Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pejalan Kaki Masih Belum Dapatkan Hak Sepenuhnya

Agung Dwi Prakoso • Selasa, 23 Januari 2024 | 16:45 WIB

 

Nyeberang di Zebra Cross, Diklakson Marah
Nyeberang di Zebra Cross, Diklakson Marah

RADAR JOGJA - Memperingati Hari Pejalan Kaki Nasional (HPKN) 2024, Komunitas Pedestrigan Jogja menggelar acara bertajuk "Wayahe Mlaku ing HPK 2024". Agenda berjalan kaki menyusuri jalur pedestrian di Jalan Magelang itu mengusung isu tentang hak-hak pejalan kaki dan sindiran terkait pemasangan alat peraga kampanye (APK) yang sering menutup akses pejalan kaki.

"Tagar itu kami usung untuk sindiran kepada para caleg dan capres-cawapres yang selalu dekat dengan pejalan kaki. Dekat itu dalam artian baliho (APK) yang selalu dekat (di jalur pedestrian). Saking dekatnya sampai sering menutup akses," ujar Koordinator Komunitas Pedestrian Jogja Abiyyi Yahya Hakim di sela aksi kepada Radar Jogja kemarin (22/1).

Penentuan HPKN tak bisa dilepaskan dari tragedi naas 12 tahun lalu. Pada hari Minggu (22/1/2012) siang, sembilan pejalan kaki tewas dalam kecelakaan di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Kesembilan korban itu tertabrak oleh kendaraan mobil saat sedang berjalan kaki di jalur pedestrian. "Maka dari itu HPKN menjadi salah satu hari yang bertujuan untuk mengenang tragedi tersebut," tuturnya.

Selain itu, kegiatan yang diprakarsai oleh Komunitas Pedestrian Jogja itu juga bertujuan untuk menyuarakan hak pejalan kaki yaitu posisi mereka di antara pengguna jalan lain. Budaya jalan kaki juga dianggap mulai tergerus, maka dari itu acara itu dinilai penting untuk diadakan. "Budaya jalan kaki  untuk mengurangi kemacetan, mengurangi polusi dan emisi. Isu itu sangat relevan terus digaungkan," bebernya.

Dalam agenda itu mereka menyusuri trotoar di Jalan Magelang dan menakar keamanan penyebarangan di jalan tersebut. "Pemaparan hasil Rapor Trotoar 2023 untuk Kota Jogja, Kabupaten Sleman dan Bantul juga akan kami laksanakan,"  tandasnya.

Aspek spesifik yang paling disuarakan oleh Komunitas Pedestrian Jogja adalah aspek penyeberangan. Ia menilai penyeberangan merupakan wilayah abu-abu antara kendaraan dan pejalan kaki, maka perlu menjadi fokus perhatian.

"Halte Trans Jogja kawasan depan gedung TVRI perlu untuk diberikan zebra cross untuk pejalan kaki, karena merupakan pemberhentian angkutan umum," ujarnya.

Di daerah Karangwaru mereka menemukan zebra cross yang sudah mulai pudar. Hal itu dinilai membahayakan bagi pejalan kaki. "Maka dari itu kami juga menyuarakan agar segera dilakukan pengecatan dari pihak terkait," tuturnya.

Beberapa isu yang diangkat dalam giat tersebut, di antaranya aspek keselamatan untuk pejalan kaki. Selain itu karena tahun ini merupakan tahun politik, komunitas ini mencoba mengusung tagar sindiran yaitu dekat dengan pejalan kaki dan  pilih jalan kaki.

"Narasi yang kami bawa dalam kegiatan ini selalu berkaitan dengan tragedi Tugu Tani, Jakarta Pusat, 12 tahun yang lalu," ujarnya.

Sementara itu, salah seorang peserta acara Wayahe Mlaku ing HPK 2024, Novi Rahma Ilmiati, 30, menambahkan alasan dirinya mengikuti acara itu karena memang senang berjalan kaki. Sebelumnya ia aktif mengikuti event pejalan kaki di Jogja. Selain menyehatkan, berjalan kaki baginya merupakan hal yang menyenangkan.

"Kebetulan acara tadi cuacanya pas, tidak panas dan tidak hujan. Jadi cukup nyaman dengan rute yang tidak terlalu jauh," ujarnya.

Novi menganggap acara ini berbeda dengan acara pejalan kaki pada umumnya. Acara itu dapat menambah wawasan tentang hak pejalan kaki dan pengguna jalan. "Jadi bukan sekadar untuk hiburan. Tetapi edukasi juga saya dapatkan dari perjalanan tadi,"  tuturnya.

Ia menilai zebra cross merupakan hak untuk pejalan kaki. Pengendara kendaraan bermotor harus memberikan ruang atau prioritas bagi pejalan kaki ketika melewati zebra cross. "Contohnya tadi beberapa kali kita menyebrang jalan lewat zebra cross banyak yang malah klakson-klakson terlihat marah," tandasnya.

Acara itu hanya diikuti oleh delapan orang. Hal itu menandakan masih banyak masyarakat yang tidak memberikan perhatian terhadap pejalan kaki.

Pemilihan di Jalan Magelang, jalan perbatasan antara Kota Jogja dengan Kabupaten Sleman sengaja dilakukan untuk mengetahui bagaimana kualitas jalur pedestrian antarwilayah. Dalam acara ini mereka menyimpulkan ada sebuah perbedaan antara jalur pedestrian Kota Jogja dengan Kabupaten Sleman.

"Kita bandingin (jalur pedestrian) ternyata jalur pedestrian yang masuk Kota Jogja lebih bagus dibanding jalur pedestrian Sleman. Padahal masih dalam satu jalan, yaitu Jalan Magelang,"  jelasnya. (cr5/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#pejalan kaki #zebra cross