JOGJA - Pelaksanaan pemilu 2024 tinggal menghitung hari atau dilangsungkan pada 14 Februari 2024 mendatang. Kurang dari sebulan pagelaran, kampanye masih intens dilakukan para calon di banyak daerah. Termasuk, di DIY.
Khusus kampanye atau kunjungan capres ke DIY, ekonom UAJY Y. Sri Susilo menyoroti fenomena yang cukup menarik.
Yakni, DIY jadi salah satu daerah yang cukup rutin dikunjungi segenap capres.
Sri memaparkan, ada beberapa faktor penting yang melatarbelakangi masifnya kunjungan para capres ke DIY.
Itu mulai dari faktor adanya Sultan Hamengku Buwono X hingga banyaknya perguruan tinggi yang tersebar di DIY.
"Hamengku Buwono X itu secara posisi tidak saja sebagai gubernur, tapi juga Sultan, itu salah satu alasan besar yang membuat para capres datang ke sini," katanya, Senin (29/1).
Ia merinci selama beberapa bulan terakhir memang para capres cukup sering mengunjungi DIY. Itu baik untuk keperluan kampanye atau beberapa agenda lainnya.
Meski bukanlah penyumbang suara yang dominan dalam pemilu, menurutnya, DIY tetap punya kontribusi positif. Ditambah pula, dengan historis DIY yang juga kuat.
"Secara elektoral suara di DIY tidak terlalu besar, tapi banyak faktor lain, salah satunya juga banyaknya kampus dan mahasiswa," paparnya.
Sri memaparkan, kampanye capres di DIY yang menyasar para mahasiswa dinilainya adalah langkah yang cukup efektif dilakukan.
Dia menuturkan, para mahasiswa secara umum memang suka metode kampanye yang bersifat diskusi atau dialog umum.
"Kampanye menyasar mahasiswa itu efektif, capres sadar banyak dari mereka itu new voters dan swing voters," tandasnya.
Sebelumnya, dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM Arga Pribadi Imawan menyampaikan, dari pantauannya para mahasiswa memang memiliki kecenderungan untuk lebih senang terlibat dalam metode kampanye yang sifatnya diskusi atau debat terbuka.
"Seperti Desak Anies, itu metode kampanye yang juga banyak disukai anak-anak muda dan mahasiswa," bebernya.
Dikatakannya, metode debat terbuka juga jadi ajang kampanye yang cukup efektif dan relevan untuk menempatkan posisi anak-anak muda sebagai partisipan aktif.
Sebab, mereka bisa melakukan diskusi dan tanya jawab secara langsung.
Metode debat terbuka, disebut Arga, juga cukup inovatif karena pada momentum pemilu sebelum-sebelumnya tidak atau belum dilakukan.
"Debat terbuka ini jadi metode baru, yang refreshing dan menarik untuk semua kalangan," ungkapnya. (iza)
Editor : Amin Surachmad