Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gelaran Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta Diundur 4 Sampai 10 Maret, Pertimbangkan Keamanan Menuju Pemilu 14 Februari

Winda Atika Ira Puspita • Minggu, 11 Februari 2024 | 22:30 WIB
Plh Kepala Dinas Pariwisata DIY Anita Verawati.
Plh Kepala Dinas Pariwisata DIY Anita Verawati.

JOGJA - Pelaksanaan gelaran Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) tahun ini diundur waktunya pada 4 hingga 10 Maret mendatang. Hal ini mempertimbangkan keamanan wilayah DIY agar tetap kondusif menuju Pemilu 14 Februari.

Plh Kepala Dinas Pariwisata DIY Anita Verawati mengatakan, biasanya ada PBTY untuk memperingati Tahun Baru Imlek.

Namun, untuk memperingati Tahun Baru China itu penyelenggaraannya tak langsung dilakukan karena pertimbangkan adanya pelaksanaan Pemilu 2024 di bulan Februari ini.

"Kita sedang dalam masa menuju pemilu tanggal 14 Februari maka kegiatan PBTY ini diundur di tanggal 4 sampai 10 Maret 2024," katanya kepada Radar Jogja Minggu (11/2).

Vera menjelaskan lokasi penyelenggaraannya juga tidak lagi di Kawasan Ketandan Jogja.

Melainkan, di Hoo Hap Wee atau perkumpulan Budi Abadi Bintaran. Sehingga dipastikan acara rak semeriah biasanya, lantaran kunjungannya pun dibatasi.

"Dan acaranya diatur sehingga jumlah masa yang datang dapat dikendalikan karenatempatnya terbatas dan agar massa tidak terlalu banyak," ujarnya.

Walaupun pelaksanaannya mundur dari biasanya, pihaknya optimis masih gelaran PBTY tahun ini akan menarik wisatawan karena bertepatan dengan tradisi orang Jawa yaitu byadran sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Dia menyebut, gelaran PBTY tersebut biasanya dapat mendongkrak pengunjung kurang lebih sekitar 9 sampai 10 ribu wisatawan per hari. Pelaksanaannya terselenggara selama 15 hari.

"Selain itu karena bertepatan dengan tradisi Nyadran dimana banyak warga asal DIY yang merantau pulang mengunjungi makam leluhurnya, sehingga kami garapkan event ini dapat menarik lebih banyak pengunjung," jelasnya.

Selain itu, seiring memasuki masa era digitilasasi maka instansi ini melakukan promosi masif melalui media sosial Visiting Jogja.

Setiap bulan selalui diinformasikan event yang ada di wilayah DIY. Sehingga, bisa menambah kunjungan ke destinasi di DIY.

"Dan destinasi-destinasi yang hidden gem yang belum banyak dikunjungi oleh wisatawan kami promosikan," tambahnya.

Terpisah, Wakil Ketua Jogja Chinese Art Culture Center (JCACC) Jogja Jimmy Sutanto mengatakan, penundaan PBTY sejatinya merupakan rekomendasi dari 14 organisasi masyarakat Tionghoa.

Hal ini melihat dari sisi keamanan menjelang kontestasi Pemilu pada 14 Februari mendatang.

"Melihat dari sisi kemanan khawatir kalau terjadi apa-apa diluar kemampuan kita. Itu (PBTY) ditiadakan. Tapi dari dinas pariwisara justru menyisihkan dana untuk tetap menyelenggarakan tapi di momen setelah pemilu," katanya yang menyambut baik.

Jimmy yang juga Ketua Perhimpunan Fu Qing Jogjakarta itu memastikan perayaannya yang diundur ke bulan Maret dipastikan tak semeriah biasanya.

Di mana, perayaan yang biasa dilaksanakan di Kawasan Kentandan bisa dikunjungi masyadakat dengan jumlah puluhan ribu per harinya. Pun sepanjang kawasan Ketandan dipenuhi ratusan stan.

"Besok tempatnya terbatas, nggak mungkin lebih rame, berkurang. Perayaannya kalah, tapi setidaknya dirayakan," jelasnya.

Adapun, perayaan PBTY ini sudah terselenggara sejak 2006 silam. Gelaran yang sudah 18 tahuan eksis itu tak hanya warga Tionghoa saja yang terlibat.

Melainkan seluruh pihak, pemerintah, akademisi, masyarakat dan lain sebagainya. Even ini sejatinya dibentuk awalnya sebagai upaya untuk membentuk Jogja sebagai city of tolerance.

"Sehingga Jogja terkenal aman dan rukun. Kali ini kami meniadakan mempertimbangkan tidak mampu menjaga keamanan 100 persen beriringan dengan Pemilu 2024," tambahnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#PBTY #pemilu 2024 #Imlek