RADAR JOGJA - Pemerintah Kota Jogja melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja sedang memaksimalkan pelaksanaan desentralisasi pengolahan sampah. Yaitu mengelola sampah secara mandiri dan tidak lagi dialihkan ke TPA Piyungan.
Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Kota Jogja Ahmad Haryoko mengatakan, dalam pengolahan sampah nantinya akan menggunakan dua modul berupa refuse derived fuel atau RDF. Untuk diketahui, RDF ini digunakan sebagai bahan bakar pengganti batu bara yang dipergunakan untuk membuat semen.
Ia menambahkan, dalam satu modul dapat digunakan maksimal di 20 ton sampah per harinya. Namun jika ada dua modul dan dua sif per harinya. Maka bisa dimaksimalkan sampah dapat diolah sebanyak 80 ton per hari.
‘’Jika memungkinkan akan ada dua sif untuk mengolah sampah sebanyak 40 ton per hari maka diperkirakan 80 ton sampah dalam satu hari bisa diolah,” jelasnya.
Tak hanya itu, berat dari sampah juga mempengaruhi pengolahan sampah yang ada. Terutama saat ini Kota Jogja ditimpa cuaca ekstrem yang dapat mengakibatkan hujan lebat.
Hal ini berdampak pada volume sampah yang mengalami peningkatan akibat banyak sampah yang basah.
Untuk itu, dia mengajak masyarakat untuk memilah sampah agar sampah tidak terkena air hujan yang dapat mengakibatkan beban sampah yang dibuang ke TPA Piyungan semakin berat.
“Saat terkena air hujan, jumlah atau bobot sampah mengalami peningkatan. Karena kondisi sampah yang basah,” imbuhnya.
Saat ini Kota Jogja dalam membuang sampah di TPA Piyungan sangat dibatasi tidak lagi 165 ton per harinya tetapi 145 ton per harinya. Jumlah maksimal beban sampah yang dibuang ke TPA Piyungan akan terus berkurang. “Kami mengajak masyarakat untuk tetap memilah sampah dan tidak membiarkan sampah dalam keadaan basah.”ujarnya.
Selain itu, Haryoko juga mengungkapkan, dalam upaya antisipasi adanya lindi pada sampah di depo, telah diupayakan dengan penyemprotan eco enzim untuk mengurangi bau yang diakibatkan dari sampah.
Baca Juga: Minim Pendaftar, 11 Kapanewon di Sleman Perpanjang Masa Pendaftaran PTPS
Sementara itu, Penjabat Wali Kota Jogja Singgih Raharjo mengungkapkan, dengan berbagai upaya yang telah dilakukan tidak berhasil menjadi Kota Jogja zero sampah tanpa dukungan dari berbagai pihak.
Khususnya sampah bisa terus di tekan dengan terus melakukan pengolahan sampah, salah satunya dengan program Gerakan Zero Sampah Anorganik (GZSA) dan gerakan mengolah sampah dan limbah dengan biopori ala Jogja (Mbah Dirjo) yang dapat membantu menurunkan sampah yang dibawa ke TPA Piyungan.
Singgih menambahkan, program tersebut akan terus dilakukan. Selain itu juga akan mengoptimalkan TPS 3R Nitikan yang sudah beroperasi dengan maksimal.
“Pertengahan 2024 Kota Jogja akan mengelola sampah secara mandiri dengan mengoptimalkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle di Nitikan dan Karangmiri. Bahkan pengolahan sampah di Nitikan dapat maksimal hingga 30 ton per hari,”ujarnya.
Singgih menambahkan, saat ini tercatat ada 29.843 titik Mbah Dirjo yang bisa dimanfaatkan oleh warga. Untuk itu, selain sebagai perubahan perilaku di masyarakat, adanya program ini akan dapat mengurangi sampah yang dibuang. Dimana dengan memaksimalkan Mbah Dirjo Kota Jogja saat ini mampu mengurangi sampah dari rumah tangga sebanyak 50 ton per hari. (**/pra)
Editor : Heru Pratomo