RADAR JOGJA - Sebanyak 20 siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jogjakarta dilibatkan dalam haul dan peringatan ke-99 tahun seniman sekaligus maestro perupa Saptohoedojo. Para siswa siswa itu mengikuti diskusi bertajuk "Dialog dan Kegiatan Seni Rupa Kaum Milenial" hingga melukis sketsa suasana diskusi.
Diskusi diisi oleh mantan kepala SMSR Rahmat. Dalam diskusi itu ia menceritakan bagaimana spirit Saptohoedojo saat berjuang dalam berkarya. "Kegigihan dan kreativitas yang luar biasa seorang Saptohoedojo dalam berkarya patut dicontoh untuk anak-anak calon seniman generasi sekarang," ujarnya kepada wartawan kemarin (2/2).
Ia menceritakan, pada usia 22 tahun Saptohoedojo merantau ke Malaysia tanpa modal walaupun dirinya keturunan ningrat. Meski ayahnya dokter di Keraton Solo, ia tidak mau dimanjakan oleh harta orangtuanya. "Ia ke Malaysia untuk menimba ilmu dan mencari pengalaman perihal dunia seni rupa," jelasnya.
Setelah bertahun-tahun hidup sederhana di Negeri Jiran, bahkan tidur di emperan toko, akhirnya Saptohoedojo menemukan salah satu pelanggan yang terkesan dengan hasil lukisannya. Hingga pada akhirnya lukisan itu dipamerkan di salah satu event pameran di Malaysia.
"Banyak yang menyebut Pak Sapto adalah pelukis realis. Tapi kenyataanya dia juga mencoba instalasi dengan merakit pesawat, mesin cetak, dan sebagainya. Beliau punya taste yang tinggi. Tidak hanya puas bermain di media kanvas, tetapi juga di kriya, arsitektur dan batik," tambahnya.
Riwayat karir Saptohoedojo itu diceritakan dengan tujuan agar para calon seniman muda yang hadir dalam acara itu dapat mencontoh semangat dan spirit Saptohoedojo dalam terjun ke dunia seni. Terlihat para siswa fokus dalam mendengarkan diskusi dan melukis sketsa pada kertas maupun handphone.
Sementara itu, istri almarhum Saptohoedojo, Yani Sapto Hudoyo menambahkan, hasil dari sketsa lukis siswa nantinya akan diberikan kepada dia sebagai kenang-kenangan. "Nanti akan saya pilih dan yang paling bagus akan saya pigura dan pajang di Museum Saptohoedojo ini," tuturnya.
Yani bercerita, suaminya Saptohoedojo semasa hidup selalu mengundang siswa-siswa sekolah di Jogjakarta untuk kunjungan dan pemberian pembelajaran, bagaimana menjadi seniman dan menghargai budaya Indonesia. Hal itu menjadi agenda rutin yang diadakan Saptohoedojo sebagai dedikasinya dalam dunia seni rupa. "Setiap hari Minggu, siswa-siswa disuruh datang ke sini dan akan diberikan ceramah kesenian oleh Pak Saptohoedojo," ungkapnya.
Dari kegiatan ini, Yani berharap agar terbangun jembatan hubungan batin yang kuat untuk menyatukan antara senior seni rupa yang sudah mendunia, Saptohoedojo, dengan para juniornya. Lahirnya seniman muda untuk melanjutkan kiprah seni rupa Indonesia atau Jogja khususnya di tingkat dunia, diharapkan bisa lahir.
Dalam rangkaian haul Saptohoedojo ini, juga akan diselenggarakan ziarah para seniman di Makam Girisapta, Imogiri, Bantul. Acara itu akan dilaksanakan Selasa (6/2) mendatang. (oso/laz)
Editor : Satria Pradika