JOGJA - Menjelang perayaan Imlek 2024 banyak tradisi-tradisi unik etnis tionghoa dilakukan. Salah satu yang menjadi tradisi tersebut adalah hadirnya makanan khas setiap perayaan Imlek yaitu Kue Keranjang. Tradisi mengonsumsi Kue keranjang ditujukan kepada Dewa Dapur (Zao Jun).
Dalam mitologi Tiongkok, Zao Jun adalah dewa pelindung tungku perapian (dapur). Zao Jun dipercaya akan kembali ke langit setiap Imlek untuk melaporkan mengenai aktivitas penghuni rumah selama satu tahun. Laporan tersebut akan menjadi pertimbangan untuk pemberkatan atau malah menghukum penguhuni rumah tersebut.
Baca Juga: Cantik, Batik Jumputan Hasil Karya P5P2RA Madrasah Aliyah Darul Mushlihin Bantul Ini
Kue Keranjang bagi kepercayaan Tri Dharma merupakan makanan yang bukan sembarangan. Kue keranjang memiliki makna filosofi yang berkaitan dengan Dewa Dapur.
"Dewa dapur tugasnya mencatat amal dan baik manusia di bumi, jadi (karakter) kue keranjang yang lengket itu mempunyai makna agar Dewa Dapur tidak menceritakan amal keburukan atau dosa-dosa kita saat menuju ke langit," ujar salah satu penganut kepercayaan Tri Dharma di Kota Jogja, Alfin Hermanto kepada Radar Jogja, Senin (05/01/2024).
Baca Juga: Juara 1 Lomba Bikin Orang Baper Film Pendek, SMK Muspla Gunungkidul Maju Olympicad Tingkat Nasional
Kue keranjang memang dikhususkan hanya di konsumsi saat momen Imlek. Selain itu, kue keranjang juga merupakan simbol penentu kerukunan yang ditujukan kepada Dewa Dapur.
"Adanya Kue keranjang itu supaya keluarga kita lebih rukun. Kepercayaan itu menjadi tradisi turun temurun dari nenek," tuturnya.
Keluarga Alfin selalu membeli kue keranjang saat momen Imlek. Selain itu, keluarganya juga sering diberi bingkisan kue tersebut dari saudara ataupun temanya.
Baca Juga: Duh Bangjo dalam Kondisi Fless, Mobil Hantam Motor di Wonosari
"Itu memang makanan khas Imlek, kalau makanya sih bebas tidak perlu ada prosesi khusus," tandasnya.
Keluarga Alfin mempunyai tradisi mengonsumsi Kue Keranjang semalam sebelum Imlek atau 15 hari setelah Imlek. Hari Imlek sampai 15 hari kedepan (Cap Go Meh) mereka tidak boleh memakan kue keranjang.
"15 hari setelah Imlek itu tidak boleh makan Kue Keranjang, setelah Cap Go Meh baru boleh makan," tandasnya.
Baca Juga: Digandeng Dua E-commerce Besar, GKRBAy Adipati Paku Alam X Ingin Batik Yogyakarta Makin Laris
"Alasanya ya karena mungkin di 15 hari itu biar lebih fokus melakukan persembahan kepada Para Dewa. Tradisi di keluarga saya seperti itu," imbuhnya.
Menurut Alfin, Imlek merupakan tradisi hari raya suku Tionghoa. Imlek lebih pada tahun baru China sehingga seluruh masyarakat Tionghoa merayakannya.
"Jadi bukan hanya perayaan di agama tertentu, tetapi semua agama karena banyak yang Kristen Katholik dan sebagainya. Saya sendiri Budha Tri Dharma," jelasnya. (oso)