Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Biadab, Guru Konten Kreator Melakukan Kekerasan Seksual Terhadap 15 Murid SD di Jogja, Sembilan di Antaranya Cewek

Khairul Ma'arif • Senin, 8 Januari 2024 | 19:57 WIB
Penasihat korban, Elna Febi Astuti menjawab pertanyaan jurnalis di Mapolresta Jogja,  Senin (8/1/2024).   (Foto : Guntur Aga/Radar Jogja)
Penasihat korban, Elna Febi Astuti menjawab pertanyaan jurnalis di Mapolresta Jogja, Senin (8/1/2024). (Foto : Guntur Aga/Radar Jogja)

JOGJA - Dunia pendidikan Kota Jogja tercoreng di awal 2024.

Ada dugaan 15 anak SD menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh gurunya sendiri.

Aksinya dilakukan di sekolah swasta yang berada di Kota Jogja.

Atas peristiwa itu, sejumlah korban yang diwakili orang tuanya melaporkan kejadian tersebut ke Mapolresta Jogja, Senin 8 Januari 2024.

Itu berdasarkan aduan-aduan 15 anak korban yang dilakukan pencatatan.

"Ditemukan beberapa perlakuan seperti dipegang kemaluannya."

"Tidak hanya kekerasan seksual, tetapi juga kekerasan fisik yakni menempelkan pisau di leher dan di paha. Berupa ancaman dielus-elus dengan pisau," kata Elna, saat melakukan laporan di Mapolresta Jogja, Senin (8/1/2024).

Selain itu, para korban juga diajak untuk menonton video dewasa dan diajari memesan open BO di aplikasi.

Terduga pelaku, laki-laki inisial NB, 22 tahun, merupakan pengajar mata pelajaran konten kreator.

Setelah dilakukan diskusi internal, akhirnya diputuskan untuk melakukan pelaporan ke polisi.

Namun, proses untuk melakukan pelaporannya, diakui Elna, tidak mudah.

Lantaran ada dampak psikologis dari Kepsek sendiri yang memutuskan untuk melakukan laporan.

Oleh karena itu, dari kejadian November 2023, baru dilaporkan Januari 2024.

Jumlah 15 siswa SD yang menjadi korban diperkirakan rentang usianya 11-12 tahun.

Dari jumlah tersebut, sembilan cewek dan enam cowok menjadi korban.

"Kondisi psikologisnya itu yang kami cemaskan karena kan itu tidak diketahui, sekarang kami dampingi terus secara psikologis saat ini perlu asessment lebih lanjut didampingi psikolog," tambah Elna.

Kekerasan seksual yang dialami, otomatis membuat banyak korbannya mengalami trauma.

Ada yang trauma, karena ada rasa ketakutan.

"Terjadinya (kekerasan seksual) di sekolahan, baik di dalam kelas ataupun luar kelas, tapi ranahnya lingkungan sekolahan," imbuh Elna.

Laporan ke polisi dilakukan oleh Kepsek sekolah tersebut.

NB mengajar di sekolah itu baru sekitar satu tahun.

Status gurunya sudah dinonaktifkan sejak penyelidikan internal dilakukan oleh sekolah.

Para korban memberanikan diri untuk melapor karena sudah sangat tidak nyaman secara psikologis.

Tidak ada iming-iming yang dilakukan NB untuk melancarkan aksinya.

Saat diwawancarai awak media, Elna mengaku sedang melakukan tahap pelaporan ke Satreskrim Polresta Jogja.

"Sedang diproses (laporannya, Red)," tutur Elna.

Editor : Iwa Ikhwanudin
#kekerasan seksual