JOGJA - Putra bungsu KGPAA Paku Alam X yakni Bendara Pangeran Harya (BPH) Kusumo Kuntonugroho dan mempelai putri Laily Annisa Kusumastuti menjalani prosesi panggih setelah melangsungkan akad nikah pada Senin pagi (10/1).
Dalam prosesi panggih dilangsungkan pada pukul 10.00 hingga 11.00, di Bangsal Sewatama Pura Pakualaman.
Kedua mempelai dipertemukan untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri.
Dalam prosesi panggih ini mempelai wanita dan mempelai pria menggunakan busana paes ageng, yang biasa dikenakan dalam upacara pernikahan dalam kerajaan Jawa.
"Panggih mempertemukan dua mempelai laki-laki dan perempuan setelah pertama putri yang bersangkutan terlebih dahulu sinengker sejak dua hari lalu. Disengker di Kepatihan ditemani anggota keluarga sebelum akad nikah berlangsung mereka tidak diizinkan bertemu baru setelah akad selesai mereka dipertemukan dalam upcara Panggih," kata Pranatan Lampah-lampah Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) Widyo Hadiprojo di Media Center Rabu siang (10/1).
Prosesi panggih ini disebut memenuhi syarat karena mempelai kakung BPH Kusumo Kuntonugroho tengah menyelesaikan studi S3 di Osaka University Jepang.
Sementara mempelai putri Laliy Annisa Kusumastuti yang dipersunting putra bungsu Adipati Pakualaman merupakan dokter.
Saat ini Laily sedang menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM.
"Sehingga upacara panggih ini mempertemukan keduanya yang sudah lama tidak dijumpakan," ujarnya.
KMT Widyo Hadiprojo menjelaskan upacara panggih diawali oleh tarian Dirbolo Singkir, ada 4 peraga Dirbolo Singkir.
Dirbolo Singkir seperti beruang membersihkan ansir-ansir jahat agar dalam memulai kehidupan baru sepasang penganten dijauhkan dari perbuatan-perbuatan jahat.
Selain itu, selalu mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Dirbolo Singkir merupakan tarian khas kerajaan Pakualam yang hanya ditampilkan pada momen khusus di lingkungan Kerajaan Pakualaman.
"Tadi dirbolo singkir yang perempuan diparingi janur disanggulnya. Melalui simbol janur semoga saja penganten selamat dan melalui dirbolo singkir memohon kepada Tuhan agar disingkirkan yang ansir-ansir yang mengganggu," ujarnya.
Kemudian upacara ranupada menjadi tahapan selanjutnya dalam prosesi panggih di pernikahan adat Jawa.
Ranupada berasal dari dua kata yaitu ranu yang berarti air dan pada artinya kaki.
Perlengkapan yang dipakai untuk ranupada terdiri dari gayung, bokor, baki, bunga sritaman dan telur.
"Ini adegan ketika penganten perempuan mencuci kaki dinamai ranupada," jelasnya.
Tim Pranatan Lampah-lampah Dhaup Ageng Nyi Mas Tumenggung Sestrorukmi menambahkan, prosesi upacara panggih meliputi pasrah sanggan kemudian pengantin laki-laki dan perempuan menuju Tratag KD Bangsal Sewatama disertai tampilan Durbala Singkir.
Diikuti dua pasang abdi dalem pembawa kembar mayang.
"Selanjutnya kembar mayang dibawa keluar area Tratag KD Bangsal Sewatama. Prosesi selanjutnya adalah balangan gantal, ngranupada, mecah tigan, sungkeman," jelasnya.
Dalam prosesi panggih turut dilaksanakan prosesi pasrah Sanggan Sanggan atau disebut pula sanggan pamethuk.
"Dimaksudkan bahwa pengantin laki-laki sudah siap mengikuti upacara panggih, sekaligus memberitahu agar pengantin perempuan dihadirkan dalam acara panggih," terangnya.
Sementara keberadaan kembar mayang menandai bahwa pengantin laki-laki masih jejaka dan pengantin perempuan masih perawan.
Sedangkan Balangan Gantal Gantal yakni lintingan daun sirih diikat dengan benang lawe berwarna putih sejumlah tujuh.
Empat dilempar oleh pengantin laki-laki dan tiga dilempar oleh pengantin perempuan dengan kelengkapan jambe, gambir, tembakau dan injet dalam satu wadah.
Dijelaskannya, jambe yang merupakan buah lebat hasil dari pohon jambe yang menjulang tinggi lurus ke atas melambangkan orang yang berbudi luhur, berderajat tinggi, berkat kesungguhan kerja dan doa sehingga membuahkan hasil yang melimpah.
Sementara injet adalah bubuk putih merupakan hasil endapan dari proses rendaman batu yang memiliki banyak khasiat untuk kesehatan dan juga bermanfaat untuk membantu pengolahan makanan.
Injet melambangkan buah pikir yang bersih yang diperoleh melalui kontemplasi.
