunggal Ika. Walaupun beda pilihan tetapi kita tetap satu NKRI," imbuhnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#TPS #Gerobak Sampah