JOGJA - Kelurahan Terban, Jogja setiap tahun selalu menyelenggarakan tradisi Rejeban. Tradisi tersebut bertujuan untuk melestarikan kebudayaan lokal dan menziarahi tokoh cikal bakal kampung Terban.
Gelar Budaya Rejeban Kelurahan Terban diselenggarakan dengan berbagai rangkaian acara. Karena Kampung Terban merupakan Kampung Budaya, ada banyak sekali agenda gelar budaya dalam satu tahun.
Baca Juga: Jelang Imlek 2024, Yayasan Fuk Ling Miauw Jogja Gelar Pembersihan Altar dan Rupang Kim Sin pada Momen Paradewa Naik ke Khayangan
"Kalau bulan Rejeb ya Rejeban, Bulan Rumah ya Ruahan nanti ada lagi Saparan. Nah kebetulan ini bulan Rejeb, kita mengadakan Gelar Budaya Rejeban," ujar Ketua Panitia Acara Gelar Budaya Rejeban Kelurahan Terban, Agus Hirayanto
Dalam acara Gelar Budaya Rejeban, rangkaian acara dimulai dari giat bersih-bersih makam cikal bakal atau tokoh Kelurahan Terban. Ada tiga makam yang dinilai sebagai makam tokoh atau cikal bakal kampung Terban.
Baca Juga: Hendak Siarkan Berita Lelayu di Masjid Kawasan Imogiri Bantul, Malah Mendapati Maling Uang Kotak Infaq
"Makam Purbonegaran, Carang Soka dan Makam Bendo," jelasnya.
Ketiga makam tersebut menurut sejarahnya merupakan pendiri dari Kampung Terban. Kyai Purbonegoro adalah pendiri kampung Purbonegaran yang saat ini menjadi Kelurahan Terban.
"Di makam Bendo terdapat makam Kyai Syah dan Nyai Syah dan yang satunya adalah Kyai Carangsoka di makam Carangsoka," tandasnya.
Baca Juga: Puncak Musim Penghujan di Februari, Awal Bulan Belasan Rumah di Gunungkidul Terdampak Bencana Hidrometeorologi
Setelah melakukan ziarah di makam-makam tersebut, acara dilanjutkan dengan kirab budaya. Dalam kirab budaya tersebut dilakukan dengan mengelilingi Kelurahan Terban oleh masyarakat yang dibarengi dengan pembawaan gunungan dan tumpeng oleh Bregodo Kelurahan Terban.
"Gunungan tersebut berisi hasil bumi seperti sayuran yang nantinya akan di rayah oleh seluruh peserta dan masyarakat," bebernya.
Baca Juga: Warga Bambanglipuro Bantul Ditemukan Tewas di Dalam Sumur Sedalam 17 Meter
Penggantian kain kafan di nisan makam-makam tokoh tersebut juga dilakukan dalam giat ziarah kubur. Selain itu, doa bersama juga dipanjatkan dalam giat tersebut.
"Hal tersebut untuk mendoakan leluhur Kelurahan Terban sekaligus untuk refleksi bagi masyarakat bahwa pada saatnya kita akan menyusul mereka," tandasnya.
Baca Juga: Megawati Ganas Sumbang 31 Poin, Red Sparks Putus Tren tak Terkalahkan Hyundai Hillstate
Sementara itu Ketua Lembaga Kebudayaan Terban (LKT), Dwi Praptadji menambahkan acara selanjutnya merupakan pentas sholawatan dan singiran juga menjadi acara yang di konsep oleh panitia sebagai wadah untuk memanjatkan puji pujian kepada Allah dan Rasulnya.
Acara ditutup dengan pentas seni yang diisi oleh segenap kesenian rakyat masyarakat Kelurahan Terban.
Baca Juga: Di Antaranya Bahas Isu Krusial dalam Penghitungan Suara, Bawaslu Bantul Gelar Pelatihan Saksi Pemilu 2024
"Masyarakat yang punya potensi kesenian akan tampil dalam panggung kesenian. Setelah selesai segenap masyarakat melakukan Dahar Kembul atau makan bersama," bebernya.
Acara tersebut merupakan wadah untuk melestarikan kebudayaan khususnya masyarakat Kelurahan Terban. Selain itu, harapan baik dalam bulan baik juga menjadi latar belakang acara tersebut terselenggara.
"Rejeban atau bulan Rejeb dalam islam merupakan bulan baik yang di istimewakan. Jadi ada unsur kebudayaan dan unsur keagamaan menjadi satu dalam acara tersebut," pungkasnya. (oso)