Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Silsilah Adipati Kadipaten Pakualaman, Berawal dari Putra Sri Sultan Hamengku Buwono I

Dwi Agus. • Jumat, 12 Januari 2024 | 03:00 WIB
Photo
Photo

RADAR JOGJA - Kadipaten Pakualaman adalah daerah merdeka yang berada di sisi Timur Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sosok Adipati pertamanya, Pangeran Notokusumo, adalah putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono I. Lahir pada 21 maret 1746 dan dinobatkan sebagai Adipati Kadipaten Pakualaman pada 22 Juni 1812.

Berikut adalah silsilah Adipati yang memimpin Kadipaten Pakualaman :

K.G.P.A.A. Paku Alam I

Peristiwa pengukuhan Pangeran Notokusumo (salah seorang putra Sultan Hamengku Buwono I) sebagai Pangeran Amardiko (pangeran yang merdeka) memberi inspirasi kepada penulis Babad Betawi, Babad Pakualaman, dan Babad Giyanti mengenai titimangsa penobatan Paku Alam I di atas tahta Kadipaten Pakualaman.

Penulis babad ini menjelaskan bahwa Paku Alam I lahir 21 Maret 1746, dinobatkan pada 22 Juni 1812 yang bertepatan tanggal 11 Jumadilakir Alip 1739, dan wafat pada 19 Desember 1829.

Informasi dari ketiga babad tersebut kemudian dijadikan dasar penetapan hari jadi Kadipaten Pakualaman yang diperingati setiap 22 Juni atau 11 Jumadilakir.

Beberapa hasil karya yang tercipta pada masa Paku Alam I di antaranya adalah naskah Ambya Pegon, Sujarah Darma, dan beberapa tarian antara lain Srimpi Gandrung Winangun, Beksan Paris, dan Beksan Lawung.

K.G.P.A.A. Paku Alam II

Pergantian kekuasaan dari Paku Alam I kepada Paku Alam II merupakan suksesi yang pertama di Kadipaten Pakualaman.

Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (K.G.P.A) Paku Alam II adalah putra Paku Alam dengan permaisuri, putri Raden Adipati Purwaningrat, bupati Magetan, la dilahirkan pada 25 Juni 1786.

Nama Paku Alam II semasa kecil adalah Raden Mas Subekti dan setelah dewasa bergelar Raden Tumenggung Notodiningrat.

Setelah diwisuda sebagai pangeran, ia diberi gelar: Kanjeng Pangeran Harya Suryaningrat, bersamaan waktu dengan wisuda ayahandanya menjadi Paku Alam 1 yakni pada Senin Pon, 11 Jumadilakir 1739 atau 22 Juni 1812.

Pada usia 44 tahun K.P.H. Suryaningrat naik tahta menjadi Paku Alam II pada 4 Januari 1830.

Dengan demikian, suksesi ini berjalan wajar dan alamiah karena diturunkan dari seorang ayah kepada putra lelaki yang tertua dari permaisuri.

Beberapa hasil karya yang tercipta pada masa Paku Alam II di antaranya ialah manuskrip Sestra Ageng Adidarma, Sestradisuhul, dan Tajusalatin, serta tarian antara lain Beksan Bandabaya, Bedhaya Gandakusuma, dan Beksan Jebeng.

K.G.P.A.A. Paku Alam III

Pada 23 Juli 1858 Paku Alam II wafat dalam usia 73 tahun. Penggantinya adalah putra ke-4 Paku Alam II, Pangeran Sosroningrat.

Pada masa pemerintahannya, Paku Alam III mengembangkan tradisi bersastra di Pura Pakualaman yang benihnya sudah disemaikan oleh Paku Alam I dan Paku Alam II.

Paku Alam III- melalui para pujangga Pakualaman memprakarsai penulisan Serat Darma Wirayat, Serat Ambiya, Babad Negari Cina, Suluk Purwakanthi, dan Suryaraja.

Pada masa itu tercipta beberapa tarian, di antaranya Beksan Lawung Ageng, dan Beksan Lawung Alit. Paku Alam III juga melakukan korespondensi dengan para sastrawan Surakarta.

Paku Alam III wafat pada 17 Oktober 1864 pada usia 37 tahun.

K.G.P.A.A. Paku Alam IV

Sepeninggal Paku Alam III, Κ.Ρ.Α. Nataningrat putra almarhum K.P.A. Nataningprang yang pernah dicalonkan sebagi pewaris tahta pada tahun yang sama, ditetapkan menggantikan pamannya sebagai Paku Alam IV.

Paku Alam IV wafat pada 24 September 1878. Pada masa Paku Alam IV terjadi pertumbuhan gaya hidup baru yang menginspirasi pengembangan kesenian dan kesusastraan.

