Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi, BPBD DIY Tekankan Waspadai Longsor dan Banjir Selama Potensi Cuaca Ekstrem di DIY

Winda Atika Ira Puspita • Selasa, 16 Januari 2024 | 20:42 WIB
SOSOK : Kepala Satpol PP DIY Noviar Rahmad saat ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIY. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)
SOSOK : Kepala Satpol PP DIY Noviar Rahmad saat ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIY. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

JOGJA - Status siaga darurat bencana hidrometeorologi di DIY dicanangkan dari 20 Desember 2023 sampai 29 Februari 2024. Hal ini untuk mewaspadai bencana imbas cuaca ekstrem. 

Terutama, dua kabupaten yakni Kulon Progo dan Gunungkidul. Kedua wilayah itu perlu mewaspadai bencana tanah longsor serta banjir.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Noviar Rahmad mengatarkan, siaga darurat itu dicanangkan untuk seluruh kabupaten dan kota di DIY.

Ini mengingat curah hujan di Januari- Februari ini akan mulai meningkat.

"Iya (siaga darurat) tanggal 20 Desember sampai 29 Februari. Nah itu hanya meminta masyarakat untuk siaga dan waspada mengingat curah hujan di Januari Februari ini akan mulai meningkat, jadi bukan tanggap darurat, ya," katanya Senin (16/1).

Noviar menjelaskan status ini ditetatpkan untuk seluruh kabupaten dan kota di DIY. Dan seluruhnya memiliki potensi bencana hidrometeorologi.

Hanya memang, yang perlu diwaspadai terkait dengan bencana longsor 

Sebab bencana lain seperti angin puting beliung tidak bisa diprediksi. Pun prediksiksinya baru bisa dilakukan dua hingga tiga jam sebelum bencana terjadi.

"Longsor itu adalah di samping Kulon Progo di sekitar bukit menoreh juga di seputar sungai-sungai yang ada di wilayah DIY. Kemudian juga Gunungkidul itu juga potensi yang di tebing-tebing berpotensi untuk longsor," ujarnya.

Selain itu, bencana longsor juga bisa terjadi di seputatan atau sepanjang sungai-sungai yang membelah Jogja. Mulai dari Sleman sampai Bantul.

"Itu kan ada sungai, kan ada 4 sungai itu. Nah di sepanjang itu berpotensi, ada Kali Gajah Wong, Kali Code, Kali Winongo, itu semuanya berpotensi di sepanjang sungai itu adanya longsor," jelasnya.

Ditetapkannya status siaga darurat ini juga berkaitan untuk percepatan penanganan. Dalam penanganan antara siaga darurat dengan tanggap darurat dinilai berbeda.

Siaga darurat bencana penanganan dilakukan sebelum terjadi bencana, seperti mengingatkan masyarakat untuk waspada.

Sedangkan, tanggap darurat penanganan dilakukan setelah terjadi bencana.

"Nah ini misalnya kayak kemarin tiga hari tanggal 4,5,6 (Januari) itu terjadi angin kencang, jadi ratusan pohon di kawasan Bantul, Gunungkidul, Sleman, Kulon Progo itu pada tumbang. Itu salah satu bagian efek dari bencana hidrometerologi. Jadi diharapkan masyarakat untuk menebang pohon-pohon yang sudah lapuk," terangnya.

Pun berkaitan untuk anggaran darurat juga belum dibutuhkan untuk saat ini, barulah saat tanggap darurat bisa menggungakan belanja tak terduga (BTT). Sebab untuk anggaran masih bisa dilakukan oleh wilayah masing-masing.

"Kalau siaga darurat itu hanya anggaran rutin yang bisa kita pakai. Jadi selama ini masih bisa ditangani oleh masing-masing kabupaten kota kemudian juga relawan-relawan juga sudah menangani kejadian-kejadian selama bulan Januari ini," tambahnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#Cuaca Ekstrem #DIY #bencana hidrometeorologi #Siaga Darurat