Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bioskop Permata Jogja Riwayatmu Kini, Dulu Film Janur Kuning Banyak Ditonton Siswa dari Berbagai Sekolah

Khairul Ma'arif • Minggu, 14 Januari 2024 | 14:27 WIB
KENANGAN: Gedung eks Bioskop Permata di Kota Jogja.
KENANGAN: Gedung eks Bioskop Permata di Kota Jogja.
 
JOGJA - Bangunannya terletak di pusat Kota Jogja. Tepatnya, di Jalan Gadjah MadaJalan Sultan Agung.
 
Pintu sisi barat menghadap Jalan Gadjah Mada. Sedangkan tembok bagian selatan berhadapan langsung dengan Jalan Sultan Agung.
 
Bangunan itu adalah gedung eks Bioskop Permata. Dulu merupakan salah satu bioskop kondang di Jogja.
 
Sekarang sudah tidak difungsikan seperti dulu. Tak ada lagi film yang diputar untuk dinikmati masyarakat. 
 
Masa kejayaan Bioskop Permata merentang antara sekitar dekade 1970-an hingg awal 2000-an.

Mantan pekerja di Bioskop Permata Jamsuki membeberkan, minat masyarakat menurun untuk menonton film di bioskop terjadi setelah dekade 2000.
 
Dalam ingatannya, dia tidak mengetahui secara pasti kemerosotan pengunjung. Namun, yang masih teringat, hal itu terjadi ketika banyak masyarakat memiliki televisi dan VCD untuk menyetel video
 
"Dulu film Janur Kuning paling banyak penontonnya," katanya, Jumat (12/1/2024).
 
Baca Juga: Nguri-uri Kabudayan, Kalurahan Caturharjo Sleman Terus Lestarikan Budaya Gerobak Sapi, Diikuti Bajingan Hingga dari Jawa Timur

Menurutnya, Janur Kuning banyak ditonton karena saat itu sekolah digalakkan agar siswanya menonton film tersebut.
 
Otomatis kondisi itu membuat selalu ada penonton Janur Kuning tiap harinya.
 
Diingatnya, dalam sehari bisa siswa dari beberapa sekolah menonton secara bergantian.
 
Dia bertugas sebagai pemutar dan pengontrol film tentu kewalahan menuruti animonya. Film dikontrol agar tidak ada adegan mesum yang ditayangkan. 
 
Baca Juga: Poster Film Jadul Dikonsep di Jogja, Dibuat di Solo Satu Minggu

Film lain yang juga banyak penontonnya yakni Kamandanu dan Kuch-Kuch Hota Hai dari India.
 
Jamsuki masih ingat, saat dia awal bekerja biaya menonton Rp 4 ribu sampai Rp 6 ribu.
 
Jamsuki bekerja di Bioskop Permata dari 1980 hingga ditutup pada 2010. 
 
Waktu itu dia digaji Rp 150 ribu hingga Rp 700 ribu per bulan.
 
 
"Orang mulai pada punya televisi dan VCD, jadi penontonnya Bioskop Permata jadi berkurang," ungkapnya.

Menurutnya, gulung tikarnya Bioskop Permata merupakan satu-satunya di Jogja.
 
Jamsuki menceritakan, dahulu ada 22 gedung bioskop di Jogja. Namun, lambat laun lenyap karena ditinggalkan penonton.
 
Meski sudah tidak difungsikan sebagian bioskop, gedung eks Bioskop Permata terkadang masih digunakan oleh para stakeholder perfilman. 
 
Baca Juga: Kolaborasi Mata Kuliah Pancasila dan Agama, UTY Ajak Mahasiswa Hasilkan Karya Lewat Program MKWK

Pria berkacamata itu menyebut, belum lama ini ada yang menyewa gedung itu untuk keperluan perfilman.

Dia menuturkan, sejak kecil sudah ikut ayahnya yang bekerja di Bioskop Permata. Beranjak dewasa, dia melanjutkan karir ayahnya di tempat yang sama hingga berpuluh-puluh tahun.

Pria berusia 69 tahun itu mengatakan, Bioskop Permata ditutup dan tidak beroperasi lagi pada 2010
 
Dia pun berhenti bekerja di Bioskop Permata. "Setelah itu, saya sekarang buka servis alat elektronik," tuturnya. (rul)
Editor : Amin Surachmad
#Janur Kuning #Bioskop Permata #Jogja