Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Branding Jogjalan, Guyonannya Jadi Jogja lan Jajan

Khairul Ma'arif • Selasa, 23 Januari 2024 | 13:30 WIB

 

Komunitas Pedestrian Jogja, Wadahi Para Pejalan Kaki
Komunitas Pedestrian Jogja, Wadahi Para Pejalan Kaki

RADAR JOGJA - Mager alias malas gerak. Ya, jalan kaki makin ditinggalkan sebagian kalangan, terutama anak muda. Banyak yang mengandalkan sepeda motor, meski tujuannya sangat dekat. Di Jogja ada komunitas yang mewadahi para pejalan kaki. Namanya  Pedestrian Jogja (Koalisi Pejalan Kaki Jogja).

 Komunitas yang sudah berdiri sejak 2018 ini memiliki anggota dari kalangan milenial, Gen Z, hingga generasi orang-orang di atasnya. Ketua Komunitas Pedestrian Jogja Abiyyi Yahya Hakim menyampaikan, kondisi sekarang para pejalan kaki lebih sering atau cenderung menggunakan transportasi publik untuk kegiatan sehari-hari.

Tidak menggunakan kendaraan pribadi. Oleh karena itu, pembangunan berkelanjutan diperlukan untuk menunjang pejalan kaki agar aksesnya dapat tetap terpenuhi. "Trotoar bagus nyambung dengan tempat-tempat bagus, otomatis pejalan kaki menjadi bertambah," bebernya.

Hadirnya komunitas ini menitikberatkan pada keselamatan para pejalan kaki. Itu lantaran banyaknya pengguna kendaraan bermotor yang memakan hak milik pejalan kaki dengan melalui trotoar. Di Pedestrian Jogja, anggotnya banyak dari kalangan mahasiswa dan ditambah sejumlah pekerja.

Kegiatan jalan kaki di komunitas ini tidak diselenggarakan secara rutin dalam rentang waktu tertentu. Namun, Abiyyi menegaskan, komunitas sudah banyak melakukan jalan kaki hingga sekarang. Jalan kaki ditentutkan dari kesepakatan kelompok untuk menggelarnya.

"Branding kegiatan kami Jogjalan. Ada yang serius dan ada yang Jogja lan jajan," ungkapknya. Menurutnya, bila yang serius itu dilakukan dengan adanya diskusi atau aksi nyata untuk kemerdekaan jalan kaki.

Pria 23 tahun ini menuturkan, trotoar di Jogja dan sekitarnya punya jalan ikonik atau trotoarnya, tetapi di ruas-ruas jalan lainnya tidak sebagus itu. Dia mencontohkan, trotoar di Malioboro yang mumpuni tetapi di penjuru lainnya tidak seluas itu.

Menurutnya, hal itu terjadi di mayoritas kota-kota besar di Indonesia. Dia berharap, fasilitas pejalan kaki bisa diluaskan tidak hanya di titik yang itu-itu saja.

Anggota komunitas Pedestrian Jogja Aryawijaya Adiyatma menuturkan, ia ikut bergabung bukan karena senang-senang saja. Tetapi karena memang dari dulu sudah terbiasa jalan kaki. Mahasiswa UGM ini sering berjalan kaki semenjak SMA. Namun, saat di bangku perkuliahan intensitasnya berkurang.

Warga asal Jakarta ini menyebut, penurunan itu karena ada perbedaan fasilitas pejalan kaki yang dirasakannya. "Fasilitas trotoar di Jakarta sangat mendukung. Di Jogja fasilitas trotoarnya masih belum mumpuni," ungkapnya.

Dari situ dia merasa resah dengan kondisi itu. Lantas menemui Komunitas Pedestrian Jogja sehingga langsung memutuskan ikut bergabung. Semasa SMA di Jakarta sering menggunakan transportasi umum, sehingga banyak berjalan kaki.

Ditambah saat itu belum diperbolehkan mengendarai sepeda motor oleh orang tuanya. Menurutnya, tidak ada keluhan apapun dari sering berjalan kaki. Malah sebaliknya, lebih terasa menyehatkan karena banyak berjalan kaki.

Selain karena fasilitas, berkurangnya intensitas berjalan kaki pria berusia 20 tahun itu karena kepepet dengan jam kuliah. Khawatirnya tidak keburu kuliah. Dia mengajak untuk orang-orang segenerasinya bisa lebih terbiasa berjalan kaki. "Lebih sehat dibanding naik motor dan mendukung terhadap perubahan iklim, karena meminimalisasi penggunaan kendaraan bermotor," tuturnya. (laz)

 

Editor : Satria Pradika
#pedestrian #Koalisi Pejalan Kaki Jogja