Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masih Kejawen Pilih Menikah Tradisi Jawa, Manfaatkan Janur Kuning yang Penuh Filosofi

Winda Atika Ira Puspita • Minggu, 21 Januari 2024 | 07:53 WIB
SAKRAL: Pernikahan dengan tradisi Jawa.
SAKRAL: Pernikahan dengan tradisi Jawa.
 
JOGJA - Di tengah pengaruh budaya asing dan pernikahan modern yang semakin beragam, janur kuning tetap lestari di tengah masyarakat sebagai simbol budaya atau penanda adanya hajat manten di masyarakat. 
 
Salah satu yang masih melestarikan janur kuning itu adalah Lusi Suharyati. Belum lama ini, Lusi telah menikah dengan suaminya di tengah gempuran pernikahan modern gaya barat yakni tahun 2022 lalu.
 
Dia justru memilih tetap mempertahankan pernikahan dengan tradisi Jawa, yang penuh dengan nuansa budaya asli Jogja. 
 
 
"Saya dari kecil, kalau besok besar pengin jadi manten, saya lebih suka pakai adat Jawa, pakai janur manten, riasan Jawa. Karena dengan itu perempuan terlihat sangat kalem dan anggun. Keluarga saya juga masih kejawen," katanya kepada Radar Jogja Jumat (19/1). 
 
Praktis dalam pernikahannya tak luput dari penggunaan janur kuning.
 
Janur kuning digunakan beragam dekorasi, mulai dari pemasangan untuk pasang tarub, gerbang pintu masuk, kemudian untuk penjor atau umbul-umbul. 
 
Ini sebagai penanda bahwa dilokasi itu ada hajat manten atau pernikahan. Selain itu juga dipasang pada kembar mayang.
 
 
Kembar mayang adalah sepasang rangkaian hiasan dari beberapa daun, buah dan bunga. 
 
"Pertama dipasang di pintu masuk, kedua di jalan namanya penjor sebagai tanda kalau disitu ada pernikahan. Kemudian di pasang di kembar mayang juga ada janur mantennya, itu dibuat seperti ada naga-nagaan, ada pecut, ada kitiran seperti mainan anak kecil itu nanti dikombinasikan dengan dedaunan warna kuning, merah, hijau. Kemudian ditaruh diatas kelapa gading yang diukir wayang," ujar ibu satu anak. 
 
Selain itu, ada juga janur yang dipasang di atas tarub dibuat seperti mangkok berisi sesaji. 
 
 
"Kalau orang dulu percaya bahwa supaya selamat kalau orang punya hajat pasti ada banyak rintangannya. Maka dari itu harus pakai seperti sesaji dipercaya supaya selamat dan acaranya lancar," jelasnya. 
 
Dalam pernikahannya tersebut tak melibatkan wedding organizer. Terutama dalam pembuatan janur kuning untuk berbagai macam dekorasi manten.
 
Namun, pembuatannya sendiri melibatnya sesepuh atau tokoh masyarakat sekitar yang dipercaya keluarga. 
 
 
"Tidak melibatkan wo tapi mbah kaum atau sesepuh dari dusun saya termasuk ada penjor, pintu masuk, kembar mayang itu mbah kaum semua yang buat," terangnya. 
 
Menurutnya, disamping janur kuning untuk dekorasi pemilihan janur kuning karena mengandung makna filosofi yang dinilai tak bisa ditinggalkan.
 
 
Terlebih, keluarganya masih sangat kental dengan adat budaya Jawa (kejawen). 
 
"Selain buat dekorasi ya bagi saya janur kuning punya filosofis yang tidak bisa ditinggalkan apabila kita memilih adat Jawa asli. Karena kalau kita pakai adat Jogja aski harus pakai janur kuning," tambahnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad
#Janur Kuning #Budaya #kejawen