Karya sastra yang tercipta pada masa Paku Alam IV antara lain Langen Wibawa dan Sestradilaras dan lain-lain.

Karya seni tari yang tercipta pada masa tersebut ialah Beksan Floret, dan Beksan Sabel, Beksan Inum, dan lain- lain.

K.G.P.A.A. Paku Alam V

Sepeninggal Pangeran Adipati Suryo Sasraningrat (Paku Alam IV), diputuskan salah seorang putra Paku Alam II, Pangeran Ario Suryodilogo yang lahir pada 22 Juni 1833 sebagai penerusnya.

Pada 20 Maret 1883, sewaktu berusia 50 tahun, P.A.A. Prabu Suryodilogo resmi menyandang gelar K.G.P.A.A. Paku Alam V dengan pangkat kolonel dalam Generalen Staf van het Nederlandsch-Indische Leger (Staf Umum Tentara Hindia-Belanda).

Di samping itu, K.G.P.A.A. Paku Alam V juga dianugerahi medali Ridderkruis van den (Orde van) Nederlandschen Leeuw (Salib Kesatria dari Ordo Singa Belanda).

K.G.P.A.A. Paku Alam V wafat pada 9 November 1900. Beliau berjasa besar memajukan pendidikan modern bagi keluarga besarnya.

Puluhan karya sastra tercipta pada masa Paku Alam V, di antaranya ialah Baratayuda, Kadis sarta Mikrad, dan Panji Kelana Jayakusuma.

Adapun tarian yang tercipta pada masa tersebut yakni Srimpi Mangunkung dan Langen Kusuma Banjaransari.

K.G.P.A.A. Paku Alam VI

Setelah Paku Alam V wafat, la digantikan oleh putra dari permaisuri, yakni Pangeran Ario Notokusumo ke-3 sebagai Paku Alam VI.

Pelantikan Notokusumo sebagai K.G.P.A.A. Paku Alam VI pada 15 April 1901 dilaksanakan bersamaan waktunya dengan penerimaan pangkat kolonel tituler dalam Staf Umum Tentara Hindia Belanda di kantor Keresidenan Yogyakarta (sekarang: Gedung Agung).

Paku Alam VI hanya 18 bulan bertahta dan wafat karena menderita sakit. Pada masa yang cukup singkat tersebut tercipta karya sastra berupa manuskrip yang berjudul Serat Cariyos Wayang dan Menak.

K.G.P.A.A. Paku Alam VII

Pada 17 Desember 1906, B.R.M.H. Surarjaningrat (25 tahun) putra Paku Alam VI dengan permaisuri dikukuhkan sebagai penguasa baru Pura Pakualaman dengan gelar P.A.A. Prabu Suryodilogo dan pada saat berusia 40 tahun setelah melalui masa pengabdian yang berjalan tanpa cela, dinobatkan sebagai K.G.P.A.A. Paku Alam VII tanggal 10 September 1921. K.G.P.A.A.

Paku Alam VII yang sangat dicintai rakyatnya ini tutup usia pada 16 Februari 1937 pada usia 54 tahun.

Paku Alam VII dikenal sebagai seorang adipati yang cendekia dan memiliki hubungan yang baik dengan para intelektual pada masa itu.

Pada masa bertahtanya, diciptakan banyak naskah manuskrip, di antaranya Babad Pakualaman yang terdiri dari tiga jilid, Cariyos Nabi Muhammad, serta Prabu Gendrayana.

Tarian yang diciptakan pada masa tersebut juga cukup banyak, di antaranya ialah Bedhaya Tejanata, Bedhaya Pangkur, dan Srimpi Sangupati.


K.G.P.A.A. Pakua Alam VIII

Sepeninggal Paku Alam VII ditetapkan B.R.M.H. Sularso Kunto Suratno yang dilahirkan pada 10 April 1910 sebagai pengganti. la adalah putra K.G.P.A.A.

Paku Alam VII dengan permaisuri, Gusti Raden Ayu Retno Puwoso, putri Sunan Paku Buwono X di Surakarta. Dengan demikian, ia adalah cucu Paku Buwono X. B.R.M.H. Sularso Kunto Suratno dikukuhkan sebagai K.G.P.A.A. Paku Alam VIII pada 12 April 1937.

Sebelum wafat, pada 20 Mei 1998, pada puncak masa reformasi bersama dengan Sultan Hamengku Buwono X, K.G.P.A.A. Paku Alam VIII menerbitkan sebuah maklumat untuk melaksanakan reformasi secara damai yang dibacakan dalam sebuah pisowanan agung di Alun-Alun Utara Yogyakarta.