"Buah pikir yang jernih tersebut bermanfaat untuk menyelesaikan segala urusan baik itu di lingkungan keluarga, kerabat, maupun masyarakat," katanya.
Sedangkan buah gambir yang bermanfaat untuk menguatkan gigi serta rasanya yang semula pahit dan sepat kemudian menjadi agak manis berkat kunyahan.
Maka, buah gambir di sini dimaknai sebagai harapan agar ketika pengantin menghadapi dinamika kehidupan yang terus berputar mereka tetap tahan menderita pahit yang dipercaya akan membuahkan sesuatu yang manis di kemudian hari.
Kemudian, tembakau ialah tanaman pegunungan yang mampu bertahan dalam kondisi tanah yang ekstrim.
Tanaman ini semakin hijau, dan membaik mutunya, serta mampu bertahan hidup di musim kemarau. Tembakau digunakan sebagai pelengkap dalam berbagai sajen .
Dalam prosesi balangan gantal tembakau dimaknai sebagai harapan agar suami istri senantiasa waspada dan mawas diri sehingga akan tetap dapat bertahan hidup meski dalam suasana panas akibat serangan dari gangguan roh jahat maupun kelabilan emosi.
Daun sirih yang temu ros ‘bertemu ruasnya’ diikat dengan lawe berwarna putih yang kemudian dilempar ke pasangannya menyimbolkan dua pribadi dengan masing -masing karakternya akan mampu menyatu.
Hal ini disebabkan masing -masing pribadi telah berbekal jambe, injet, gambir, dan tembakau yang melambangkan budi luhur, kesungguhan kerja dan doa, berpikir jernih, mau berproses, serta waspada dan mawas diri.
"Kemudian Lawe putih melambangkan suatu ikatan suci agar pernikahan tetap langgeng, selamat lahir dan batin, sehingga tercapai sejahtera dan bahagia hidupnya," paparnya.
Dalam panggih tersebut turut dilakukan Ngranupada yang berarti mencuci kaki. Di sini kaki pengantin laki -laki dibasuh oleh pengantin perempuan.
"Hal ini menunjukkan bakti seorang istri kepada suami. Selain itu, air bunga setaman yang dipakai untuk mengguyur kaki dimaknai sebagai penyingkir godaan," ujarnya.
Dilanjutkan Mecah Tigan, menunjukkan adanya warna putih dan merah, yang melambangkan bercampurnya ‘wiji kakung’ dan ‘wiji putri’ yang kelak melahirkan anak dan cucu.
Busana yang dikenakan pada saat panggih bagi pengantin adalah dodot atau kampuh batik motif Indra Widagda Wariga Adi.
Dalam kain batik motif Indra Widagda Wariga Adi termuat motif Indra Widagda dipadukan dengan motif Semen Kidang.
Itu memuat harapan agar ajaran yang telah diperoleh dari orang tua dan para sesepuh dapat dijadikan pegangan hidup, sehingga mereka mampu berkelana dengan tangkas di belantara kehidupan.
Menurutnya, prosesi Panggih ini sengaja dilakukan tertutup bertujuan ingin mengembalikan kemhidmatan sebuah ritual dalam lingkungan Pura Pakualaman.
"Karena panggih ini sangat privat dan khidmat serta sakral. Paku Alam mempunyai komitmen untuk mengembalikan adat istiadat yang seharusnya," tambahnya.
Setelah Panggih, diteruskan dengan Pahargyan atau resepsi hari pertama. Resepsi hari pertama dihadiri oleh sejumlah tamu undangan VVIP dan VIP.
Mulai dari kalangan Menteri, Duta Besar, 25 Raja di Kerajaan seluruh Indonesia yang hadir, Cawapres, serta para pejabat di lingkungan pemerintahan DIY.
Adapun busana yang dikenakan oleh pengantin pada saat Pahargyan hari pertama sama dengan busana panggih yaitu dodot atau kampuh batik motif Indra Widagda Wariga Adi.
Pada kesempatan ini para tamu disuguhi dua beksan tari, yakni Bedhaya Sidamukti dan Bedhaya Kakung Indrawidagda.
Baca Juga: Terbukti Melanggar! 2.004 APK Diturunkan Paksa Oleh Bawaslu dan Satpol PP Sleman
Sementara Bedhaya Sidamukti dicipta khusus dalam rangka menyambut pernikahan putra kedua KGPAA Paku Alam X.
Beksan ini ditarikan oleh tujuh penari
putri, mencerminkan dua insan yang berjanji untuk bersatu dalam ikatan perkawinan dengan harapan kelak hidup rukun dan bahagia.
Sidamukti ‘terwujud, tercukupi segalanya dan bahagia’.
Kemudian, Bedhaya Kakung Indrawidagda, beksan ini diperagakan oleh tujuh penari putra yang mengisahkan tentang Bathara Indra.
Seorang tokoh dalam teks Asthabrata versi Pakualaman yang memiliki karakter mengutamakan pentingnya pendidikan bagi keluarga dan masyarakat. Indra Widagda "Indra yang pandai".(wia)
Editor : Amin Surachmad