JOGJA - Pangeran Pati Kadipaten Pakualaman Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo dinobatkan menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam (PA) X di Bangsal Sewatama Puro Pakualaman pada 7 Januari 2016.
Penobatan ditandai dengan penyematan keris pusaka Kangjeng Kyai Bontit.
Keris Kyai Bontit merupakan pusaka sekaligus simbol yang hanya berkah disematkan di pinggang Paku Alam yang bertakhta.
Setiap prosesi penobatan adipati yang berkuasa di Kadipaten Pakualaman selain ada penyematan keris Kangjeng Kyai Bontit.
Keris Kyai Bontit memiliki sejarah panjang. Sejarah yang berkaitan erat dengan Kasultanan Yogyakarta.
Dalam sebuah kesempatan, Pujangga Pakualaman Kanjeng Raden Mas Tumenggung Mangunkusuma menyatakan, keris Kyai Bontit memiliki hubungan erat dengan keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek.
Keris Kyai Kopek merupakan keris pusaka yang hanya dimiliki oleh Sri Sultan Hamengku Buwono yang bertakhta di Keraton Yogyakarta.
Keterkaitan keris Kyai Bontit dan Kyai Kopek dapat dirunut hingga masa Pangeran Mangkubumi berkuasa. Pangeran Mangkubumi kemudian dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Di akhir masa kepemimpinannya, Hamengku Buwono I mewariskan dua keris pusaka pada dua anaknya.
Keris Kyai Kopek diserahkan kepada Hamengku Buwono II. Keris Kyai Kopek tersebut memiliki pendamping yakni keris Kyai Bontit.
Sedangkan keris Kyai Bontit diserahkan kepada Pangeran Notokusumo. Pangeran Notokusumo kemudian dinobatkan dengan gelar Adipati Paku Alam I.
Keris Kyai Bontit disimpan oleh Paku Alam yang bertakhta. Keris itu sangat terpelihara.
Mangunkusuma mendeskripsikan keris itu memiliki dhapur sabuk inten dengan 13 lekukan atau luk.
Pada bagian bilahnya terdapat pamor atau motif beras wutah.
Sedangkan warangka atau sarungnya lebih panjang dari keris pada umumnya. Hal ini keris Kyai Bontit dapat disematkan di pinggang.
Editor : Amin Surachmad