Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemimpin Seluruh Pangeran, Anak Istimewa Itu Akhirnya Naik Takhta sebagai Sultan Hamengku Buwono X pada 1989

Amin Surachmad • Selasa, 16 Januari 2024 | 20:56 WIB

ISTIMEWA: Naik takhta Sri Sultan  Hamengku Buwono X.
ISTIMEWA: Naik takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X.

JOGJA - Gubernur DIY Hamengku Buwono X viral usai menerima kunjungan Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep di Ruang Kerja Gubernur Kompleks Kepatihan Jogja.


Foto pertemuan tersebut diunggah Kaesang di Instagram miliknya.

Foto itu diperbincangkan karena terlihat HB X seakan memberikan kode tiga jari.

Baca Juga: Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi, BPBD DIY Tekankan Waspadai Longsor dan Banjir Selama Potensi Cuaca Ekstrem di DIY


Tapi, HB X membantah. Dia menegaskan saat itu menemui Kaesang sebagai gubernur DIY.


Selain sebagai gubernur DIY, Hamengku Buwono X juga raja Keraton Jogja. Dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono X dinobatkan pada Selasa Wage 29 Rejeb Wawu 1921 atau 7 Maret 1989 Masehi.

Hamengku Buwono X naik takhta menggantikan ayahnya yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang wafat pada Oktober 1988.

Baca Juga: Jelang Kampanye Terbuka, KPU Identifikasi Lokas, Cegah Gesekan Dibatasi Maksimal Sekitar Tiga Ribu Orang

Hamengku Buwono X memiliki nama kecil BRM Herjuno Darpito.

Dia terlahir sebagai putra tertua dari istri kedua yang dinikahi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX yakni KRAy Windyaningrum.

HB IX juga memiliki empat istri lain. Yakni, KRAy Pintokopurnomo, KRAy Hastungkoro, KRAy
Ciptomurti, dan KRAy Norma Nindya Kirana.

Baca Juga: Kas Hartadi Siapkan Strategi Khusus Hadapi Persiraja

Dalam buku Kronik Suksesi Keraton Jawa 1755-1989 karya Susilo Harjono, dinyatakan bahwa Herjuno merupakan anak istimewa bagi HB IX.


Herjuno diangkat menjadi pangeran pada 1974. Gelarnya KGPH Mangkubumi.


Pengangkatan ini menunjukkan bahwa dia merupakan salah satu calon penerus takhta di Keraton Jogja.

KGPH Mangkubumi pun menjadi Lurah Pangeran. Posisi itu mengemban dua makna simbolik. Yakni, pemimpin seluruh pangeran yang ada di kraton dan figur yang berpeluang menjadi putra mahkota.

Baca Juga: Melihat Wajah Baru Taman Layak Anak di Kawasan Denggung Sleman: Dahulu Gelap dan Mainan Berkarat, Kini Terang Sekaligus Menyenangkan


KGPH Mangkubumi pun sering tampil menggantikan Sultan HB IX dalam berbagai acara resmi di Keraton Jogja.

Beberapa waktu sebelum wafat, Sultan HB IX secara khusus memanggil satu per satu keempat anaknya.

Konon, pembicaraan terkait rencana Sultan HB IX untuk menobatkan putra mahkota pada akhir tahun 1988.

Baca Juga: Jelang Kampanye Terbuka, KPU Identifikasi Lokas, Cegah Gesekan Dibatasi Maksimal Sekitar Tiga Ribu Orang

Mangkubumi adalah orang pertama yang dipanggil. Setelah itu, GBPH Hadikusumo, GBPH
Hadiwinoto, dan GBPH Joyokusumo.

Sultan HB IX wafat pada Oktober 1988. Sempat muncul klaim siap yang akan naik takhta.


Hadikusumo merupakan orang kedua yang berpeluang naik takhta.

Sebab, dia adalah putra lelaki tertua dari permaisuri pertama HB IX yaitu KRAy Pintokopurnomo.

Baca Juga: Jelang Kampanye Terbuka, KPU Identifikasi Lokas, Cegah Gesekan Dibatasi Maksimal Sekitar Tiga Ribu Orang


Namun, usia Hadikusumo lebih muda dari Mangkubumi. Lebih muda sekitar enam bulan.


Lewat musyawarah keluarga, akhirnya disepakati Mangkubumi sebagai pengganti Sultan Hamengku Buwono IX.

Baca Juga: Ini Nih yang Seger- Segeeer... ! Es Tape Pak No, Murah Meriah Minuman Kesukaan Sultan ada di Yogyakarta !


Semua pangeran hadir dalam upacara penobatan Mangkubumi sebagian Sri Sultan Hamengku Buwono X.


Hadikusumo membacakan undhang. Semacam surat ketetapan mengenai Mangkubumi naik takhta.

Editor : Amin Surachmad
#sultan hb x #anak istimewa #Sultan Hamengku Buwono X #gubernur diy