Dalam sejarah Kadipaten Pakulaman, K.G.P.A.A. Paku Alam VIII tercatat sebagai adipati tersepuh (88 tahun) dan terlama di atas tahta (61 tahun).

Berkat jasa dan perjuangannya bagi bangsa dan negara berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 96/TK/Tahun 2022 tanggal 3 November 2022, K.G.P.A.A. Paku Alam VIII dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional

Peran Paku Alam VIII dalam bidang seni, sastra dan budaya tampak pada beberapa karya yang tercipta pada zamannya.

Sejumlah beksan yang sudah lebih dari 50 tahun tidak ditarikan, pada masa Paku Alam VIII direkonstruksi, dan beliau sendiri yang bertindak sebagai narasumber sekaligus berkenan memberi arahan di saat para penari berlatih, antara lain pada beksan Bandabaya.

Adapaun kepedulian di bidang sastra, ditandai dengan kegiatan di Perpustakaan Widyapustaka berupa alih aksara atas sejumlah naskah beraksara Jawa ke aksara Latin.

Hal ini dilakukan mengingat perlunya solusi mengatasi hambatan generasi muda dalam membaca aksara Jawa.

K.G.P.A.A. Paku Alam IX

K.G.P.A.A. Paku Alam IX dinobatkan pada 26 Mei 1999.

Penobatannya dilakukan di Bangsal Sewatama. Penobatan ini merupakan penobatan pertama tanpa campur tangan kekuasaan kolonial yang dilakukan di tempat tersebut.

Penobatan K.P.H. Ambarkusumo sebagai K.G.P.A.A. Paku Alam IX dilakukan dengan sejumlah prosesi.

Salah satu prosesi dilakukan dengan kirab mengendarai kereta pusaka Kyai Manik Kumolo dengan menempuh rute sepanjang jalan utama wilayah Kecamatan Pakualaman.

K.G.P.A.A. Paku Alam IX wafat pada Sabtu, 21 November 2015 pada usia 77 tahun.

Kebijakan Paku Alam IX dalam bidang seni, terutama senitari, tampak pada upaya penggubahan sejumlah beksan dikemas sesuai zaman, antara lain Beksan Puspawarna, Beksan Manggalatama, dan Bedhaya Renyep.

Selain itu, upaya rekonstruksi tari dengan sumber naskah kuno skriptorium Pakualaman pun dilakukan, antara lain adalah Bedhaya Wilaya Kusumajana yang terinspirasi salah satu teks dan renggan dalam naskah Sestradisuhul yang ditulis pada masa Paku Alam II, serta Srimpi Nadheg Putri sebuah rekonstruksi dari naskah Langen Wibawa yang tercipta pada masa Paku Alam IV.

Adapun pada bidang sastra, selain melanjutkan upaya K.G.P.A.A. Paku Alam VIII dalam mengalihaksarakan naskah kuna, juga mengalihabahasakan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia.

Kepedulian K.G.P.A.A. Paku Alam IX terhadap kemajuan berliterasi antara lain memprakarsai terbitnya buku "Warnasari Sistem Budaya Kadipaten Pakualaman Yogyakarta" (2012).


K.G.P.A.A. Paku Alam X

K.G.P.A.A. Paku Alam X yang dinobatkan pada 6 Januari 2015 adalah putra tertua K.G.P.A.A. Paku Alam IX dan permaisuri.

Lahir pada Sabtu Kliwon, 15 Desember 1962 (18 Rejeb 1894) di Yogyakarta dengan nama Raden Mas Wijoseno Hario Bimo, yang kemudian menikah dengan Atika Purnomowati (setelah bergelar permaisuri menyandang nama G.K.B.R.A.A. Paku Alam).

Dari pernikahan ini melahirkan dua putra yaitu B.P.H. Kusumo Bimantoro dan B.P.H. Kusumo Kuntonugroho.

Kebijakan K.G.P.A.A. Paku Alam X dalam bidang penguatan literasi antara lain dilakukan melalui upaya pendigitalisasian naskah kuno, pengalihaksaraan teks serta penerjemahan sejumlah isi naskah yang dikemas dalam buku terbitan berbahasa Jawa, Indonesia, dan bahasa Inggris, salah satunya adalah buku Ajaran Kepemimpinan Asthabrata Kadipaten Pakualaman.

Di bidang seni pertunjukan, tercipta banyak beksan antara lain Puri Melati, Kusuma Mataya, Bedhaya Sidomukti, dan lain-lain.

Selain itu tercipta pula Bedhaya Nrangsmu yang merupakan visualisasi teks Piwulang Estri dari naskah kuna yang ditulis pada masa Paku Alam II dan disalin pada masa Paku Alam V. 

Editor : Bahana.
#paku alam #silsilah #pakulaman