JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mencatat perekonomian DIY pada triwulan IV tahun 2023 berhasil tumbuh positif mencapai 5,07 persen pertumbuhan kumulatif (C-to-c). Capaian ini tertinggi dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa.
Kepala BPS DIY Herum Fajarwati mengtakan, lebih dari setengah perekonomian Indonesia pada tahun 2023 masih terpusat di Pulau Jawa sebesar 57,05 persen, dengan pertumbuhan kumulatif (c-to-c) sebesar 4,96 persen.
“Perekonomian pulau Jawa menyumbang pertumbuhan ekonomi sebesar 2,91 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk ekonomi DIY tahun 2023 secara (c-to-c), secara (y-on-y), dan secara (q-to-q) semuanya mengalami pertumbuhan positif. Artinya, perekonomian DIY masih bagus secara pertumbuhan,” katanya Senin (6/2).
Herum menjelaskan secara (C-to-C) menyusul DIY ekonomi Jawa Barat tumbuh 5,00 persen, Jawa Tengah 4,98 persen, DKI Jakarta 4,96 persen, Jawa Timur 4,95 persen dan Banten 4,81 persen.
Besaran pertumbuhan ekonomi DIY secara (y-on-y) sebesar 4,86 persen. Angka tersebut diraih berdasarkan capaian triwulan IV Produk Domestic Regional Bruto (PDRB) pada tahun 2022 Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) sebesar Rp 28,99 triliun yang meningkat menjadi Rp 30,40 triliun pada triwulan IV 2023.
Sementara secara (q-to-q), perekonomian DIY triwulan IV tahun 2023 tumbuh sebesar 2,90 persen, dibandingkan pada triwulan III tahun 2023 yang hanya 0,22 persen. Dimana pada triwulan III 2023 ADHK PDRB DIY sebesar Rp 29,54 triliun, naik menjadi Rp 30,40 triliun pada triwulan IV 2023.
“Dengan demikian secara kumulatif pertumbuhan ekonomi DIY triwulan I hingga triwulan IV tahun 2023 kalau kita bandingkan dengan triwulan I hingga triwulan IV tahun 2022, tumbuh 5,07 persen (c-to-c),” ujarnya.
Adapun struktur perekonomian DIY triwulan IV tahun 2023 secara (c-to-c), kontribusi tertinggi yakni berasal dari 5 lapangan usaha.
Di antaranya, industri pengolahan 11,82 persen, pertanian 10,23 persen, akomodasi dan makanan minuman 10,18 persen, infokom 10,06 persen, dan konstruksi 9,43 persen.
Lima lapangan usaha yang paling dominan tersebut telah menyumbang 51,72 persen terhadap perekonomian DIY.
“Pertumbuhan ekonomi 2023 ini cukup solid dimana seluruh lapangan usaha tumbuh positif pada tahun 2023 secara (c-to-c)," jelasnya.
Menurutnya, ada dua lapangan usaha yang mampu tumbuh mencapai 2 digit yaitu lapangan usaha jasa keuangan tumbuh 10,29 persen kemudian transportasi dan pergudangan tumbuh 10,27 persen.
Pertumbuhan tertinggi ketiga adalah akomodasi dan makanan minuman yang tumbuh 8,72 persen.
Dari capaian pertumbuhan ekonomi DIY triwulan IV 2023 sebesar 5,07 persen, sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi DIY tahun 2023 menurut lapangan usaha secara (c-to-c) yaitu dari penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 0,79 persen.
"Sumber pertumbuhan kedua ialah infokom sebesar 0,70 persen, kemudian industri 0,49 persen, transportasi 0,48 persen, dan kelompok lapangan usaha lainnya memberikan andil 2,61 persen," terangnya.
Selain itu, dari sisi pengeluaran seluruh komponen pengeluaran pada triwulan IV 2023 ini secara (c-to-c) mengalami pertumbuhan positif.
Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit (LNPRT) dan PMTB.
LNPRT ini tumbuh tinggi didorong dengan adanya persiapan kampanye yang dilakukan oleh partai politik juga para calon legislatif yang melakukan berbagai upaya.
Sehingga hal ini menggerakkan perekonomian menjelang penyelenggaraan pemilu pada awal tahun 2024.
"Sementara peningkatan PMTB didorong oleh beberapa pelaksanaan proyek pembangunan yang masih dan baru dimulai,” tambahnya.
Lebih lanjut, terkait struktur dan pertumbuhan PDRB menurut lapangan usaha triwulan IV 2023 secara (y-on-y), lima lapangan usaha penyumbang perekonomian DIY yaitu industri pengolahan 11,74 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum 10,92 persen, konstruksi 10,33 persen, infokom 9,90 persen, dan pertanian 8,56 persen.
Lima lapangan usaha tersebut mampu menyumbang perekonomian DIY mencapai 51,45 persen.
Sedangkan, pertambangan dan penggalian menjadi satu lapangan usaha yang mengalami kontraksi pertumbuhan.
Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas, dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit.
“Untuk sumber pertumbuhan ekonomi DIY triwulan IV 2023 secara (y-on-y) yang terbesar di sumbang oleh penyediaan akomodasi dan makan minum dengan sumbangannya sebesar 0,99 persen dari 4,86 persen. Yang kedua adalah konstruksi 0,77 persen, kemudian infokom 0,59 persen, dan keempat adalah industri 0,41 persen serta dari kelompok lapangan usaha lainnya sebesar 2,10 persen,” imbuhnya.
Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (Biro APSDA) Setda DIY Yuna Pancawati mengatakan, angka pertumbuhan ekonomi yang berhasil dicapai DIY tersebut mencerminkan upaya kerja keras dan juga kebijakan yang tepat dalam mendukung sektor-sektor vital.
Lima lapangan usaha yang menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi tertinggi DIY patut diapresiasi atas kontribusinnya yang positif dan cukup bagus.
“Namun tentunya kesuksesan ini tidak bisa dijadikan alasan untuk berhenti berinovasi dan juga berkolaborasi, yang selalu kita dengungkan bersama berkolaborasi, bersinergi, dan juga berinovasi bersama-sama," katanya.
Pihaknya akan terus bekerja keras untuk meningkatkan daya saing ekonomi di daerah dan menciptakan berbagai lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Yuna pun mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga momentum positif ini dengan terus bergandengan tangan berinovasi.
"Juga turut bekerja keras demi mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif bagi semua lapisan masyarakat," tambahnya. (wia)