Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Detil dan Makna Prosesi Siraman Adat Pernikahan Gaya Yogyakarta, Ini Dia Penjelasannya...

Dwi Agus. • Selasa, 9 Januari 2024 | 21:31 WIB
Laily Annisa Kusumastuti menjalani siraman pada Selasa (9/1) sebelum melangsungkan akad nikah pada Rabu (10/1) pagi.
Laily Annisa Kusumastuti menjalani siraman pada Selasa (9/1) sebelum melangsungkan akad nikah pada Rabu (10/1) pagi.

RADAR JOGJA - Calon mempelai perempuan Laily Annisa Kusumastuti hari ini menjalani prosesi Siraman, Selasa (9/1).

Salah satu prosesi Dhaup Ageng Pakualaman ini bermakna membersihkan diri agar menjadi bersih dan suci lahir batin.

Terlihat Permaisuri Kadipaten Pakualaman GKBRAA Paku Alam turut memandikan Laily dengan air kembang setaman.

Bicara makna, kata siraman berasal dari kata siram yang berarti mandi. Siraman adalah prosesi rnemandikan calon pengantin yang disertai dengan niat membersihkan diri.

Tujuannya agar menjadi bersih dan suci secara lahir dan batin.

Siraman biasanya melibatkan para pinisepuh atau orang-orang yang telah tua atau dituakan.

Maknanya adalah agar budi perilaku dapat dijadikan teladan karena akan diminta berkahnya. Sementara untuk jumlahnya tidak dibatasi asalkan jumlahnya ganjil.

Prosesi diakhiri dengan memecah kendi dari tanah liat oleh juru rias atau sesepuh.

Prosesi diawali dengan bunga setaman yang ditaburkan ke dalam bak air. Setelahnya air dimasukkan ke dalam pengaron atau bejana dari tanah liat sebagai tempat untuk menampung air.

Dua butir kelapa yang masih ada sabutnya diikat menjadi satu lalu dimasukkan ke dalam air tersebut.

Calon pengantin mengenakan busana siraman dengan alas kain dan bagian luar memakai kain putih, dengan rambut terurai, dijemput oleh orangtua dari kamar pengantin dan dibimbing ke tempat upacara siraman.

Turut mengiringi para pinisepuh serta petugas yang membawa baki berisi seperangkat kain yang terdiri dari sehelai kain motif grompol, sehelai kain motif nagasari, handuk dan pcdupan.

Seperangkat kain dan handuk tersebut digunakan setelah upacara siraman selesai.

Calon pengantin dibimbing dan dipersilakan duduk di tempat yang telah disediakan oleh kedua orangtua.

Diawali dengan doa orangtua calon pengantin mengawali mengguyur atau menyiram calon pengantin dengan air setaman.

Orangtua calon pengantin yang lebih dahulu mengguyur adalah ayah, kemudian ibu.

Pada saat mengguyur diiringi doa yang diucapkan dalam hati.

Pada saat mengguyur diiringi dengan menggosokkan konyoh manca warna dan landha merang kemudian diakhiri dengan guyuran tiga kali.

Upacara Siraman ini diakhiri dan ditutup oleh juru paes atau sesepuh yang ditunjuk dengan memecah kendi di depan calon pengantin dan disaksikan oleh orangtua dan para pinisepuh.

Setelah upacara tersebut berakhir calon pengantin berganti dengan mengenakan kain motif Grompol dan menutup badan dengan kain motif nagasari.

Selanjutnya dibimbing oleh kedua orangtua dan diiringi para pinisepuh menuju ke kamar pengantin. 

Editor : Bahana.
#siraman #Bak #Air #Dhaup Ageng Pakualaman #tamu